Analisis: Rio Haryanto vs Stoffel Vandoorne di Bahrain 2015

Duel Rio Haryanto melawan Stoffel Vandoorne belum pernah terjadi di Formula 1 tapi ingatkah Anda bahwa keduanya bersaing ketat di GP2 Series 2015?

Stoffel Vandoorne dari Belgia adalah pembalap F1 2017 yang memiliki salah satu CV terbaik dari kariernya di single-seater. Ia pun mencetak rekor 7 kemenangan ketika merebut titel juara umum GP2 2015.

Rio sendiri adalah pembalap terbaik dari generasi terbaru pembalap Asia Tenggara, di mana saat menjalani GP2 2015 ia sudah menjadi juara Formula BMW Pacific, tak asing dengan podium di GP3, sudah mencetak pole dan naik podium juga di GP2, sampai mengetes mobil F1 dua kali (seharusnya tiga kali seandainya tes 2014 bersama Caterham mobilnya tidak bermasalah).

Apa jadinya jika pembalap terbaik dari Eropa bersaing ketat dengan pembalap terbaik dari Asia Tenggara di GP2?

Duel itu pernah terjadi di tahun 2015...

Tantangan khusus dari GP2

Para peserta di GP2 memakai mobil yang identik sehingga lebih menekankan kemampuan mengemudi daripada di F1 di mana setiap timnya memakai mobil yang berbeda-beda dengan performa yang berbeda-beda pula.

Karakteristik ban Pirelli di GP2 tidak mudah ditebak dan memiliki tingkat degradasi yang tinggi. Jika Anda memperhatikan lap time semua pembalap di babak kualifikasi (ataupun saat simulasi kualifikasi di sesi latihan), pola laju yang umum ditemukan adalah: out lap-hot lap-cool down lap-hot lap-cool down lap-dan seterusnya selama ban masih awet.

Artinya, performa maksimal ban sulit dipertahankan dalam dua lap berturut-turut - setelah satu lap yang kencang, para pembalap harus mendinginkan ban sebelum kembali berburu fastest lap. Itulah mengapa saat balapan mereka harus cerdik mengatur kecepatan - jangan terlalu berusaha keras sampai menghancurkan ban tapi jangan pula terlalu bermain aman sampai disalip yang lain.

Di hari di mana semuanya berjalan lancar, Rio mampu menjadi rival terberat Vandoorne di GP2 2015.

Tanpa berbagai kendala seperti tertabrak di Monako dan Bahrain II, kontroversi safety car di Rusia, kekurangan tenaga mesin dan masalah garis chicane di Italia, kendala kopling di Belgia, hingga pembatalan Race 2 di Abu Dhabi, Anda dapat bayangkan bagaimana Rio sebenarnya bisa saja menempel Vandoorne di klasemen akhir.

Mari kita kupas lebih dalam mulai dari seri perdana musim 2015 di Sakhir International Circuit, Bahrain. Dua balapan dari ronde pertama pada waktu itu menjadi saksi bagaimana Rio dapat menyempurnakan manajemen ban di bawah terik panas matahari.

Race 1

Rio memulai balapan dari urutan ke-12 dengan strategi yang berani. Mayoritas peserta memasang ban option di awal lomba sedangkan Rio memilih ban prime. Di putaran-putaran awal, Rio melaju lebih lambat daripada Vandoorne karena pembalap asal Belgia tersebut bisa melaju tanpa hambatan traffic dari pole position.

Pada Lap 5, kecelakaan yang melibatkan empat mobil memaksa safety car diturunkan dan mengubah pola balapan.

Di belakang safety car, para pembalap yang memasang ban soft - yang lebih kencang tapi kurang tahan lama - segera masuk ke pit sedangkan mereka yang memakai ban medium termasuk Rio dan Vandoorne tetap bertahan di lintasan. Setelah periode safety car yang berlangsung 5 lap, Rio dan Vandoorne memulai duel satu lawan satu di lintasan.

Rio masuk pit di Lap 23 atau satu lap setelah Vandoorne. Sayangnya, ketika kembali ke lintasan, jarak antara keduanya melebar. Pimpinan lomba pun sempat diambil alih oleh Alexander Rossi yang memakai strategi berbeda.

Meski demikian, Rio masih bisa memanfaatkan ban soft yang lebih segar untuk menyerang ke depan dalam delapan putaran terakhir. Pembalap asal Surakarta tersebut menyalip Rossi di putaran terakhir saat menuju tikungan terakhir untuk merebut posisi kedua. Satu lap sebelumnya, Vandoorne sudah melewati Rossi dengan mudah di lurusan utama.

Start: Stoffel Vandoorne, ART Grand Prix memimpin
Start Feature Race - Percayakah Anda bahwa Rio Haryanto mampu naik 10 posisi dalam satu balapan GP2?

Menyodok dari P12 hingga akhirnya finis P2 bukanlah suatu keberuntungan bagi Rio karena dengan melihat tabel komparasi di atas, tanpa traffic, lap time Rio dengan Vandoorne cukup berdekatan dan saling merespon - baik setelah safety car restart (Lap 10) maupun sesudah pit stop keduanya (Lap 22/23).

Dengan demikian, bukan mustahil juga Rio dapat menyalip Vandoorne mengingat lap time keduanya tidak terlalu jauh - kecuali jika Rio terhambat traffic tentunya.

Di lap-lap awal, traffic tidak menguntungkan Rio tapi ia masih bisa naik sepuluh posisi berkat bantuan safety car dan strategi. Selepas restart di Lap 10, Rio berusaha menyalip Vandoorne untuk P1 tapi tidak berhasil. Tampak Rio berusaha keras untuk membuat gap kurang dari satu detik supaya tetap berada dalam jangkauan DRS dari Vandoorne.

Rio berjarak kurang dari satu detik di belakang Vandoorne pada Lap 22 sebelum pembalap Belgia tersebut masuk pit dan rejoin tanpa terlalu terganggu traffic. Rio kemudian menyusul masuk pit satu lap kemudian - ia pun turun beberapa posisi dan kembali terhambat traffic, termasuk serangan dari Nobuharu Matsushita, rekan setim Vandoorne.

Stoffel Vandoorne, ART Grand Prix
Rio Haryanto menempel Stoffel Vandoorne di Feature Race sebelum terganggu traffic selepas pit stop

Seandainya setelah pit stop gap antara Vandoorne dan Rio tidak melebar, maka Rio dapat terus menempel Vandoorne dan berpeluang besar untuk menyalip dengan usia ban yang lebih muda satu lap dan ditambah bantuan DRS.

Race 2

Di Race 2, giliran Vandoorne yang berusaha mengejar Rio. Dengan posisi grid 8 besar yang dibalik, Rio dan Vandoorne masing-masing memulai balapan dari P7 dan P8.

Julian Leal, Carlin and Mitch Evans, RUSSIAN TIME and Rio Haryanto, Campos Racing at the start
Start spektakuler Rio Haryanto di Sprint Race: Menyalip empat mobil bahkan sebelum masuk ke apex Tikungan 1

Start Rio saat itu menjadi salah satu start terbaik dalam sejarah GP2 - reaksi kilat mengantarkannya dari P7 ke P3. Dari grid yang berada di dekat racing line, ia menusuk ke tengah dan kemudian menyerang dari sisi luar untuk menyalip empat mobil di lap pembuka menuju tikungan pertama.

Sementara itu, Vandoorne yang start di belakang Rio hanya bisa naik satu peringkat ke P7 di akhir lap pertama.

Tidak butuh banyak waktu dan usaha untuk melihat Rio menyodok ke urutan terdepan. Setelah Rio mencuri posisi pertama di Lap 7, ia terus menjauh hingga Lap 10 sedangkan Vandoorne melaju lebih konservatif dan agak terhambat oleh traffic - ia baru bisa naik ke posisi kedua di Lap 17.

Selanjutnya, Rio terus menjaga lajunya dan mengelola umur ban sambil mempertahankan gap di kisaran 3 detik - aman dari serangan DRS Vandoorne yang akhirnya finis di belakang Rio.

Setelah 23 lap berlalu, sejarah baru bagi bangsa Indonesia pun tercipta pada tanggal 19 April 2015...

Haryanto melakukan pekerjaan yang sangat bagus hari ini, saya tidak bisa berada di dekatnya.

Vandoorne setelah melihat Rio menjadi juara pertama di Bahrain

Pemenang balapan, Rio Haryanto, Campos Racing, dan peringkat kedua Stoffel Vandoorne, ART Grand Prix, dan peringkat ketiga Nathanael Berthon, Lazarus
Pemenang balapan, Rio Haryanto, Campos Racing, dan peringkat kedua Stoffel Vandoorne, ART Grand Prix, dan peringkat ketiga Nathanael Berthon, Lazarus
Semanis apapun rangkaian kata-kata, biarlah performa di lintasan yang sepenuhnya berbicara mengenai bakat seorang pembalap. Berdasarkan statistik dari sirkuit waktu itu, Rio terbukti kencang dan mampu menjaga tingkat keausan ban. Jika saja pada race pertama outlap dari pit stop Rio berjalan lebih baik, bukan tidak mungkin ia bisa menyapu bersih posisi juara pertama dari dua balapan di Bahrain. Pada lap terakhir sprint race saja ia masih bisa mencatat waktu sektor pertama tercepat...

 

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan FIA F2
Event Bahrain
Trek Bahrain International Circuit
Pembalap Rio Haryanto , Stoffel Vandoorne
Tipe artikel Nostalgia