Perkembangan Formula 1 Cina Ada di Tangan Guanyu Zhou

Pembalap Formula 2 asal Cina, sekaligus binaan akademi Renault, Guanyu Zhou, menjadi kunci masa depan Formula 1 di Cina.

Perkembangan Formula 1 Cina Ada di Tangan Guanyu Zhou

Walaupun masih berusia 21 tahun, Guanyu Zhou sudah membalap di Formula 2 selama dua musim. Pada musim 2020, ia pun bertengger di peringkat keenam klasemen akhir.

Zhou juga sukses mencatatkan satu kemenangan pada musim lalu, tepatnya di balapan sprint race F2 Rusia. Total ada lima podium yang diraihnya.

Menunjukkan perkembangan yang baik di setiap tahunnya, pembalap kelahiran Shanghai ini pun menargetkan bisa mendapatkan super license pada 2021. Itu kunci agar dirinya bisa tampil di Formula 1.

"Target tahun ini adalah bisa mendapatkan super license, agar saya bisa mempersiapkan diri jika ada kursi kosong di Formula 1," ujar Zhou.

Baca Juga:

Guanyu Zhou memang dinilai menjadi pembalap Cina dengan prospek paling cerah yang bisa tampil di Formula 1. Hal itu pun disadari oleh sang pembalap.

"Mendapatkan super license memang menjadi mimpi saya. Saya juga tahu bahwa sejauh ini, saya adalah pembalap asal Cina yang paling dekat dengan Formula 1," ungkapnya.

"Langkah terakhir untuk mendapatkan super license akan menjadi hal yang sulit. Tapi saya ingat sempat berbicara dengan banyak orang pada GP Cina 2019, mereka berharap saya bisa tampil di F1 dua tahun lagi.

"Itu memberikan saya dorongan motivasi. Jadi, negara tidak hanya membantu saya meraih impian sendiri, tetapi juga impian para penggemar balap di seluruh Cina. Dan pada saat satu orang mencatatkan prestasi di sebuah olahraga, orang-orang akan memberikan perhatian lebih ke olahraga tersebut," Zhou mengakhiri.

Guanyu Zhou saat menjalani sesi tes bersama Renault

Guanyu Zhou saat menjalani sesi tes bersama Renault

Foto oleh: Zak Mauger / Motorsport Images

Walaupun sukses menjadi tuan rumah Formula 1, tak banyak pembalap-pembalap Cina yang sukses tampil di balap mobil paling prestisius ini.

Ma Qinghua menjadi pilot pertama asal Negeri Tirai Bambu yang tampil di ajang balap jet darat. Akan tetapi, penampilannya hanya sebatas cameo atau penggannti.

Tak lama, ia pun terlempar dari persaingan F1. Ma kemudian beralih ke Formula E, dan mulai menemukan suksesnya di ajang balap mobil listrik tersebut.

dibagikan
komentar
Makin Canggih, Spionase dalam Formula 1 Mulai Berkurang

Artikel sebelumnya

Makin Canggih, Spionase dalam Formula 1 Mulai Berkurang

Artikel berikutnya

Alejandro Agag: F1 Perlu Merger dengan Formula E

Alejandro Agag: F1 Perlu Merger dengan Formula E
Muat komentar