Olahraga Balap Indonesia Tertinggal 10 Tahun dari Eropa

Ikatan Motor Indonesia (IMI) memiliki tugas sangat berat ke depan karena motorsport Indonesia sudah tertinggal jauh.

Olahraga Balap Indonesia Tertinggal 10 Tahun dari Eropa

Nama Ricardo Gelael sudah tidak asing lagi bagi pencinta olahraga otomotif di Tanah Air. Apalagi, ia juga ayah dari Sean Gelael, runner-up kelas LMP2 World Endurance Championship (WEC) alias Kejuaraan Dunia Balap Ketahanan Mobil.

Motorsport.com Indonesia berkesempatan melakukan wawancara dengan pria yang akrab disapa Kadok tersebut di sela-sela putaran terakhir Kejuaraan Nasional Sprint Rally 2021 di Meikarta, Cikarang, Jawa Barat, akhir pekan ini.

Baca Juga:

Apa kesibukan Anda saat ini?

Saya masih di Kentucky (Kentucky Fried Chicken/KFC). Meneruskan perusahaan keluarga.

Pandangan Anda soal olahraga otomotif di Tanah Air?

Saya bicara sama Ketua IMI. Tidak ada Ketua IMI yang mempunyai blue print. Kita selalu ngomong Formula 1, MotoGP, saya bilang itu entertainment. Terus saya bilang, you mau ngebangun apa entertainment?

Kalau you mau membangun motorsort Indonesia, lihat dulu apa yang kita punya saat ini dan mau ke mana road­-nya. Jangan ngomong F1 dulu deh, terlalu jauh kalau F1.

Hari ini, yang kita mesti beresin. Pertama, atlet yang baik hanya dihasilkan oleh fasilitas yang bener dan kompetisi yang baik. Enggak ada deh atlet yang baik kalau dua ini berantakan.

Kedua, hari ini, kita pembalap motor, banyak pembalap underbone (sepeda motor bebek). Roda empat, dimulai dari gokart. Beresin dulu ini. Minta lahan sama pemerintah daerah (pemda) minta lahan buat sirkuit.

IMI kan mempunyai kalender nasional, yang lain enggak ada. Coba deh, misalnya kasih empat bulan Suzuki di Sumatra, lalu empat bulan Honda di Jawa, dan Yamaha di tempat lainnya, atau tukar. Kasih fasilitas yang benar untuk para pembalap ini.

Lalu?

Bicaralah dengan Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Ini kan barang tidak dipakai di jalan raya, tidak butuh surat-surat, STNK. Yang jelaslah semuanya, pajaknya berapa, apa harus bayar berapa persen.

Lantas, bangunlah industri pendukung balap. Kita enggak punya industri ban balap, bahan bakar balap, belum lagi spare part yang lain. Ini semua hanya untuk keperluan kompetisi.

Kalau ini semua jalan, kita lihat. Nanti sponsor akan datang. Lantas, media juga dirangkul. Itulah menurut saya program-program yang harus dilakukan IMI dan seluruh anggotanya.

Ricardo Gelael, mantan pereli sekaligus ayah pembalap Indonesia Sean Gelael

Ricardo Gelael, mantan pereli sekaligus ayah pembalap Indonesia Sean Gelael

Foto oleh: I Gede Ardy Estrada

Kalau untuk saat ini, sambil menunggu realisasi di atas, apakah mengirim pembalap ke luar negeri seperti yang Anda lakukan terhadap Sean Gelael, opsi terbaik?

Kalau saya sudah kecebur di luar negeri, enggak bisa apa-apa. Kalau memang kompetisinya lebih baik, ya memang lebih baik kirim ke sana. Sebagai contoh, putra Firhand Ali (mantan pembalap), Qarrar, yang juga sudah turun (karting) di luar. Anda bisa bayangkan, olahraga balap kita 10 tahun ketinggalan dari Eropa.

Seberapa efektif mengirim pembalap untuk turun di luar negeri?

Dulu waktu Sean turun di gokart, dia juga sering tabrakan. Setahun di Formula 3, ia juga masih sering insiden. Tabrak-tabrak saja biar dapat respek. Dua, tiga tahun di gokart untuk dia dapat mental.

Lalu, orang kita selalu lihat hasil, tidak pernah menghargai proses. Saya kasih contoh, MotoGP deh. Honda dan Yamaha berapa kali juara dunia, pembalapnya enggak ada satu pun yang juara dari Jepang, padahal mereka sudah memiliki ajang balap bagus, mampu membuat mesin. Masalahnya mental. Mau sejago apa pun kalau mental sudah jatuh, grogi, habis sudah.

Apakah ada solusi untuk mengatasi masalah mental tersebut?

Saya ada cerita nih. Saya pernah meminta mind coach Lewis Hamiton (juara dunia F1 tujuh kali) untuk menangani Sean. Dia bilang ingin coba dulu sebulan, mengobrol, menemani kegiatan Sean.

Lalu dia menemui saya, dan bilang: “Mana ada sih yang enggak mau menangani Sean. Ia very nice, polite (sopan), smart. Tapi ini semua kelemahan pembalap.” Pembalap itu harus egois, bastard, yah kayak Max (Verstappen).

Tapi lalu saya bilang, dia (Sean) harus tetap ikuti advice saya. Saya tidak mau Sean menjadi seperti itu karena setelah tidak menjadi pembalap nanti, ia akan sulit hidup normal kalau seperti itu. Orang Asia persepsinya bisa berbeda jika melihat orang sombong, egois, bastard.

Ada dua orang yang sebetulnya bilang begitu. Satu lagi bos Tim Scuderia Toro Rosso (kini AlphaTauri), Franz Tost. “Sean is too nice. He need more bastard.” Tapi, ya begitulah balap.

#28 Jota Oreca 07 Gibson: Sean Gelael, Stoffel Vandoorne, Tom Blomqvist saat turun di WEC Bahrain 8 Hours 2021.

#28 Jota Oreca 07 Gibson: Sean Gelael, Stoffel Vandoorne, Tom Blomqvist saat turun di WEC Bahrain 8 Hours 2021.

Foto oleh: JEP / Motorsport Images

Sean Gelael tahun depan akan turun bersama WRT di World Endurance Championship (WEC)….

Di Jota Sport kontraknya memang hanya setahun. Bersama WRT, Sean berencana akan turun pada musim 2022 dan 2023. Kenapa kami pilih WRT? Karena mereka ditunjuk sebagai factory team­-nya Audi untuk LMPH (Hypercar), ya F1-nya GT-lah.

Saat ini, hanya Toyota dan Alpine yang turun di LMPH, Jadi, pada 2023 (kelas LMPH) rencananya masuk enam pabrikan dan 2024 akan ada 12 manufactures. Jadi, ini kelas akan gedelah. Pabrikan yang keluar dari Formula E seperti Audi, Porsche, akan masuk ke sini.

Jadi, Sean nanti dapat mobil satu tapi bukan factory car melainkan semifactory car artinya, biayanya separuh factory car. Harapannya, kalau dia bagus, akan jadi kesempatan untuk turun pada 2024 dengan factory car. Rute itu yang kami ambil.

Selain turun di WEC, apakah Sean Gelael akan turun di ajang lain tahun depan?

Tahun depan sebenarnya ada banyak tes F1. Tetapi karena dia sudah di Audi, agak susah larinya nih. Jadi biar dia konsentrasi di situ saja. Kayaknya cocok dia di sana. Sean itu bukan sprinter. Untuk satu lap kencang, dia mungkin agak sulit. Tapi untuk panjang, dia konsisten.

Porsche berencana ke F1. Jika benar jadi, mungkin lewat Audi bisa ikut tes F1?

Menurut saya sudah terlambat karena Sean sudah 25 (tahun). Pada 2023 akan 27. Siapa yang akan lirik dia. Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka pernah telepon Brandon Hartley untuk uji F1, gagal. Jadi, kami realistis saja. Masalahnya, sekarang generasi pembalap di bawah Sean yang akan meneruskannya belum ada.

Adakah rencana Anda untuk menjadi promotor?

Saya mau bawa Asian Le Mans Series ke Mandalika (Pertamina Mandalika International Street Circuit) pada 2023 karena pada 2022 sudah di Dubai dan Abu Dhabi.

dibagikan
komentar
Sebastian Vettel dan Mick Schumacher Ramaikan Race of Champions 2022
Artikel sebelumnya

Sebastian Vettel dan Mick Schumacher Ramaikan Race of Champions 2022

Artikel berikutnya

Robert Reid: Motorsport Jangan Hanya Berfokus pada Elektrifikasi

Robert Reid: Motorsport Jangan Hanya Berfokus pada Elektrifikasi
Muat komentar