5 Hal Menarik Seputar Stoffel Vandoorne: Piza, Ritual dan Senna

Finis di urutan kedua dalam Seoul E-Prix II, Minggu (14/8/2022), sudah cukup untuk mengantar Stoffel Vandoorne menjadi juara dunia Formula E 2021-2022.

5 Hal Menarik Seputar Stoffel Vandoorne: Piza, Ritual dan Senna

Menjadi juara kompetisi bergengsi merupakan peristiwa langka bagi pembalap Mercedes-EQ Formula E Team. Pertama kali, ia mendapatkannya saat berlaga di GP Series 2015.

Butuh petualangan di berbagai kompetisi, termasuk Formula 1, hingga Vandoorne kembali mengukir nama sebagai juara. Perjuangannya tidak mudah karena gelar ditentukan dalam laga pamungkas.

Satu kesalahan kecil, maka Mitch Evans siap menangkap peluang merebut trofi bergengsi. Pada akhirnya, pembalap Belgia itu membukukan 213 poin, selisih 33 dari rival terdekatnya. Vandoorne pun mematahkan rekor Lucas Di Grassi dengan torehan delapan podium.

Titel tersebut sangat penting sebagai tanda mata perpisahan bagi Mercedes, yang memutuskan untuk mundur dari balap mobil listrik.

Di luar prestasi mengesankan tersebut ada sisi lain dari Vandoorne yang patut diketahui. Berikut 5 fakta menarik dari mantan pembalap McLaren F1.

Baca Juga:

1. Bermula dari Restoran

Stoffel merupakan putra dari pasangan Patrick Vandoorne dan Marleen Delabie. Suatu hari, bocah kelahiran 26 Maret 1992 tersebut diajak ke trek go-kart oleh sang ayah, yang berprofesi sebagai aristek. Kala itu, ia sedang mengerjakan proyek pembuatan restoran yang berlokasi di Kortrijk.

Vandoorne melihat ada banyak pembalap kecil yang melaju di sana. Hingga pemilik sirkuit meminjami bocah enam tahun itu sebuah go-kart. Pengalaman pertama menimbulkan ketertarikan besar terhadap dunia motorsport.

2. Minim Dana, Jarang Berkompetisi

Meski sang ayah berprofesi sebagai arsitek, bukan berarti punya kekayaan melimpah. Dana terbatas memaksanya untuk tidak bisa rutin balapan dalam satu tahun. Beberapa tahun pertama, ia harus memilih 3-4 lomba yang diikuti permusim.

Setelah memenangi kompetisi nasional, ia kian serius memilih karier sebagai pembalap. Kemenangan menjadi keharusan karena bisa menghasilkan uang untuk mendaftar laga-laga lain. Motivasi tersebut membuatnya bisa menapaki level-level lebih tinggi.

3. Penggemar Ayrton Senna

Vandoorne menjadikan mendiang Ayrton Senna sebagai idolanya. Ia kerap menonton video juara dunia F1 1988, 1990 dan 1991.

“Senna adalah inspirasi besar untuk semua orang dan salah satu talenta terbesar yang terlihat di Formula 1. Akan menyenangkan kalau bisa berbagi trek balap dengannya,” ujarnya kepada Motorsport.com.

“Bagi saya, momen indah McLaren ketika kualifikasi F1 GP Monako 1988 yang dilakoni Senna.”

Empat pilot legenda yang ingin diundang makan malam adalah Mika Hakkinen, Niki Lauda, Alan Prost serta Senna.

Edoardo Mortara, Venturi Racing, mengucapkan selamat kepada Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, usai menyegel gelar juara dunia FE 2021-2022

Edoardo Mortara, Venturi Racing, mengucapkan selamat kepada Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, usai menyegel gelar juara dunia FE 2021-2022

Foto oleh: Alastair Staley / Motorsport Images

4. Penggemar Piza dan Jus Apel

Meski berasal dari Belgia yang identik dengan wafel, Vandoorne rupanya memilih piza sebagai makanan favoritnya. Daripada minum bir, ia lebih suka menyesap jus apel. Ketika makan wafel, pembalap yang berdebut di FE 2018-2019 lebih suka mengolesi dengan selai coklat.

5. Ritual Sebelum Balapan

Vandoorne suka nongkrong dengan tim sebelum balapan. Dia juga masuk dari sisi kiri mobil dan menginjak kokpit dengan kaki kanan.

dibagikan
komentar
Hasil Seoul E-Prix II: Stoffel Vandoorne Juara Dunia Formula E
Artikel sebelumnya

Hasil Seoul E-Prix II: Stoffel Vandoorne Juara Dunia Formula E

Artikel berikutnya

Konsistensi Jadi Kunci Kesuksesan Stoffel Vandoorne Juara Formula E

Konsistensi Jadi Kunci Kesuksesan Stoffel Vandoorne Juara Formula E