Kisah Techeetah, David penakluk para Goliath Formula E

dibagikan
komentar
Kisah Techeetah, David penakluk para Goliath Formula E
Charles Bradley
Oleh: Charles Bradley
22 Jul 2018 04.20

Simak kisah salah satu tim gurem Formula E yang sukses mengantar Jean-Eric Vergne sebagai kampiun pembalap musim 2017/18.

Minggu depan, kita menantikan kabar dari Techeetah perihal kemitraan dengan pabrikan baru untuk musim kelima. Namun, untuk bisa memahami bagaimana mereka sampai pada titik ini, Anda perlu melihat kembali kisah ala David versus Goliath.

Formula E musim keempat telah sukses menarik lebih banyak pabrikan untuk bergabung dengan kejuaraan balap elektrik tersebut. Bergabungnya Mercedes,Porsche, BMW, dan Nissan bersama Audi, DS, Jaguar, NIO, dan Mahindra (minus Renault) bukanlah hal yang mengejutkan.

Lain cerita di sirkuit. Meski memiliki sumber daya lebih banyak, baik dari segi keuangan maupun teknis, mereka takluk dari sebuah tim independen dalam perebutan gelar pembalap. Tim tersebut, Techeetah, kalah dua poin dari Audi dalam klasemen akhir tim, akibat aksi curi start pembalap keduanya, Andre Lotterer, di balapan pamungkas.

Kisah tim pelanggan asal Tiongkok penakluk tim-tim pesaingnya adalah kisah klasik. Hal tersebut juga menjadi testimoni bagaimana FIA dan Formula E menerapkan aturan sebaik mungkin, antara pengembangan teknologi sekaligus pengiritan biaya yang menghasilkan balapan tak terprediksi, Techeetah berhasil menjadi jawara musim terakhir mobil Gen1 berlaga.

Jean-Eric Vergne, Techeetah

Jean-Eric Vergne, Techeetah

Foto oleh: Alastair Staley / LAT Images

“Saya tidak tahu apakah ada rahasia [sukses], atau hanya terus mencoba!” aku Edmund Chu, presiden tim saat dimintai komentar bagaimana cara mereka meraih kemenangan. “Pastinya ada beberapa hal, termasuk performa para pembalap kami.

“Jean-Eric sangat kencang, juga konsisten. Bersama Andre, pembalap rookie kami, ia membayangkan saat awal musim apakah mempunyai kemampuan setara dengan lainnya? Ia pun menjadi sangat kompetitif. Kesuksesan ini tidak lepas dari kerja keras mereka, melakukan simulasi selama 60 hari. Mereka pantas menerima banyak penghargaan.

“Mekanik kami bekerja dengan sangat baik, mengingat kami sempat tertinggal dari delapan tim lainnya karena tidak punya gandengan pabrikan. Namun mereka memastikan mobil bisa berlari kencang. Mekanik kami luar biasa, tidak ada masalah mekanis sepanjang musim. Kami menciptakan tim yang sangat kuat untuk tampil semaksimal mungkin.

“Kami tidak punya jadwal tes, kami juga tidak ada dana dari. Mau tidak mau kami harus bekerja ekstra untuk mengatasinya. Sungguh musim luar biasa, saat kami masih sedikit kecewa di hari terakhir! Paling tidak saat melihat hasil keseluruhan, kami bisa bernafas lega dengan prestasi kami.”

Lucas di Grassi, Audi Sport ABT Schaeffler, Jean-Eric Vergne, Techeetah., Daniel Abt, Audi Sport ABT Schaeffler, in the post race press conference

Lucas di Grassi, Audi Sport ABT Schaeffler, Jean-Eric Vergne, Techeetah., Daniel Abt, Audi Sport ABT Schaeffler, in the post race press conference

Foto oleh: Sam Bloxham / LAT Images

Hal pertama yang dilakukan Vergne saat konferensi pers pascabalapan kedua adalah menyalami Audi Sport yang resmi mengungguli Techeetah.

“Kami bukan konstruktor, kami hanyalah tim kecil,” ungkap Vergne. “Hasil yang cukup bagus bisa sampai di sana meski tertinggal dua poin dari mereka [Audi]. Saya ingin memberi selamat kepada seluruh orang di tim saya atas pencapaian musim ini. Jujur, sungguh luar biasa.

“Lihatlah kami sebagai tim privat, dana paling kecil, tanpa tes. Bayangkan seandainya kami adalah tim pabrikan dengan jatah tes 15 hari dan budget lebih? Saya rasa mereka makin ketar-ketir [ia menengok ke arah Lucas di Grassi, yang merespon dengan tangan gemetar].

“Saya tidak mau berpuas diri meski sudah meraih gelar. Saya makin merasa haus akan lebih banyak kemenangan. Menang di musim ini adalah satu hal, tapi segalanya kembali lagi ke nol. Itulah sikap yang harus saya tanamkan musim depan. Saya telah menantikan musim depan. 

"Fondasi Formula E ada di sini, dan itu seperti membangun rumah yang sangat bagus. Fondasinya sangat kuat, tak peduli angin atau petir [menerjang], itu akan tetap di sana. Kami memiliki banyak pabrikan dalam kejuaraan, dan saya pikir mulai musim depan level Formula E akan meningkat pesat, membuat semua orang terkejut.

"Seperti orang-orang yang yakin Formula E akan hancur, tidak akan berkembang seperti hari ini, saya pikir mereka akan kembali kaget dengan mobil Gen 2, dan organisasi yang lebih baik. Ada banyak hal besar tiba, ini akan benar-benar mengesankan, masih banyak kejutan bagi dunia."

Bukan hanya menjadi kunci sukses di dalam trek, Vergne juga menjadi motivator besar, serta aktor utama dalam kesuksesan Techeetah musim ini.

"Saya yakin telah bekerja lebih keras dibanding sebelumnya selama karier saya, karena saya memiliki pengaruh dalam tim lebih besar dibanding tempat sebelumnya," tambahnya. "Saya memiliki banyak hal untuk dikatakan dalam tim ini, dan memberi banayak input untuk tidak membuat kesalahan, serta memastikan segala sesuatunya benar terkait mobil dan tim. Saya menghabiskan cukup banyak energi dengan manajemen, coba membuat hal-hal itu terjadi."

Efisiensi adalah kunci

Team Principal Techeetah, Mark Preston, merupakan salah satu sosok kondang di F1, dengan pengalaman bersama Arrows, McLaren, dan Super Aguri. Ia percaya metode unik yang dijalankan Formula E dari sudut pandang teknis telah memungkinkan keajaiban kecil ini terjadi.

Jean-Eric Vergne, Techeetah, celebrates with his team in the garage after winning the championship

Jean-Eric Vergne, Techeetah, celebrates with his team in the garage after winning the championship

Foto oleh: Sam Bloxham / LAT Images

"Hal terbesar dari kejuaraan ini adalah tenaganya dibatasi," tuturnya. "Saya tak berpikir orang-orang menganggap ini merupakan hal besar. Jika anda di F1, dan MGU-H memiliki pengembangan tak terbatas dan Anda Mercedes, maka anda akan terus berkembang. Namun jika Anda Honda, anda akan selalu coba mengejar.

"Dalam kejuaraan ini, setidaknya saat kualifikasi, Anda memiliki tenaga puncak sama, dan Anda harus bisa beriringan dengan pembalap lain. Jika pembalap Anda hebat, dan Anda melakukan pekerjaan baik, Anda seharusnya bisa meraih pole.

"Mungkin Anda tak akan bertahan dalam balapan, karena energi serta hal-hal lainnya yang tak bisa Anda kendalikan untuk jarak tempuh balapan. Ini adalah satu-satunya di mana tenaga dibatasi. Saya yakin 100% bahwa itu merupakan parameter besar yang memberi kami kesempatan bersaing.

Meski tak memiliki afiliasi dengan pabrikan lainnya, Techeetah dapat membeli rangkaian powertrain, motor, inverter, dan girboks, secara lengkap dari Renault, dan dengan harga yang sangat murah (berkisar antara 100.000 hingga 500.000 Dollar Amerika).

Hal ini berarti banyak bagi tim kecil seperti Techeetah, yang tidak lebih besar dari tim papan atas Formula 2. Dengan ini, sumber daya mereka yang amat terbatas bisa dialihkan untuk peningkatan efisiensi, elemen esensial untuk sukses dalam Formula E.

Mengambil keuntungan komersial

Selain Team Principal, Techeetah juga menunjuk Keith Smouth, figur senior di F1 bersama BAR. Ia merasa tim berada dalam tren naik dalam kemampuan menarik sponsor. "Keuntungannya, kejuaraan kami memiliki ekosistem yang berkelanjutan.

Andre Lotterer, Techeetah.

Andre Lotterer, Techeetah.

Foto oleh: Alastair Staley / LAT Images

"Kami dapat melakukan pendekatan kepada perusahaan dalam dua tingkat. Entah itu dengan cara pemasaran konvensional dan sponsorship, atau CSR [Corporate Social Responsibility], kami memiliki kemampuan untuk mengejar area anggaran tersebut.

"Dan ini asli, kami tidak mengatakan bahwa kami ramah lingkungan, saya melihat apa yang terjadi di F1, dan saya melihat kami berada dalam posisi lebih baik.

Techeetah dimiliki oleh SECA CMC, yang juga salah satu investor dari Formula E. Mereka memiliki beberapa hak olahraga di Tiongkok, seperti NBHA, NHL, dan ATP, dan Formula E juga menjadi salah satu bagian penting dari portofolio mereka.

"Mereka ingin membuka pasar di Tiongkok untuk perusahaan Tiongkok melangkah ke pasar internasional, begitupun sebaliknya. Dan mereka melihat Techeetah sebagai jalur sempurna untuk itu," tambah Smout. "Mereka juga ingin memperhatikan pengembangan dari pembalap Tiongkok.

"Orang-orang Tiongkok suka kemenangan, dan kami menyukai sikap kami sebagai David ketika melawan Goliath. Tidak sejak di bar perusahaan menghubungi  saya, dan mengubahnya menjadi sebuah persetujuan. Dan itu terjadi musim ini sejak kami berada di posisi pertama."

Ini merupakan cerita luar biasa, sama seperti Leicester City, yang menggapai hal mustahil dengan menjuarai Liga Premier Inggris tiga musim lalu. Sama seperti Leicester, ini adalah saat Techeetah mengambil langkah maju lainnya.

Laporan tambahan oleh Andrew van de Burgt

Artikel Formula E berikutnya
Di Grassi: Saya lebih baik ketimbang saat jadi kampiun

Artikel sebelumnya

Di Grassi: Saya lebih baik ketimbang saat jadi kampiun

Next article

RESMI: FE musim kelima, Techeetah gandeng DS

RESMI: FE musim kelima, Techeetah gandeng DS
Load comments

Tentang artikel ini

Kejuaraan Formula E
Pembalap Andre Lotterer , Jean-Eric Vergne
Tim Techeetah
Penulis Charles Bradley
Tipe artikel Analisis