Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia
Special feature

Upaya Sauber Matangkan Mentalitas Theo Pourchaire demi F1

Pada usia 17 tahun, Theo Pourchaire menjadi pole-sitter dan pemenang termuda di Formula 2 2021. Sosoknya segera menonjol sebagai salah satu talenta muda paling cerdas yang mendekati Formula 1. Akan tetapi, Sauber ingin memastikan sang pembalap dalam kondisi siap.

Théo Pourchaire, Alfa Romeo

Foto oleh: Alfa Romeo

Saat silly season Formula 1 berakhir pada 2021 dan grid 2022 telah terbentuk, Alfa Romeo terlambat untuk menyelesaikan line-up pembalap.

Pembicaraan dengan Andretti mengenai kemungkinan pengambilalihan Grup Sauber menunda keputusan akhir tentang siapa yang akan bermitra dengan Valtteri Bottas. Pada akhirnya, pembicaraan itu gagal. Guanyu Zhou pun menduduki kursi Alfa Romeo.

Andai tercapai kesepakatan, Colton Herta diboyong Andretti ke F1. Kendati demikian, kombinasi pengalaman Bottas serta bakat Zhou - yang didukung berbagai sponsor Cina - menjadikannya susunan pembalap ideal bagi tim.

Bottas menandatangani kontrak multi-tahunan dan akan menjadi sosok andalan Alfa Romeo untuk melangkah ke depan. Sementara bos tim, Frederic Vasseur, mengharapkan kolaborasi jangka panjang bersama Zhou yang lulus dari F2.

Namun, keputusan pembalap di masa depan mungkin tidak begitu mudah bagi Vasseur dan Sauber lantaran kehadiran Theo Pourchaire. Dengan cepat, dia menjelma sebagai salah satu talenta paling menarik dalam feeder-series F1.

Pourchaire pertama kali bergabung dengan akademi pembalap muda Sauber pada 2019, ketika masih membalap di Formula 4. Pemuda Prancis itu mengklaim gelar sebelum melangkah ke Formula 3 bersama ART Grand Prix - tim yang didirikan oleh Vasseur.

Melangkah ke F2 untuk musim 2021 pada usia 17 tahun adalah langkah besar berikutnya bagi Pourchaire. Sekali lagi memperkuat ART, dia berhasil menempati peringkat kelima klasemen akhir dengan torehan dua kemenangan, termasuk penampilan dominan di Feature Race Monako.

Gebrakan dalam balapan di sirkuit jalan raya Monte Carlo itu mengantarkan Pourchaire menjadi pole-sitter dan pemenang termuda dalam sejarah F2. Ini kemudian memicu pertanyaan, dapatkah Alfa Romeo mengambil risiko dan memberikan kesempatan bintangnya untuk ke F1 2022?

Théo Pourchaire, Alfa Romeo

Théo Pourchaire, Alfa Romeo

Photo by: Alfa Romeo

Pourchaire menikmati tes F1 pertamanya di Hungaroring pada Agustus lalu, sebagai bagian dari beberapa program privat, berada di belakang kemudi Alfa Romeo C38 2019. Kesempatan itu dimaksimalkannya.

Tetapi rupanya tak menjamin slot grid 2022. Vasseur mengatakan, bahwa terlalu berisiko untuk mempromosikan Pourchaire begitu cepat. Itu berarti dia akan menghabiskan satu tahun lagi di F2 2022 bersama ART Grand Prix.

Dalam wawancara kepada Motorsport.com, kesuksesan dan potensi Pourchare merupakan hal yang sangat menantang bagi Alfa Romeo di F1. Vasseur tidak berubah dalam pandangannya bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mempromosikan sang pembalap muda.

Sebab, masih banyak yang harus dipelajari Pourchare di kategori junior. “Saya yakin dia juga harus meningkat di beberapa area. Tapi dia sangat memahami diskusi yang terjadi. Dia orang yang pintar. Dia sangat memahami sistem dan apa yang bisa diharapkan tim dari seorang rookie di F1,” kata Vasseur.

“Situasinya sulit di F1, karena ketika Anda memulai musim, Anda memiliki enam hari tes, tiga hari per pembalap. Anda bisa menghadapi salju di Spanyol dan pasir di Bahrain, dan Anda bisa tiba di Bahrain dengan jarak tempuh nol. Kami harus mempertimbangkan semua aspek.

“Saya kira juga untuk mengelola tekanan kejuaraan akan menjadi pengalaman yang baik baginya.”

Vasseur lalu melontarkan lelucon setelah ditanya apakah Pourchaire diharapkan untuk memenangi gelar F2. Ini setidaknya adalah target logisusai performa pada 2021. Juga karena empat pembalap yang finis di depannya di klasemen musim lalu tidak kembali berlomba.

Pourchaire adalah bakat yang sangat istimewa, tetapi Vasseur dengan tegas mengatakan, ketika ditanya tentang kekhawatiran tim lain yang memburunya. “Jika mereka ingin berdiskusi dengan Theo, mereka harus berdiskusi dengan saya terlebih dahulu!,” ucapnya.

Vasseur merupakan figur berpengalaman dan kuat untuk dimiliki Pourchaire. Dia memiliki rekam jejak sebagai salah satu bos tim F1 terbaik dalam hal motorsport junior, setelah membentuk ART lebih dari 25 tahun yang lalu. Nama-nama, seperti Jules Bianchi, Esteban Ocon, Charles Leclerc dan bahkan Bottas, semuanya menikmati kesuksesan bersama ART, dengan dukungan dari Vasseur.

Vasseur tahu betul apa yang diperlukan untuk menyiapkan seorang pembalap muda untuk sukses di Formula 1, dan mengapa waktu adalah segalanya.

“F1 seperti pistol dengan satu peluru. Jika Anda melakukan kesalahan pada peluru pertama, Anda mati,” ujarnya.

Theo Pourchaire, ART Grand Prix

Theo Pourchaire, ART Grand Prix

Foto oleh: Formula Motorsport Ltd

“Anda harus melakukannya dengan benar. Saya berdiskusi dengan seseorang kemarin. Mereka menghabiskan 14 tahun hidup mereka dengan satu-satunya target untuk masuk F1. Dan itu sangat bisa dimengerti, ketika Anda berada di go-kart, ketika Anda berada di Taruna, dan mereka berusia 10 atau 11 (tahun), apa target Anda? Untuk masuk F1.

“Tetapi kemudian ketika Anda dekat dengan F1 – saya berkata pada diri saya sendiri, dan saya mengatakan kepada Theo persis sama – targetnya bukan sekadar masuk F1. Targetnya adalah masuk F1 dalam situasi yang baik, dan menjadi sukses.

“Ini adalah cerita yang sama sekali berbeda, karena jika Anda mengikuti F1, dan kemudian Anda tersingkir setelah satu tahun, itu adalah bencana besar. Tapi sekarang Anda sudah dekat dengan F1, targetnya adalah menjalaninya dengan baik di dalamnya.

“Untuk tampil bagus, Anda harus mempersiapkan diri dengan baik dari sisi fisik, pada segi teknis, mengemudi. Anda perlu mengetahui treknya.

“Ini sistem yang rumit. Jika ada sesuatu yang hilang, Anda akan mati.”

Baca Juga:

Lantaran alasan inilah, Alfa Romeo tidak ingin mengambil risiko mempromosikan Pourchaire terlalu cepat. Tidak mungkin untuk mengatakan di mana dia akan berada dalam regulasi baru, sebanyak peluang yang akan diberikannya.

Tetapi dukungan dari Zhou juga akan membantu tim untuk mendekati batas anggaran, sesuatu yang menurut Vasseur akan memberikan mentalitas berbeda bagi timnya untuk bergerak maju. Pasalnya, dia ingin membangun masa depan yang kuat dan berkelanjutan.

Untuk alasan yang sama, Sauber memainkan permainan panjang dengan Pourchaire. Kenaikan peringkatnya sangat dramatis, sedemikian rupa sehingga 2022 akan menjadi pertama kalinya dalam kariernya, di mana pembalap Prancis itu tetap mengiuti kejuaraan yang sama dalam dua musim beruntun.

Jika Pourchaire dapat mencatatkan penampilan mengesankan di F2 dan merebut titel, yang sudah pasti memicu sakit kepala bagi Vasseur, maka itu hanya akan menjadi bukti lebih lanjut tentang betapa istimewanya bakat yang dia miliki.

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Mika Hakkinen: Mercedes Tak Sepenuhnya Percaya Valtteri Bottas
Artikel berikutnya Status Pembalap Tertua F1 Untungkan Fernando Alonso

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia