Bos F2 Klaim Format Baru Sangat Sukses

CEO FIA Formula 2, Bruno Michel, mengatakan format baru dengan tiga balapan yang pertama kali digunakan di Grand Prix Bahrain akhir pekan lalu berlangsung sukses.

Bos F2 Klaim Format Baru Sangat Sukses

Formula 2 membuat perubahan besar dengan format balap untuk 2021, dari yang awalnya hanya dua menjadi tiga balapan dalam satu akhir pekan balap. Itu adalah dua sprint race pada Sabtu, dan satu feature race pada Minggu.

Penentuan grid untuk balapan juga menggunakan sistem yang tidak konvensional, karena sesi kualifikasi pada Jumat, untuk menetapkan grid balapan pada Minggu.

Sementara 10 pembalap tecepat di kualifikasi urutannya dibalik untuk penentuan grid di balapan pertama. Hasil dari balapan pertama menjadi penentu grid di balapan kedua, tapi dengan urutan 10 besar terbalik.

Seperti Guanyu Zhou, yang meraih pole position di kualifikasi, tapi ia harus memulai sprint race pertama dari grid ke-10. Finis ketujuh membuatnya memulai sprint race kedua dari grid keempat. Lalu, untuk feature race, ia start dari pole sesuai hasil kualifikasi.

Ini merupakan perubahan format terbesar dalam sejarah F2 dan Formula 3. Itu dilakukan sebagai tindakan penghematan anggaran, dengan tujuan kejuaraan mempertahankan 24 balapan, sekaligus mengurangi jadwal lomba dari 12 menjadi delapan seri.

Bruno Michel yakin tiga balapan yang digelar dalam satu akhir pekan memberikan tontonan menarik, seperti yang sudah dilakukan di Sirkuit Sakhir. Ia mengatakan format itu sangat sukses dan lebih banyak aksi yang tersaji di balapan.

“Salah satu pembicaraan terbesar sejak musim 2021 akan digelar adalah format baru akhir pekan kami,” kata Michel.

“Saya dengan yakin mengatakan bahwa itu sukses, kami memiliki dua Sprint Race dan satu Feature Race yang luar biasa.”

Baca Juga:

Namun, satu masalah yang terjadi di GP Bahrain adalah sprint race pertama digelar dalam cuaca yang sangat panas. Michel mengatakan ada beberapa pembalap yang mengeluhkan hal tersebut dan itu membuat balapan kurang menarik.

“Suhu tinggi membuat para pembalap kesulitan. Tapi dua balapan berikutnya, yang mana kondisinya yang lebih dingin, menghadirkan pertarungan ketat. Fakta bahwa 15 pembalap mencetak poin jadi bukti nyata,” katanya.

“Orang-orang mengkhawatirkan sistem grid yang mungkin terlalu rumit, tapi sekarang kami berhasil melaluinya. Mereka bisa merasakan sesederhana itu format kami dan memberikan lebih banyak kesenangan di trek.”

Felipe Drugovich, Uni-Virtuosi, Marcus Armstrong, Dams dan Guanyu Zhou, Uni-Virtuosi Racing.

Felipe Drugovich, Uni-Virtuosi, Marcus Armstrong, Dams dan Guanyu Zhou, Uni-Virtuosi Racing.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Seluruh pembalap sepakat, format baru lebih menarik dan menghadirkan persaingan ketat. Tapi mereka mengatakan pentingnya mencetak poin secara konsisten di setiap balapan sepanjang tahun.

“Jujur, itu membuat balapan semakin menarik. Saya pikir pole position sangat penting, tapi di sisi lain, posisi kesembilan atau ke-10 tak menjadi masalah jika Anda mengalami kesulitan di kualifikasi. Anda bisa menebusnya di balapan,” ujar Guanyu Zhou.

“Tentu saja, Anda ingin mendapatkan empat poin dari pole position, tapi jika Anda memulai dari posisi kesembilan atau ke-10 dengan grid terbalik, maka cukup mudah bagi Anda bertabrakan dengan pembalap lain di Tikungan 1 yang dapat merusan balapan Anda.

“Tapi, ini berlaku bagi semua orang, jadi saya tidak akan mengeluh dan kami harus beradaptasi dengan itu. Saya pikir mereka yang paling konsisten sepanjang akhir pekan bisa memenangi gelar di akhir musim.”

Pembalap Carlin, Dan Ticktum juga sepakat dengan pendapat Zhou karena balapan bisa berlangsung rumit dengan format baru.

“Saya pikir konsistensi di Sabtu jadi kunci, jika Anda mengalami insiden pada balapan pertama, maka Anda akan start dari belakang di balapan kedua,” ucapnya.

“Saya pikir konsistensi dan agresi yang terukur diperlukan pada Sabtu. Pada Minggu, Anda bisa lebih menyerang. Sejauh ini saya sangat menyukai format ini, tapi saya akan memberi tahu pandangan saya tentang ini di akhir musim.”

Theo Pourchaire, ART Grand Prix, Dan Ticktum, Carlin dan Jehan Daruvala, Carlin.

Theo Pourchaire, ART Grand Prix, Dan Ticktum, Carlin dan Jehan Daruvala, Carlin.

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Shwartzman Sedih Awali F2 2021 dengan Hasil Buruk

Artikel sebelumnya

Shwartzman Sedih Awali F2 2021 dengan Hasil Buruk

Artikel berikutnya

Merasa Berbakat, Zendeli Yakin Mampu Ikuti Jejak Schumacher

Merasa Berbakat, Zendeli Yakin Mampu Ikuti Jejak Schumacher
Muat komentar