IMI 115 Tahun, Publik Indonesia Rindukan Ajang Balap Dunia

Sabtu (27/3/2021) pekan lalu, Ikatan Motor Indonesia (IMI) genap berusia 115 tahun. Apa yang diharapkan publik dari induk organisasi olahraga bermotor tertinggi di Tanah Air itu?

IMI 115 Tahun, Publik Indonesia Rindukan Ajang Balap Dunia

Sebagai organisasi, usia IMI bisa dibilang sudah sangat matang, 115 tahun. Javasche Motor Club (JMC) yang didirikan pada 27 Maret 1906 adalah cikal bakal IMI. Nama JMC kemudian berubah menjadi Het Koningklije Nederlands Indische Motor Club (KNIMC).

Nama KNIMC kemudian diganti lagi menjadi Indonesische Motor Club (IMC) sampai saat penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini oleh Departemen Perhubungan.

Sejak IMC diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950 nama IMC berubah menjadi Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Sebagai organisasi yang berhubungan dengan kendaraan bermotor, tugas IMI memang terbilang kompleks. IMI berkewajiban dalam membuat aturan, serta mengawasi jalannya olahraga otomotif, termasuk program-program pariwisata.

IMI juga berpartisipasi dalam menciptakan keamanan lalu lintas dan ketertiban di jalan raya kepada masyarakat dan khususnya untuk semua penggemar motor sport.

Salah satu tugas IMI di bidang olahraga balap adalah mendorong para atlet melalui berbagai jenis kegiatan yang dilakukan seperti ajang lokal (klub, provinsi, regional), tingkat nasional dan internasional, serta mendorong penyelenggara kompetisi untuk melakukan standar internasional dan kegiatan profesional.

Tugas memajukan olahraga balap ini menjadi salah satu tantangan terbesar IMI yang sejak akhir Desember 2020 lalu memiliki ketua umum baru, Bambang Soesatyo. Pria yang juga menjabat Ketua MPR RI itu menjadi Ketua Umum PP IMI ke-15.

Saat baru dilantik dan mengumumkan susunan pengurus, pria yang akrab disapa Bamsoet itu berjanji bahwa IMI harus mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan motorsport level dunia setiap tahunnya.

Ini tentu menjadi angin segar bagi pencinta olahraga balap di Tanah Air jika mengingat beberapa seri kejuaraan dunia pernah “mampir” ke sini.

Galang Hendra, Ten Kate Yamaha dan Bambang Soesatyo, Ketua Umum IMI Pusat.

Galang Hendra, Ten Kate Yamaha dan Bambang Soesatyo, Ketua Umum IMI Pusat.

Foto oleh: Yamaha Racing Indonesia

Tahun ini, Indonesia dipastikan menggelar dua lomba seri Kejuaraan Dunia Motocross 2021 dengan title MXGP of Asia di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah, pada 4 Juli serta MXGP of  Indonesia di Bali pada 11 Juli.

Di Kejuaraan Dunia Supebike (WSBK) 2021, Mandalika International Street Circuit di Lombok, Nusa Tenggara Barat, akan menjadi tuan rumah putaran ke-11 Indonesia pada 13 dan 14 November.

Sementara, untuk ajang balap motor paling bergengsi Kejuaraan Dunia Balap Motor, MotoGP, Mandalika masih berstatus cadangan. Selain harus menyelesaikan fisik trek berikut fasilitas pendukungnya, Mandalika juga masih harus melewati proses homologasi dari FIM sebagai organisasi balap tertinggi di dunia.

Publik tentu sangat ingin kembali menyaksikan para pembalap MotoGP turun di Indonesia seperti yang terjadi pada 1996 dan 1997 lalu di Sirkuit Internasional Sentul, saat kelas utama masih bernama 500 cc.

Sebagai anggota FIM – dan beberapa badan balap tertinggi dunia seperti FIA, AIT, dan OTA – peran IMI jelas diperlukan untuk memuluskan langkah Indonesia, dalam hal ini Mandalika, agar mampu menggelar ajang balap motor paling digemari di dunia tersebut.

Menggelar ajang balap kelas dunia, untuk kasus di Indonesia, tentu butuh sinergi dari para pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah, organisasi motorsport, promotor lokal, dan tentu saja pengelola sirkuit.

Motorsport.com pernah berbincang singkat dengan Hutomo Mandala Putra, Ketua Umum PP IMI periode 1991-1995, tentang rahasia keberhasilan Indonesia menggelar berbagai ajang balap dunia pada era awal hingga pertengahan 1990-an.

Selain Kejuaraan Dunia Balap Motor, Indonesia juga pernah menggelar WSBK pada 1994-1997 di Sentul. Masih di era itu, Medan menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Reli (WRC) pada 1996 dan 1997.

Saat ajang-ajang kelas dunia itu digelar, IMI dipimpin Hutomo MP dan Bob R.E Nasution (1995-2003). Hutomo yang akrab disapa Tommy Soeharto menyebut, keberhasilan Indonesia menggelar berbagai ajang dunia saat itu memang atas bantuan semua pihak.

Menurutnya, selain dukungan dari pemerintah, IMI juga aktif dalam lobi-lobi ke FIA maupun FIM. Peran bidang hubungan luar negeri IMI saat itu dinilai sangat krusial.

Baca Juga:

Peran IMI sudah tidak terhitung dalam mendatangkan berbagai kejuaraan dunia ke Indonesia. Namun, IMI tentu tidak bisa bergerak sendirian. Butuh dukungan banyak pihak untuk mewujudkan impian pencinta balap agar bisa menyaksikan lagi pembalap kelas dunia beraksi di sini.

Apa yang dilakukan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) selaku promotor lokal MotoGP dan WSBK di Indonesia 2021 dalam melobi Dorna Sports – pemegang hak penyelenggaraan dan komersial kedua ajang balap itu – patut diapresiasi.

Namun begitu, peran IMI sebagai organisasi olahraga balap tertinggi di Indonesia tentu tetap dibutuhkan untuk mendatangkan berbagai kejuaraan dunia di luar balap motor.

Melihat kondisi ekonomi dan geografis Indonesia saat ini, gelaran seperti WRC atau Kejuaraan Dunia Motocross sepertinya berpeluang mampu rutin digelar di Indonesia.

Dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki, IMI diharapkan mampu menjaga kepercayaan promotor MXGP agar tetap rutin menggelar balap di Indonesia.

Jangan lupakan kejuaraan-kejuaraan dunia lain seperti WRC maupun balap mobil karena Indonesia masih memiliki Sirkuit Internasional Sentul plus Sentul International Karting Circuit (SIKC) yang juga memiliki standar internasional.    

 

 

dibagikan
komentar
Electric Days Digital Soroti Transisi Ekologis Mobilitas

Artikel sebelumnya

Electric Days Digital Soroti Transisi Ekologis Mobilitas

Artikel berikutnya

Motorsport Images Resmi Jadi Penyedia Foto Extreme E

Motorsport Images Resmi Jadi Penyedia Foto Extreme E
Muat komentar