Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia
Special feature

Pembalap Meninggal, Sirkuit Sentul Masih Layak?

Salah satu talenta muda Indonesia Kevin Safaruddin Madaria harus kehilangan nyawa di Sirkuit Internasional Sentul usai alami kecelakaan saat mengikuti Yamaha Sunday Race.

Sentul International Circuit

Foto oleh: Derry Munikartono

“Ex-rider DKI Jakarta berduka, telah wafat Kevin bin Faruk Safaruddin pukul 15:35 WIB, setelah crash balap di Sirkuit Internasional Sentul.

“Kevin merupakan ananda tercinta dari Bapak H. Faruk Apang dan Ibu Maya. Semoga amal ibadahnya di terima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan diampuni semua dosa-dosa, serta diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

“Keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Mohon doanya dari teman dan pecinta balap Tanah Air.”

Itulah pesan yang diterima Motorsport.com Indonesia melalui pesan WhatsApp yang tentu saja sangat mengejutkan. Mengingat Kevin masih sangat muda dan memiliki kesempatan untuk melanjutkan kariernya di ajang internasional.

Tetapi takdir berkata lain. Kevin dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah kecelakaan. Meski sempat mendapat perawatan, ia tidak dapat bertahan dan harus kembali ke sang pencipta lebih cepat.

Kecelakaan yang dialami oleh Kevin salah satu faktornya akibat permukaan lintasan Sirkuit Internasional Sentul sangat tidak layak untuk digunakan balap motor. Bahkan, dianggap tak layak untuk menggelar perlombaan apa pun.

Baca Juga:

Motorsport.com Indonesia sempat merasakan lintasan Sirkuit Internasional Sentul sebelum balapan Yamaha Sunday Race pada Minggu (28/8/2022) dimulai. Beberapa bagian memang sudah diperbaiki, tapi hanya tambal sulam sekitar 1,5-2 meter, tepatnya di Tikungan 6 dan 7.

Sedangkan area lain, banyak permukaan aspal yang terkelupas, dan lintasan sangat kotor, dipenuhi pasir serta butiran aspal. Jelas ini sangat membahayakan bagi pembalap motor, bahkan mobil balap juga bisa sangat mudah tergelincir.

Kemudian, di Tikungan 8 dan 9, bagian dalam atau apex sangat bergelombang dan berpasir yang membuat motor mudah tergelincir jika dipacu dalam kecepatan tinggi. Apakah Sirkuit Internasinal Sentul masih layak menggelar balapan?

Satu nyawa yang hilang sudah terlalu banyak, dan rasanya Sirkuit Internasional Sentul harus merenovasi besar-besaran. Pengelola sirkuit harus memikirkan keselamatan dan keamanan pembalap dibandingkan uang yang diterima dari sang penyewa.

Tikungan 9 Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, Jawa Barat

Tikungan 9 Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, Jawa Barat

Foto oleh: PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM)

Sirkuit Internasional Sentul sendiri dibangun pada 1986 dan selesai pada 1993, dengan menelan biaya sebesar Rp120 miliar. Sejak saat itu, tidak ada renovasi besar yang dilakukan.

Sentul seharusnya bisa menjaga nama baik mereka, karena pernah menjadi tuan rumah MotoGP atau yang saat itu dikenal 500cc pada 1996 dan 1997 silam.

Tak elok rasanya jika itu dikenal dengan sirkuit pencabut nyawa, lantaran setiap pembalap yang akan balapan di sana dirundung kekhawatiran itu akan menjadi hari terakhir mereka hidup di dunia.

Idemitsu bLU cRU Yamaha Sunday Race Seri Kedua

Idemitsu bLU cRU Yamaha Sunday Race Seri Kedua

Foto oleh: PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM)

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Obrolan Garasi #9: Stephanus Widjanarko, Satu-satunya Engineer F1 dari Indonesia
Artikel berikutnya MotoGP Rilis Hasil Survei, Fabio Quartararo Pembalap Terpopuler

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia