Tsunoda Diprediksi Matang Tiga Tahun Lagi

Performa Yuki Tsunoda dalam sembilan balapan Kejuaraan Dunia Formula 1 2021 yang sudah berlangsung, bisa dibilang naik-turun. Sejumlah kesalahan juga dilakukannya.

Tsunoda Diprediksi Matang Tiga Tahun Lagi

Sebagai rookie, nama Yuki Tsunoda langsung menjadi perbincangan saat menjadi pembalap Jepang pertama yang berhasil merebut poin pada balap F1 pertamanya, Grand Prix Bahrain, dengan finis di P9 (2 poin), 28 Maret lalu.

Tetapi, setelah itu performa pembalap Scuderia AlphaTauri Honda tersebut sulit diprediksi. Ia mengalami kecelakaan di kualifikasi pertama (Q1) di Imola (GP Emilia Romagna) dan Paul Ricard (GP Prancis).

Terakhir, Tsunoda membuat kesalahan yang kian menegaskan dirinya pembalap debutan. Dua kali ia melibas garis putih di pitlane entry pada lomba GP Austria, 4 Juli lalu. Alhasil, ia menerima dua kali penalti 5 detik.

Performa tidak stabil Tsunoda membuatnya kini baru mengoleksi sembilan poin di peringkat ke-13 klasemen. Tsunoda hanya mampu merebut dalam tiga dari sembilan balapan yang diikuti: P9 Bahrain, P7 Azerbaijan, dan P10 Styria.

Torehan ini jauh di bawah rekan setimnya, Pierre Gasly, yang sudah mengoleksi 39 poin dan berada di peringkat kesembilan klasemen.

Kendati begitu, Prinsipal Tim AlphaTauri Fran Tost mengaku tidak terlalu khawatir melihat performa Tsunoda yang belum stabil.

Sejumlah marshal membantu Yuki Tsunoda, AlphaTauri AT02, setelah selip di kualifikasi F1 GP Prancis.

Sejumlah marshal membantu Yuki Tsunoda, AlphaTauri AT02, setelah selip di kualifikasi F1 GP Prancis.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

“Yuki berkembang sangat baik. Ia mengikuti setiap proses dan sudah di arah yang benar,” ucap Tost kepada media setelah GP Austria.   

“Anda jelas tidak bisa berharap seorang rookie langsung mengetahui segalanya sejak awal. Itulah mengapa saya selalu katakan bila pembalap muda butuh tiga tahun untuk memahami Formula 1 yang kompeks. Ditambah, F1 semakin rumit setiap tahunnya.”

Tost juga mengaku senang dengan kemampuan Tsunoda. Menurut Tost, pembalap 21 tahun itu sudah menunjukkan kecepatan alami yang fantastis.

“Ia berkembang setiap hari, sesi demi sesi. Saya cukup optimistis kami akan melihatnya menuai hasil bagus pada paruh kedua musim. Yuki juga akan sukses di masa depan,” kata Tost.

Di sisi lain, Tost menyebut, kecelakaan Tsunoda di Q1 GP Prancis – karena melibas kerb saat keluar dari Tikungan 1 dan selip ke arah dinding pembatas – menjadi contoh bagus mengapa para rookie butuh waktu untuk mengetahui kecepatan ideal di atas mobil F1.

Baca Juga:

“Di FP3, kami mengalami masalah understeer pada mobil sehingga memodifikasi sayap dan suspensi depan,” tutur Tost.

“Saat masuk Tikungan 1, mobil bereaksi melebihi dugaan Yuki. Ia lalu melindas kerb terlalu banyak. Saat itu, angin juga berubah arah sangat cepat sehingga ikut berperan atas kecelakaan tersebut.

“Anda jelas tidak bisa mengajarkan hal seperti ini kepada pembalap muda. Ia harus belajar banyak di setiap sesi kualifikasi, soal apa yang harus dilakukan di lintasan. Karena itulah pengalaman sangat penting.”

Karena faktor-faktor seperti inilah para pembalap muda pasti akan sangat kesulitan saat turun di Formula 1. Pasalnya, menurut Franz Tost, pada setiap akhir pekan balap, mereka akan menjalani kualifikasi dan sesi-sesi lain untuk kali pertama.

“Jadi, mereka harus mengetahui apa yang dilakukan di FP1, FP2, dan FP3 agar mengerti langkah apa yang harus dikerjakan. Contohnya, mereka harus tahu harus apa saat angin semakin kencang atau dari mana arah angin datang, atau trek yang semakin panas atau dingin.”  

dibagikan
komentar
Vilander Yakin Bottas Akan Tinggalkan Mercedes

Artikel sebelumnya

Vilander Yakin Bottas Akan Tinggalkan Mercedes

Artikel berikutnya

Mazepin: Sisi Teknis F1 Jauh Lebih Kompleks dari Perkiraan

Mazepin: Sisi Teknis F1 Jauh Lebih Kompleks dari Perkiraan
Muat komentar