Susie Wolff: Pemimpin Itu Harus Autentik

Sebagai wanita, Susie Wolff terbilang sangat sukses berkarier di balap mobil hingga melanjutkannya dengan memimpin sebuah tim balap di Formula E.

Susie Wolff: Pemimpin Itu Harus Autentik

Lahir di Oban, pantai barat Skotlandia, pada 6 Desember 1982, Susie Wolff sudah menunjukkan kecintaan dan potensinya di olahraga balap (motorsport), sejak menggeluti gokar.

Terlahir dengan nama Susie Stoddart (sampai menikah dengan Toto Wolff, Prinsipal Tim Mercedes-AMG Petronas, pada Oktober 2011), wanita 38 tahun itu memang memiliki darah dan lingkungan olahraga bermotor.

Sang ayah, John Stoddart, adalah pembalap motor dan memiliki bengkel di Oban. Ibunda Susie, Sally, mengenal suaminya saat membeli sepeda motor pertamanya. Kakek dari sang ibu, David Tye, termasuk kroser top Skotlandia pada era tahun 1950-an.

“Oh iya, kakek saya dari ayah juga bekerja untuk Rolls-Royce. Jadi, otomotif sudah mengalir di darah saya ini,” ucap Susie, beberapa tahun lalu.

Pada 1996, dalam usia 13 tahun, Susie terpilih sebagai Pembalap Gokar Wanita Terbaik Inggris. Dari situ karier balapnya di gokar terus menanjak. Ia kemudian untuk kali pertama memenangi 24Hr Middle East Kart Championship dan Scottish Junior Intercontinental “A” pada 1997.

Susie memegang predikat sebagai Pembalap Gokar Wanita Terbaik Inggris empat tahun beruntun dan pada 2000 ia mendapatkan penghargaan sebagai Pembalap Gokar Wanita Terbaik Dunia.

Baca Juga:

Pada 2002, Susie melanjutkan karier profesionalnya dengan turun di Formula Renault Inggris. Empat kali naik podium membuatnya masuk nominasi Pembalap Muda Inggris Terbaik hingga dua kali.

Setelah tiga musim di Formula Renault Inggris (2002-2004) dengan hasil terbaik peringkat kelima klasemen akhir pada 2004, Susie naik ke Formula 3 Inggris bersama Tim Alan Docking Racing.

Baru dua kali berlomba F3 pada 2005, Susie mengalami cedera pergelangan kaki (engkel) yang membuatnya kehilangan posisi dan sponsor.

“Saya sangat terpukul karena selain karier, saya juga mengalami masalah dengan sponsor. Di Formula Renault saat itu, saya harus mencari 100 ribu pounds setahun. Tapi di F3, Anda wajib membawa minimal 500 ribu per tahun. Jelas saya tidak memilikinya,” ucap Susie, mengenang.

Beruntung, pada 2006, Mercedes-Benz menarik Susie untuk turun di ajang balap mobil turing Jerman, Deutsche Tourenwagen Masters (DTM). Mercedes menawarinya kontrak tahunan dengan durasi maksimal tujuh tahun.

Sampai 2012, Susie turun di DTM masing-masing bersama Mucke Motorsport (2006-2007) dan Persson Motorsport (2008-2012). Selama berkarier DTM inilah Susie bertemu Toto Wolff dan kemudian menikah pada Oktober 2011.

Susie Wolff menggeber AMG Mercedes C-Coupe milik Tim Persson Motorsport pada sebuah lomba DTM musim 2012.

Susie Wolff menggeber AMG Mercedes C-Coupe milik Tim Persson Motorsport pada sebuah lomba DTM musim 2012.

Foto oleh: DTM

Susie pun menyebut DTM sebagai seri balap ‘parallel universe’, dunia yang paralel (sejajar), karena pabrikan yang membiayai semua keperluan pembalap.

“Saya sedang memikirkan sewa mobil lalu tiba-tiba Mercedes memberikan sebuah C-Class baru. Hal pertama yang saya lakukan setiap pagi saat itu adalah membuka gorden dan memastikan mobil itu masih di sana,” ucap Susie mengingat awal-awal dikontrak Mercedes.

“Saya juga langsung memiliki uang di bank dan dikirimi pakaian dan sepatu, utamanya perlengkapan balap.”

Puncak karier balap Susie adalah saat Tim Williams Racing menjadikannya pembalap pengembang mobil (development driver) selama tiga tahun mulai 2012 untuk kemudian menjadi penguji (testdriver) pada 2015.

Banyak yang menduga, keputusan Williams merekrut Susie tidak lepas dari unsur nepotisme. Maklum, sang suami, Toto Wolff, kala itu memang memiliki saham di tim asal Grove, Inggris, tersebut.

“Sepanjang karier balap, semua yang saya capai hanya berkat apa yang sudah saya lakukan di trek. Itu saja dasarnya,” kata Susie Wolff.

Pada GP Inggris 2014, Susie membuat sejarah dengan menjadi pembalap wanita pertama dalam 22 tahun, yang ambil bagian dalam sebuah akhir pekan lomba Formula 1. Sayang, debut Susie terkendala masalah mesin di Sirkuit Silverstone.

Berikutnya, Susie juga sempat ikut latihan bebas (Free Practice/FP) Tim Williams di GP Jerman 2014 dan menempati P15 dari 22 mobil dengan waktu lap 1 menit 20,769 detik atau hanya 0,2 detik lebih lambat dari pembalap Williams saat itu, Felipe Massa.

Tim Williams Racing saat memperkenalkan komposisi pembalapnya pada tes pramusim F1 2015, ki-ka: Valtteri Bottas, Felipe Massa, dan kedua test driver, Susie Wolff dan Alex Lynn.

Tim Williams Racing saat memperkenalkan komposisi pembalapnya pada tes pramusim F1 2015, ki-ka: Valtteri Bottas, Felipe Massa, dan kedua test driver, Susie Wolff dan Alex Lynn.

Foto oleh: Alastair Staley / Motorsport Images

Pada F1 2015, Susie juga dilibatkan Williams dalam tes pramusim. Lalu, ia mencatat 1:29,708 menit pada FP1 GP Spanyol. Ia juga turun di FP GP Inggris dengan menembus 1:37,242 menit untuk berada di P13 dari 20 mobil.

Usai menyatakan mundur dari F1 pada November 2015, Susie Wolff bergabung ke Mercedes sebagai duta merek mereka mulai 2016.

Pada 2018, Susie Wolff dipercaya menjadi Prinsipal Tim Venturi Racing yang turun di Formula E. Ia kemudian juga menjadi salah satu pemegang saham tim tersebut.

Di bawah kepemimpinannya, tim asal Monaco tersebut mencetak hasil tersukses pada 2018-19 dengan menuai total 88 poin untuk finis di P8 klasemen akhir usai mencetak kemenangan di Hong Kong dan dua finis podium lainnya.

Itulah hasil terbaik Venturi Racing di Formula E hingga saat ini. Sejak musim keenam (2019-20), Venturi memakai powertrain dari Mercedes-Benz. Di Formula E 2020-21 ini, Venturi Racing diperkuat Edoardo Mortara dan Norman Nato.  

Lantas, dari mana Susie Wolff mampu beralih karier tidak terlau jauh dari pembalap ke pemimpin tim, dengan sukses?

Susie pun mengakui belajar banyak hal saat menjadi duta She’s Mercedes – platform jaringan yang didedikasikan untuk menginspirasi, menghubungkan, dan memberdayakan wanita untuk menjadi yang terbaik – pada 2016.

Prinsipal Tim Venturi Racing Susie Wolff (kiri) dan suami, Toto Wolff (Prinsipal Tim Mercedes AMG F1), mengapit seorang pit lane marshal Diriyah E-prix II di Arab Saudi pada Formula E 2019-20.

Prinsipal Tim Venturi Racing Susie Wolff (kiri) dan suami, Toto Wolff (Prinsipal Tim Mercedes AMG F1), mengapit seorang pit lane marshal Diriyah E-prix II di Arab Saudi pada Formula E 2019-20.

Foto oleh: Dan Bathie / Motorsport Images

“Lewat program tersebut saya bisa bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, lingkungan, dan pengalaman yang berbeda. Program ini selain mampu menginisiasi wanita untuk berkembang juga mau mendengarkan suara dan aspirasi wanita,” katanya.

Susie juga belajar banyak dari sang suami tentang cara memimpin tim balap. Meskipun begitu, ia dan Toto Wolff memiliki gaya manajemen yang berbeda.

“Salah satu dari banyak hal penting yang saya pelajari dari Toto adalah, seorang pemimpin itu haruslah autentik, dapat dipercaya dan diakui bawahan. Sukses Toto sebagai pemimpin tim bisa dilihat dari keberhasilan Mercedes di Formula 1,” kata ibu satu anak tersebut.

Selain pengalaman, Toto Wolff mengaku selama ini triknya memimpin tim sekelas Mercedes sangat sederhana. Memahami kekuatan dan kelemahan setiap individu di tim sekaligus tahu cara memberdayakan mereka dengan kondisi-kondisi tersebut.  

“Indikator utama sukses pemimpin di olahraga balap seperti F1 atau balap formula lain sebetulnya sederhana, hasil bagus di trek hanya akan terjadi bila Anda melakukan tugas dengan benar,” ucap Susie Wolff.

dibagikan
komentar
Sette Camara Belum Coba Mobil Baru Dragon Penske

Artikel sebelumnya

Sette Camara Belum Coba Mobil Baru Dragon Penske

Artikel berikutnya

Pembalap Formula E Serukan Perubahan Format Kualifikasi

Pembalap Formula E Serukan Perubahan Format Kualifikasi
Muat komentar