Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia

Sirkuit Formula E Jakarta, Selanjutnya buat Balap Apa?

Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC) di Ancol, Jakarta Utara, sukses menggelar seri Kejuaraan Dunia Formula E 2021-2022. Lantas, bagaimana masa depan trek tersebut?

Jake Dennis, Andretti Motorsport, BMW iFE.21, Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, EQ Silver Arrow 02

Jake Dennis, Andretti Motorsport, BMW iFE.21, Stoffel Vandoorne, Mercedes-Benz EQ, EQ Silver Arrow 02

Simon Galloway / Motorsport Images

Pembalap asal Selandia Baru Mitch Evans (Jaguar TCS Racing) mencetak sejarah dengan menjadi pemenang gelaran pertama Jakarta E-Prix yang menjadi putaran (round) kesembilan Formula E 2021-2022, Sabtu (4/6/2022) pekan lalu.

Sebagian besar pembalap dan tim-tim yang turun di JIEC memuji layout dan karakter sirkuit dengan panjang lintasan 2,4 km dengan lebar 12 dan memiliki 18 tikungan tersebut.

Dengan durasi kontrak tiga tahun (2022, 2023, 2024), mereka berharap musim depan JIEC bisa kembali menggelar Formula E. Jika memungkinkan, balapan dilangsungkan pada malam hari agar tidak panas.

Saat merancang trek, Irawan Sucahyono selaku Vice President Infrastructure and General Affairs of OC Jakarta ePrix 2022 menjelaskan bila JIEC didesain sesuai standar FIA dengan Grade 3.   

Sirkuit-sirkuit dengan standar Grade 3 bisa menggelar balap untuk mobil-mobil yang termasuk kategori II dengan rasio berat/tenaga (power) antara 2 dan 3 kg/hp. Sejak 2020, ada level khusus untuk trek-trek Formula E yang disebut Grade 3E.

Dengan standar Grade 3, JIEC sejatinya bisa menggelar berbagai balap mobil kelas dunia dan kontinental untuk kategori II, maupun seri-seri balap mobil nasional.

Pertanyaannya, sambil menunggu balapan Formula E berikutnya pada musim depan (atau mungkin bisa musim ini jika menjadi pengganti round lain), balapan apa berikutnya yang pas untuk JIEC jika sedang tidak dipakai untuk balap mobil single-seater bertenaga listrik?

Lucas di Grassi, Venturi Racing, Silver Arrow 02, Andre Lotterer, Porsche, Porsche 99X Electric, Sebastien Buemi, Nissan e.Dams, Nissan IM03, saat turun di balapan Formula E Jakarta E-Prix.

Lucas di Grassi, Venturi Racing, Silver Arrow 02, Andre Lotterer, Porsche, Porsche 99X Electric, Sebastien Buemi, Nissan e.Dams, Nissan IM03, saat turun di balapan Formula E Jakarta E-Prix.

Foto oleh: Simon Galloway / Motorsport Images

Banyak yang berharap, gencarnya pembangunan berbagai sirkuit di Indonesia – baik yang permanen maupun sementara seperti JIEC – diharapkan ikut membantu mendongkrak kegiatan balap di Tanah Air. Syukur-syukur bisa menjadi jalan bagi para pembalap Indonesia untuk go international.

Masalahnya, saat ini hampir semua trek untuk Formula E adalah sirkuit non-permanen yang dibuat di jalan-jalan raya tengah kota. Setelah gelaran Formula E, trek-trek tersebut akan kembali ke fungsi aslinya sebagai jalan untuk fasilitas umum.  

Sejauh ini, hanya Autodromo Hermanos Rodriguez di Meksiko dan Ricardo Tormo di Spanyol (musim ini tidak menggelar Formula E) yang merupakan sirkuit permanen dan dipakai untuk balap Formula E (dengan modifikasi tentunya).   

Jika melihat grade yang dimiliki, JIEC memang dirancang khusus untuk balap mobil. Sejumlah pelaku balap juga menilai JIEC bisa untuk menggelar balap mobil seperti seri Indonesia Sentul Series of Motorsport (ISSOM).

Namun begitu, dengan panjang lintasan hanya 2,4 km dan area run-off yang terbilang minim, tetap saja perlu modifikasi di beberapa area JIEC. Jika dipakai untuk balap mobil turing misalnya, para pembalap bisa jadi akan merasakan sensasi turun di sirkuit jalan raya Monte Carlo di Monako.

Lantas, bagaimana jika untuk balap roda dua alias sepeda motor? Irawan menyebut JIEC tidak dirancang untuk balap motor.

Tetapi, untuk balap motor level bebek alias underbone diyakini masih bisa. Tentu tetap dengan sejumlah ubahan, utamanya semua yang terkait aspek keselamatan balap.

Sebagai contoh, Sirkuit Karting Internasional Sentul yang hanya memiliki panjang 1,2 km dengan lebar 7-10 meter saja juga biasa menggelar balap motor kelas underbone.   

Namun begitu, JIEC tidak didesain untuk balap motor di atas kelas underbone. Karenanya, motor-motor sport berkapasitas 250cc ke atas rasanya akan sulit untuk digelar di JIEC.

Baca Juga:

Hingga saat ini, memang belum ada rencana ataupun agenda balap yang bakal digelar di JIEC seusai dipakai untuk Formula E.

Kendati begitu, pencinta dan pelaku balap di Indonesia tentu berharap JIEC bisa ikut membantu menggairahkan kembali lomba adu cepat kendaraan yang bisa dibilang kembang kempis dalam dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19.

Yang jelas, ini menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan, utamanya para promotor balap serta Ikatan Motor Indonesia (IMI) khususnya Pengprov DKI Jakarta, untuk bisa memanfaatkan JIEC semaksimal mungkin untuk pengembangan pembalap serta olahraga balap di Tanah Air.    

 

 

 

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Wehrlein Terkesan Usai Jajal Porsche Gen3 Formula E
Artikel berikutnya Alberto Longo: Jakarta E-Prix Salah Satu Seri Formula E Terbaik

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia