Opini: Menanti motorsport masuk ke pesta olahraga dunia

dibagikan
komentar
Opini: Menanti motorsport masuk ke pesta olahraga dunia
Oleh: Wisnu Setioko
28 Agt 2018 08.08

Gelaran Asian Games 2018 segera berakhir. Sebagian dari kita mungkin pernah bertanya-tanya; kapan motorsport masuk cabang olahraga Olimpiade atau pesta olahraga lainnya?

Wacana ini tidak muncul begitu saja. Sudah cukup lama muncul berbagai suara tentang kemungkinan masuknya olahraga balap sebagai salah satu cabor pesta olahraga berbagai kawasan.

Namun, tidak sedikit pula yang mempertentangkannya. Mereka yang kontra menilai, motorsport bukanlah sebuah olahraga dengan alasan persentase gerakan tubuh tidak sebanyak cabang lain seperti sepakbola, atau bahkan sepeda, yang sama-sama menggunakan kendaraan saat berlaga.

Meski demikian, pada kenyataannya motorsport pernah masuk sebagai cabang olahraga tidak resmi Olimpiade 1900. Ya, lebih dari seabad silam sebagian besar pembalap asal Eropa bertarung memperebutkan tiga medali dari berbagai jenis kendaraan.

Semangat itulah yang mungkin ingin dihidupkan oleh Felipe Massa, eks pembalap Formula 1 yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi Balap Gokart FIA.

Eks pembalap Williams tersebut menargetkan gokart elektrik masuk sebagai salah satu cabang olahraga Olimpiade 2024. Sebelum ke sana, gokart akan dipertandingkan pada Olimpiade Pemuda 2018 di Buenos Aires, Oktober nanti.

Upaya tersebut didukung oleh nota kesepahaman antara FIA dan IOC (International Olympic Committee), 11 April 2018. Status FIA sebagai anggota ARISF (Association of IOC Recognised International Sports Federations, atau Asosiasi Federasi Olahraga Internasional yang diakui IOC) membawa angin segar bagi upaya pengangkatan motorsport ke Pesta Olahraga Dunia.

Sebelum pertemuan tersebut, tepatnya pada Pekan Olahraga Nasional XIX di Jawa Barat dua tahun lalu, Balap Motor resmi dipertandingkan. Dengan spek tunggal, seluruh pembalap harus beradaptasi cepat dengan tunggangan mereka demi meraih medali.

Baca Juga:

Slider
List

Team Germany Sebastian Vettel, driving the KTM X-Bow Comp R

Team Germany Sebastian Vettel, driving the KTM X-Bow Comp R
1/6

Foto oleh: Race of Champions

Juan Pablo Montoya, driving the RX Supercar Lite

Juan Pablo Montoya, driving the RX Supercar Lite
2/6

Foto oleh: Race of Champions

Petter Solberg, driving the KTM X-Bow Comp R

Petter Solberg, driving the KTM X-Bow Comp R
3/6

Foto oleh: Race of Champions

Team Great Britain David Coulthard, Team Nordic Petter Solberg, driving the KTM X-Bow Comp R beats

Team Great Britain David Coulthard, Team Nordic Petter Solberg, driving the KTM X-Bow Comp R beats
4/6

Foto oleh: Race of Champions

Team Nordic Tom Kristensen, races Team Germany Sebastian Vettel, driving the Radical SR3 RSX

Team Nordic Tom Kristensen, races Team Germany Sebastian Vettel, driving the Radical SR3 RSX
5/6

Foto oleh: Race of Champions

Team USA IndyCar Alexander Rossi, beats Team USA NASCAR Kyle Busch, driving the ROC Car

Team USA IndyCar Alexander Rossi, beats Team USA NASCAR Kyle Busch, driving the ROC Car
6/6

Foto oleh: Race of Champions

Adaptasi format balapan RoC dan WRX

Soal rencana, tidak jadi masalah. Sekarang, mari berbicara soal format balapan. Mungkinkah menggunakan banyak sirkuit layaknya gelaran Grand Prix? Bagaimana bila memakai format ala Race of Champions dan World Rallycross?

Demi menghemat waktu dan tempat, format ala RoC atau Rallycross rasanya cukup masuk akal, mengingat pesta olahraga berbagai kawasan biasanya berlangsung selama dua minggu.

Seperti babak penyisihan dalam olahraga lainnya, pembalap dibagi menjadi beberapa grup, saling bertanding head-to-head seperti di RoC hingga final.

Bila lebih ingin memanaskan suasana, format WRX bisa diadaptasi. Sebanyak lima hingga enam perwakilan negara bertarung dalam tiap heat untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya hingga balapan pamungkas.

Membawa motorsport ke Olimpiade atau pesta olahraga lainnya membutuhkan venue cukup besar. Namun dengan pengalaman RoC ‘menyulap’ stadion olahraga lain menjadi sirkuit semi-permanen, rasanya tidak akan ada masalah.

Akan lebih baik bila kota penyelenggara memiliki sirkuit gokart, tinggal mempercantik fasilitas yang ada.

Baca Juga:

Slider
List

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden
1/5

Foto oleh: FIA World Rallycross

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden
2/5

Foto oleh: FIA World Rallycross

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden, Janis Baumanis, STARD, Sébastien Loeb, Team Peugeot Total

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden, Janis Baumanis, STARD, Sébastien Loeb, Team Peugeot Total
3/5

Foto oleh: FIA World Rallycross

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden, Sébastien Loeb, Team Peugeot Total, Mattias Ekström, EKS Audi Sport

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden, Sébastien Loeb, Team Peugeot Total, Mattias Ekström, EKS Audi Sport
4/5

Foto oleh: FIA World Rallycross

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden

Petter Solberg, PSRX Volkswagen Sweden
5/5

Foto oleh: FIA World Rallycross

Opsi selain gokart elektrik

Selain gokart listrik, mobil siluet spek tunggal bisa menjadi pilihan untuk diusung, tentu saja dengan mesin listrik, karena FIA tengah gencar memasyarakatkan balap elektrik belakangan ini.

Mulai 2021, WRX dipastikan akan menggunakan mobil reli bertenaga baterai. Bila berjalan lancar, bukan tidak mungkin sekian tahun ke depan nomor reli elektrik akan muncul di cabor motorsport.

Mengingat tidak ada batasan umur untuk mengikuti mayoritas pesta olahraga, pembalap dengan pengalaman F1 atau World Endurance Championship pun seharusnya bukan menjadi soal.

Bila mengambil langkah demikian, harus ada usia dan pengalaman minimal bagi mereka untuk bisa berlaga, dibuktikan dengan poin superlicense atau ajang yang pernah diikuti.

Begitu pula bila ingin mendahulukan bibit muda. Sudah selayaknya mereka dengan segudang pengalaman memberi jalan bagi para pembalap junior di negaranya.

Akhir kata, tidak ada yang tidak mungkin, mengingat olahraga balap sudah terlebih dahulu dipertandingkan di PON. Kita tunggu kiprah motorsport di Olimpiade 2024 Paris.

Artikel General berikutnya
Rockingham hentikan kegiatan motorsport

Artikel sebelumnya

Rockingham hentikan kegiatan motorsport

Next article

Review Over Drive: Rumitnya dunia motorsport

Review Over Drive: Rumitnya dunia motorsport
Load comments

Tentang artikel ini

Kejuaraan General
Penulis Wisnu Setioko
Tipe artikel Komentar