Warna-warni Pembalap Rusia di F1

Resminya Nikita Mazepin direkrut Tim Haas mulai Kejuaraan Dunia Formula 1 2021, Selasa (1/12/2020) lalu, menarik perhatian publik. Bakal seperti apa kiprah pembalap 21 tahun itu mengingat selama ini pembalap asal Rusia agak kesulitan di F1.

Warna-warni Pembalap Rusia di F1

Dengan ditariknya Nikita Dmitryevich Mazepin ke Haas mulai F1 musim depan, ia akan menjadi pembalap keempat asal Rusia yang pernah turun di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia tersebut.

Sebelum Mazepin, wakil Rusia di F1 adalah Vitaly Petrov, Daniil Kvyat, dan Sergey Sirotkin. Kendati begitu, kini tinggal Kvyat yang masih bertahan di Tim AlphaTauri-Honda.

Menarik dicermati dan dinanti bakal seperti apa kiprah Mazepin jika melihat performa tiga kompatriotnya yang terbilang tidak terlalu gemilang selama berkarier di F1.

Vitaly Petrov, Hanya Tiga Musim di F1

Vitaly Petrov, Lotus Renault GP merayakan hasil finis P3 GP Australia 2013, satu-satunya podium yang direbutnya selama tiga musim turun di F1.

Vitaly Petrov, Lotus Renault GP merayakan hasil finis P3 GP Australia 2013, satu-satunya podium yang direbutnya selama tiga musim turun di F1.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Setelah menjadi runner-up GP2 (kini Formula 2) 2009, nama Vitaly Aleksandrovich Petrov langsung menarik tiga tim F1 sekaligus, yakni Sauber, Renault, dan Campos (HRT Formula 1 Team) untuk turun pada musim 2010.

Pada 31 Januari 2010, Petrov resmi ditarik Renault sekaligus menjadi pembalap Rusia pertama yang turun di Kejuaraan Dunia Formula 1. Turun di 19 seri F1 2010, Petrov hanya mampu merebut 27 poin dan berada di posisi ke-13 (P13) klasemen akhir.

Setahun berikutnya, saat Renault berganti nama menjadi Lotus Renault GP, Petrov masih dipertahankan. Petrov mengalami peningkatan dengan finis podium ketiga GP Australia 2011. Total, Petrov meraup 37 poin dan berada di P10 klasemen akhir F1 2011.

Pada 17 Februari 2012, Petrov resmi pindah ke Tim Caterham untuk menggantikan Jarno Trulli sekaligus menjadi tandem Heikki Kovalainen.

Namun, performanya langsung anjlok. Tidak mampu merebut poin dalam 20 balapan, Petrov terpuruk di P19 klasemen akhir F1 2012.

Kurangnya kecepatan sasis Caterham CT01 bermesin Renault RS27-2012 2.4 V8 saat itu – bahkan di antara tim-tim medioker – disinyalir menjadi kendala utama bagi Petrov. Hasil buruk di F1 2012 membuatnya bersama Heikki Kovaainen didepak dari Caterham.

Aktif di F1 hanya tiga musim antara 2010-2012, Petrov turun dalam 57 balapan dengan total poin 64 dan sekali finis podium.

Vitaly Petrov menjadi steward FIA pada F1 GP Portugal 2020 pada akhir Oktober lalu.

Vitaly Petrov menjadi steward FIA pada F1 GP Portugal 2020 pada akhir Oktober lalu.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Setelah tidak mendapatkan tim untuk F1 2013 membuat Petrov beralih ke ajang balap mobil turing Jerman, Deutsche Tourenwagen Masters (DTM) pada 2014. Namun, Petrov tidak mampu merebut poin dari 10 balapan sehingga finis paling buncit di klasemen akhir.

Sejak 2016, Petrov mencoba berbagai ajang balap mobil ketahanan. Sebut saja FIA World Endurance Championship, 24 Hours of Le Mans, European Le Mans Series, dan Blancpain GT Series Endurance Cup.

Hasil terbaik Vitaly Petrov di ajang balap ketahanan adalah P3 di 24 Hours of Le Mans - LMP2 2016 dan 24 Hours of Le Mans 2019.   

Daniil Kvyat, Pembalap Rusia Tersukses di F1  

Daniil Kvyat, AlphaTauri, menjadi pembalap dengan torehan terbaik asal Rusia di F1 sejauh ini.

Daniil Kvyat, AlphaTauri, menjadi pembalap dengan torehan terbaik asal Rusia di F1 sejauh ini.

Foto oleh: FIA Pool

Daniil Vyacheslavovich Kvyat terjun ke F1 dengan modal mentereng: runner-up Eurocup Formula Renault 2.0 2012 serta juara Formula Renault 2.0 Alps Series 2012 dan GP3 Series 2013.

Dengan modal tersebut, Kvyat melakukan debut F1 bersama Tim Scudera Toro Rosso pada 2014 dan finis P15 di klasemen akhir.

Kvyat lantas pindah ke tim induk Toro Rosso, Red Bull Racing, mendampingi Daniel Ricciardo di F1 2015. Pada musim itu pula Kvyat merebut podium perdananya dengan finis P2 di belakang Sebastian Vettel (Ferrari) pada GP Hungaria 2015.

Pada musim pertamanya bersama Red Bull, Kvyat finis P7 klasemen akhir dengan 95 poin untuk berada tepat di atas Ricciardo setelah unggul hanya tiga poin. Sampai saat ini, F1 2015 menjadi hasil musim terbaik Kvyat di ajang balap jet darat.  

Baca Juga:

Kvyat merebut podium keduanya setelah finis P3 GP Cina 2016. Tetapi, usai senggolan kontroversial dengan Vettel pada lomba kandangnya, Sochi, Kvyat dikembalikan ke Toro Rosso menjelang lomba berikutnya (seri ke-5), GP Spanyol.

Kvyat mampu konsisten menunjukkan performa bagus di kualifikasi sepanjang 2017. Tetapi, sejumlah probem mengganggunya, termasuk beberapa kali tidak mampu finis saat lomba kendati berpeluang mendapatkan poin.

Setelah GP Amerika Serikat 2017, Kvyat dan Red Bull berpisah sehingga kontraknya otomatis hangus. Kvyat menghabiskan musim 2018 sebagai pembalap yang ikut mengembangkan mobil di Scuderia Ferrari.

Daniil Kvyat di atas AlphaTauri AT01 saat turun di lomba F1 GP Bahrain, akhir pekan lalu.

Daniil Kvyat di atas AlphaTauri AT01 saat turun di lomba F1 GP Bahrain, akhir pekan lalu.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Namun begitu, Toro Rosso kembali menarik Kvyat pada F1 2019. Kvyat naik podium untuk kali ketiga usai finis P3 di GP Jerman 2019. Ini juga podium kedua bagi Toro Rosso setelah memenangi GP Italia 2008 bersama Vettel.

Kvyat dipertahankan saat Toro Rosso berganti nama menjadi AlphaTauri-Honda pada F1 2020. Menjelang dua lomba tersisa, Kvyat berada di P14 klasemen pembalap dengan 26 poin. Hasil finis terbaiknya adalah P4 GP Emilia Romagna, seri ke-13, 1 November lalu.

Total, sampai musim keenam di F1, Kvyat sudah mengoleksi tiga finis podium, 196 poin, dan satu lap tercepat dalam 108 kali start.

Sergey Sirotkin, Cuma Satu Musim Turun Penuh

Sergey Sirotkin saat menguji mobil formula milik Renault F1 Team dengan ban 18 inci.

Sergey Sirotkin saat menguji mobil formula milik Renault F1 Team dengan ban 18 inci.

Foto oleh: Pirelli

Mungkin, Sergey Olegovich Sirotkin menjadi satu-satunya pembalap F1 asal Rusia dengan latar belakang paling unik. Ia adalah insinyur bidang rekayasa mobil balap jebolan Moscow Automobile and Road Construction University pada 2017.

Mengawali karier di balap gokar pada 2008 sampai 2010, Sirotkin lalu berturut-turut turun di Formula Abarth (2010-2011), Formula 3 Italia (2012), Auto GP World Series (2012), Formula Renault 3.5 Series (2012-2014), GP2 Series (2015-2016), dan Formula 2 (2017) sebelum turun di F1.

Sejatinya, pada 2014, Sirotkin sudah menjadi pembalap penguji Tim Sauber F1. Posisi yang sama dilakukan Sirotkin untuk Tim Renault F1 pada 2016 lalu sebagai pembalap cadangan pada 2017.

Baca Juga:

Musim perdana Sirotkin di F1 terjadi pada 2018 namun justru bersama Williams Racing. Turun dalam 21 kali balapan, Sirotkin hanya mampu merebut 1 poin saat finis P10 di GP Italia.

Hasilnya, Sirotkin menjadi juru kunci (P20) pada musim tersebut. Menjelang GP Abu Dhabi 2018, seri terakhir musim tersebut, Sirotkin memastikan takkan lagi bersama Williams untuk F1 2019.

Pasalnya, tim yang mendukung Sirotkin, SMP Racing, memutuskan kerja sama dengan Williams karena buruknya performa dan pengembangan mobil yang dilakukan tim asal Grove, Inggris, tersebut.

Pada 2019, Sirotkin menerima tawaran Renault untuk mengisi posisi sebagai pembalap penguji dan pengembangan mobil. Pada musim itu pula, Sirotkin menjadi pembalap cadangan Tim McLaren.

Musim ini, Sergey Sirotkin menjadi pembalap cadangan Renault. Sergey Sirotkin juga sempat turun di GT World Challenge Europe Endurance Cup dan Intercontinental GT Challenge bersama SMP Racing, serta penguji di pramusim F2 bersama Tim ART Grand Prix.

Sergey Sirotkin turun di seri GT World Challenge Europe Endurance Cup dalam 24 Hours of Spa di atas Ferrari 488 GT3 milik Tim SMP Racing bersama Miguel Molina dan Davide Rigon.

Sergey Sirotkin turun di seri GT World Challenge Europe Endurance Cup dalam 24 Hours of Spa di atas Ferrari 488 GT3 milik Tim SMP Racing bersama Miguel Molina dan Davide Rigon.

Foto oleh: Erik Junius

    

dibagikan
komentar
Efek Hamilton Absen, Aitken Bakal Debut bersama Williams

Artikel sebelumnya

Efek Hamilton Absen, Aitken Bakal Debut bersama Williams

Artikel berikutnya

Kondisi Tangan Kiri Tentukan Kapan Grosjean Kembali

Kondisi Tangan Kiri Tentukan Kapan Grosjean Kembali
Muat komentar