Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia
Special feature
Formula E Jakarta E-Prix

12 Pertanyaan Seputar Formula E

Selama ini, banyak hal yang tidak dimengerti maupun diketahui tentang seri balap Formula E yang akhir pekan ini digelar di Jakarta. Motorsportcom Indonesia mencoba menjelaskannya.

Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, EQ Silver Arrow 02, Oliver Rowland, Mahindra Racing, Mahindra M7Electro, Lucas di Grassi, Venturi Racing, Silver Arrow 02, Oliver Turvey, NIO 333 Racing, NIO 333 001, Sebastien Buemi, Nissan e.Dams, Nissan IM03, at the start

Sabtu (4/6/2022) akhir pekan nanti, Indonesia akan mencatat sejarah karena akan menjadi tuan rumah seri Kejuaraan Dunia Formula E 2021-2022. Jakarta E-Prix akan menjadi ajang balap mobil pertama di bawah regulasi FIA yang digelar di Indonesia sejak A1 GP pada 2006.

Tahun ini menjadi musim (season) kedelapan Formula E digelar. Sejak debut pada musim 2014-2015, banyak perubahan yang terjadi di balap mobil kursi tunggal (single seater) bertenaga listrik tersebut. Salah satunya perubahan status menjadi kejuaraan dunia mulai musim 2020-2021.

Sampai musim kedelapan digelar, sepertinya banyak hal yang masih belum diketahui publik tentang Formula E. Motorsport.com Indonesia mencoba merangkumnya dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mungkin belum terjawab. 

Baca Juga:

1. Siapa pencetus dan apa itu Formula E?

Formula E diusulkan pebisnis asal Spanyol, Alejandro Tarik Agag Longo, pada 2011 kepada Presiden FIA saat itu, Jean Todt.

Pria yang juga bos Addax Capital LLP tersebut mengaku, ide membuat Formula E karena saat bekerja di Formula 1, ada calon sponsor yang karena begitu perhatian pada ekologi dan giat mengampanyekan pengurangan polusi suara, tidak jadi mensponsori F1.

Dari situlah Agag berpikir untuk membuat seri balap mobil yang memiliki nilai lebih dengan titik berat pada lingkungan dan keberlangsungan (sustainability). Ide tersebut disetujui FIA dan digelarlah balapan perdana Formula E di Beijing, Cina, pada 13 September 2014. 

Alejandro Agag (tengah), Ketua Formula E, berbincang dengan Toto Wolff, Team Principal dan CEO Mercedes F1.

Alejandro Agag (tengah), Ketua Formula E, berbincang dengan Toto Wolff, Team Principal dan CEO Mercedes F1.

Foto oleh: Carl Bingham / Motorsport Images

2. Visi Formula E

Formula E adalah seri balap mobil single-seater pertama yang murni menggunakan tenaga listrik. Ajang balap ini diharapkan mampu memunculkan teknologi untuk produksi mobil listrik produksi massal yang ramah lingkungan.

Formula E percaya bahwa kendaraan bertenaga listrik merupakan representasi mobilitas masa depan sekaligus solusi transportasi yang bisa mengurangi pemanasan global yang berdampak pada perubahan cuaca ekstrem.

Formula E mencerminkan gagasan keberlanjutan dengan mengurangi jejak karbon sejauh mungkin dan memberikan dampak positif bagi umat manusia dan lingkungan. Ini dipraktikan di semua elemen dalam Formula E:

  • Energi: Mobil Formula E hampir bebas emisi dan digerakan menggunakan 100% energi terbarukan yang dipasok oleh generator gliserin Formula E yang revolusioner.
  • Ban: Ban untuk mobil Formula E bersifat hibrida, yang telah dikembangkan khusus oleh Michelin. Ban dapat dikendarai dalam segala kondisi cuaca, akan bertahan untuk seluruh balapan, dan nantinya dapat didaur ulang.
  • Sirkuit: Formula E adalah seri balap yang dilangsungkan di jalan-jalan raya, di atas sirkuit sementara yang terletak di jantung kota-kota terbesar di dunia seperti Roma, Paris, Berlin, New York, dan tentu saja Jakarta.
  • Penonton: Formula E membawa penggemar ke pusat kota untuk mendorong penggunaan transportasi umum. Itu sebabnya tidak ada tempat parkir kendaraan untuk penonton di sirkuit-sirkuit Formula E. Balapan juga dapat diikuti secara online

3. Apa Itu Mobil Balap Formula dan Bagaimana Mendefinisikan Mobil Formula E?

Tidak ada definisi baku untuk menjelaskan mobil formula. Sebuah mobil balap disebut formula biasa dicirikan dengan ban yang terlihat jelas (open wheel) dan hanya memiliki satu kursi di posisi tengah bodi.

Mobil Formula E juga memakai sasis monokok, tetapi tidak benar-benar “open wheeler” karena sebagian ban 18 incinya tertutup. Karena suspensi juga masih terlihat, maka mobil Formula E termasuk dalam jenis mobil balap formula. 

4. Seperti Apa Karakter Mobil Formula E?

Tipe sasis semua mobil Formula E yang dipakai, sama. Pada empat musim awal, mobil Formula E dibangun oleh Spark Racing Technology dan diberi nama Spark-Renault SRT 01E. Sasis didesain Dallara, baterai dari Williams Advance Engineering, gearbox lima percepatan oleh Hewland, dan ban dari Michelin.

Mobil Formula E generasi pertama ini mampu menyemburkan tenaga 250 horsepower (hp) atau setara 190 kW. Akselerasi dari 0 sampai 100 km/jam (0 – 62 mil/jam) hanya butuh 3 detik dengan top speed 225 km/jam.

Sejak musim kedua, para pabrikan powertrain diizinkan memakai mesin listrik buatan sendiri berikut inverter, gearbox, suspensi, dan sistem pendingin. Meskipun, sasis dan baterai masih sama.

Pada musim 2016-17 ada sembilan produsen yang membuat powertrain sendiri, yakni ABT Schaeffler, Andretti Technologies, DS-Virgin, Jaguar, Mahindra, NextEV TCR, Penske, Renault, dan Venturi.

Antonio Felix da Costa, DS Techeetah, DS E-Tense FE21, Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, EQ Silver Arrow 02, saat turun di Berlin E-Prix II.

Antonio Felix da Costa, DS Techeetah, DS E-Tense FE21, Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, EQ Silver Arrow 02, saat turun di Berlin E-Prix II.

Foto oleh: Alastair Staley / Motorsport Images

Sejak musim 2018-2019, Formula E mengalami kemajuan teknologi signifikan dengan dipakainya mobil generasi kedua yang dikenal dengan sebutan Gen2.

Mobil yang bernama asli Spark SRT05E itu masih dibuat Spark Racing Technology dengan dibantu Dallara. Namun, baterai yang dipakai bertenaga 56 kW.h lansiran McLaren Applied Technologies. Tenaga (335 hp) dan top speed (280 km/jam) yang dihasilkan juga naik.

Gen2 ini juga menjadi mobil Formula E pertama yang memakai pelindung kokpit Halo seperti di Formula 1, sekaligus sasis F1 pertama yang mampu turun penuh tanpa harus mengisi ulang baterai (ganti mobil).  

Mulai musim 2021-2022 ini, mobil yang dipakai di Formula E adalah Gen2EVO. Sedangkan mulai musim depan, Gen3 akan menjadi mobil Formula E menggantikan Gen2.

5. Berapa Pabrikan Mobil yang Turun di Formula E?

NIO 333 (Inggris-Cina), Audi (Jerman), Mercedes (Jerman), Penske (Amerika Serikat), Jaguar (Inggris), DS Automobiles (Prancis), Nissan (Jepang), BMW (Jerman), Mahindra (India), dan Porsche (Jerman), adalah pabrikan yang menurunkan powertrain di Formula E musim 2021-2022 ini.

Audi dan BMW sejatinya sudah menyatakan mundur dari Formula E pada akhir musim 2020-2021. Namun begitu, Audi musim ini masih memasok powertrain untuk Envision Racing sedangkan BMW musim ini terakhir menyuplai powertrain untuk Andretti Autosport.

Mercedes-Benz yang baru bergabung di Formula E pada musim 2019-2020 (bersama Porsche), juga menjadikan musim 2021-2022 ini sebagai yang terakhir berlaga di balap mobil formula listrik.

Untuk Formula E musim 2022-2023 nanti, saat mobil Gen3 mulai mengaspal, paling tidak sudah tujuh pabrikan yang siap turun, yakni DS Automobiles, Jaguar, Mahindra Racing, Maserati (Italia), NIO 333, Nissan, dan Porsche. 

6. Bagaimana Format Balapan Formula E?

  • Shakedown: Di sebagian besar putaran E-Prix, shakedown alias pemanasan dilakukan pada Jumat atau sehari sebelum event utama. Namun ini tergantung pada trek. Pembalap biasa memanfaatkan sesi ini untuk pemeriksaan sistem elektronik dan keandalan mobil, tetapi tidak untuk menguji performa keseluruhan mobil. FIA memanfaatkan sesi ini untuk mengecek layout trek, kerb, dan peranti keselamatan balap misalnya. Mereka juga menampung masukan dari pembalap. Power mobil di sesi ini dibatasi sampai 110 kW.
  • Latihan: Ada dua sesi latihan di setiap event dengan durasi masing-masing 30 menit. Jika ada dua lomba beruntun (double header), sesi hanya digelar sekali. Di sesi ini para pembalap bisa simulasi mengejar waktu lap, merasakan feeling mobil, hingga adaptasi set-up mobil dengan trek. Power yang diizinkan maksimal 250 kW. 
Edoardo Mortara, Venturi Racing, Silver Arrow 02, Nyck de Vries, Mercedes-Benz EQ, EQ Silver Arrow 02, Robin Frijns, Envision Racing, Audi e-tron FE07, saat start di Berlin E-Prix II.

Edoardo Mortara, Venturi Racing, Silver Arrow 02, Nyck de Vries, Mercedes-Benz EQ, EQ Silver Arrow 02, Robin Frijns, Envision Racing, Audi e-tron FE07, saat start di Berlin E-Prix II.

Foto oleh: Simon Galloway / Motorsport Images

  • Kualifikasi: Mulai musim kedelapan, 2021-2022 ini, format kualifikasi baru diperkenalkan. Ke-22 pembalap dibagi menjadi 2 grup (A dan B) yang masing-masing diisi 11 pembalap bernomor mobil ganjil (1, 3, 5, … 11) dan lainnya genap (2, 4, 6, … 22). Di fase grup ini para pembalap bersaing selama 10 menit dengan tenaga mobil dibatasi sampai 220 kW. Empat pembalap tercepat setiap grup akan maju ke fase duel head-to-head di perempat final (A1 vs B4, A2 vs B3, A3 vs B2, A4 vs B1). Power mobil maksimal 250 kW. Pemenang duel fase knockout ini akan merebut Julius Baer Pole Position, runner-up akan start dari grid kedua. Semifinalis akan start dari grid ketiga dan keempat. Perempat finalis antara grid kelima sampai kedelapan, sesuai waktu lap di head-to-headSementara, peringkat kelima sampai ke-11 yang tersingkir di fase grup akan mengisi sisa grid tetapi tetap dengan aturan. Jika peraih pole berasal dari Grup A, maka peringkat kelima grup tersebut akan menempati grid ke-9 dan P5 di Grup B akan start dari grid ke-10 dan seterusnya.
  • Race: Lomba E-Prix diawali dengan standing start alias mobil dari posisi berhenti di grid. Durasi satu balapan E-Prix adalah 45 menit. Saat 45 menit sudah terpenuhi dan pemimpin lomba melibas garis finis, masih ada satu lap lagi sampai balapan benar-benar selesai. Poin hanya diberikan pada 10 pembalap tercepat dengan urutan: 25-18-15-12-10-8-6-4-2-1. Peraih pole akan mendapatkan bonus 3 poin. Adapun pencetak fastest lap berhak atas bonus 1 poin dengan syarat menembus finis 10 besar. Jadi, jika pembalap tampil sempurna dalam sebuah balapan, poin maksimal yang bisa direbut dalam satu race adalah 29.       

7. Apa Itu Attack Mode dan Fanboost?

Attack Mode mulai diperkenalkan pada musim 2018-2019. Pembalap bisa mendapatkan ekstra tenaga dengan keluar dari racing line ideal, alias mengambil lajur lebih lambat saat melewati area Activation Zone.

Sebagai “hadiah” karena berani mengambil racing line lebih lambat, pembalap akan mendapat tambahan tenaga 30 kW yang bisa menambah kecepatan untuk beberapa lap.

Fanboost hanya bisa dipakai 5 pembalap yang dipilih penggemar sampai 15 menit sebelum balapan dimulai. Fanboost ini memberikan power tambahan yang hanya bisa digunakan dalam jendela selama 5 detik pada paruh kedua balapan.

8. Apa Perbedaan Mobil Formula E dengan Formula 1?

Perbedaan utama jelas pada powertrain. Formula 1 memakai mesin 6-silinder (konfigurasi V6) turbo hybrid 1.6-litre sementara Formula E murni bertenaga listrik.

Mobil-mobil F1 memiliki top speed dan kecepatan di tikungan yang lebih baik daripada Formula E. Namun jika bicara akselerasi, keduanya sudah imbang: 0 sampai 100 km/jam hanya butuh 2,8 detik.

Satu lagi perbedaan terbesar: tim-tim di F1 membuat sendiri mobil mereka sementara di Formula E mobil dibuat sama oleh satu pemasok. Kondisi ini menjamin kekuatan yang sama di antara tim-tim Formula E.

9. Berapa Standar Panjang Sirkuit untuk Formula E?

Sirkuit Jakarta Internasional E-Prix 2022

Sirkuit Jakarta Internasional E-Prix 2022

Foto oleh: Xaveria Yunita

Panjang sirkuit untuk balap Formula E bervariasi antara 2 sampai 3,5 km. Pasalnya, total jarak sebuah balapan Formula E adalah antara 80 sampai 90 km.

Sirkuit terpanjang di Formula E saat ini adalah Roma dengan 3,385 km. Sementara, Jakarta International E-Prix Circuit memiliki panjang 2,4 km atau sama seperti London dan sedikit lebih pendek daripada Diriyah.

10. Mengapa Formula E Tidak Digelar di Sirkuit Permanen seperti Seri Balap Lain?

Pada awalnya, sulit membuat mobil Formula E – yang memiliki spesifikasi khusus karena bertenaga listrik – agar cocok untuk sirkuit standar.

Pasalnya, sirkuit Formula E butuh banyak tikungan sempit agar pembalap sering mengerem agar energi dari pengereman bisa mengisi baterai. Ini sangat sulit ditemui di sirkuit-sirkuit permanen yang didominasi tikungan cepat.

Selain itu, ide awal Formula E juga melangsungkan balapan di tengah kota, dibanding sirkuit permanen yang ada di pedesaan. Sumber listrik terbesar juga berada di kota. Ini pula yang membuat Formula E jauh lebih cocok digelar di trek non-permanen di kota.

11. Adakah Pit Stop di Formula E?

Pada empat musim awal, para pembalap harus mengganti mobil karena baterai yang tidak cukup untuk satu balapan. Tetapi mulai musim 2018-2019, para pembalap tak perlu lagi mengganti mobil karena energi dari baterai yang sudah cukup.

Namun, jika ada kerusakan yang butuh perbaikan, pembalap bisa masuk lintasan khusus di sisi trek dan masuk pit untuk perbaikan kecil. Tetapi, ini sangatlah jarang terjadi di Formula E.

12. Apakah Pembalap Formula E Profesional?

Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, kini memimpin klasemen pembalap Formula E 2021-2022. Ia mantan pembalap Tim McLaren F1 dan test driver Mercedes. Jika tidak turun di Formula E, Vandoorne juga turun di FIA World Endurance Champioship dan IndyCar.

Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, kini memimpin klasemen pembalap Formula E 2021-2022. Ia mantan pembalap Tim McLaren F1 dan test driver Mercedes. Jika tidak turun di Formula E, Vandoorne juga turun di FIA World Endurance Champioship dan IndyCar.

Foto oleh: Andrew Ferraro / Motorsport Images

Beberapa pembalap di Formula E bahkan diyakini yang terbaik di dunia. Mereka juga mengawali karier dari karting dan tidak sedikit pernah menjadi yang terbaik di level ini. Bisa dibilang, hanya para pembalap Formula 1 yang mampu menandingi skill dan teknik para driver Formula E.

Tetapi, jika di Formula 1 seorang pembalap “bisa membeli kursi”, di Formula E itu sama sekali tidak ada. Seluruh 24 pembalap (dari 11 tim) di Formula E saat ini murni dipilih tim-tim mengacu performa mereka. Itulah mengapa persaingan di Formula E cenderung merata.

Seluruh pembalap yang turun di Formula E adalah murni professional driver. Saat tidak turun di Formula E, banyak dari mereka beraksi di seri balap lain.

Paling banyak biasanya di Kejuaraan Dunia Balap Ketahanan (World Endurance Championship/WEC) atau hanya turun di 24 Hours of Le Mans. Ada pula yang berlaga di Balap Mobil Turing Jerman (DTM) dan bahkan menjadi pembalap penguji di tim-tim Formula 1.  

 

 

 

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Formula E Dukung Penuh Keterlibatan Perempuan dalam Olahraga Otomotif
Artikel berikutnya Jelang Formula E Jakarta, Tim-tim Sibuk Set-Up Mobil

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia