Review Over Drive: Rumitnya dunia motorsport

dibagikan
komentar
Review Over Drive: Rumitnya dunia motorsport
Oleh: Wisnu Setioko
5 Sep 2018 16.17

Satu lagi kisah fiksi bertema motorsport hadir di layar lebar. Over Drive, film Jepang besutan Eiichiro Hasumi menuturkan kisah rumit pembalap dengan para kru di timnya.

Naozumi Hiyama (Mackenyu Arata), pereli andalan tim SPICA Racing Factory di ambang juara Seiko Cup Rally Series. Bila menjadi pembalap terkencang di akhir musim, kesempatan berlaga di World Rally Championship sudah menanti.

Selain rivalitas dengan Akira Shinkai (Takumi Kitamura), perjalanannya menuju ke reli dunia terganjal hal internal, termasuk renggangnya hubungan dengan mekanik sekaligus kakak kandungnya, Atsuhiro Hiyama (Masahiro Higashide).

Keduanya belum bisa lepas dari sosok wanita di masa lalu mereka. Manager pribadi Naozumi, Hikaru Endo (Aoi Morikawa), pun kesulitan menangani perangai kasarnya. Mampukah mereka mengatasi masalah dan fokus di kejuaraan SCRS?

Over Drive bisa ditonton di beberapa jaringan bioskop terdekat mulai 5 September 2018. Bila berminat, sebaiknya Anda segera menonton, karena kebanyakan film Jepang sebelumnya tidak bertahan lebih dari dua minggu di bioskop. Informasi lebih lanjut mengenai film ini bisa dilihat di sini.

Peringatan: Kemungkinan ada bocoran film

Selama proses syuting, Over Drive bekerja sama dengan WRC serta Toyota. Tak heran bila aksi Yaris reli serta beberapa mobil lainnya tersaji cukup apik, meski beberapa adegan masih menggunakan cgi atau animasi komputer 3D.

Bagi penggemar balap, Anda akan dimanjakan dengan cuplikan reli dari berbagai ajang. Saya sendiri kurang begitu tahu dari kejuaraan mana saja, namun pastinya semua rekaman tersebut hadir berkat kerjasama dengan WRC.

Kehadiran balapan di jalan tol menjadi alternatif tontonan di mana selama ini reli selalu identik area berpasir dan jalan gunung. Hal tersebut rasanya tidak berlebihan untuk diwujudkan, karena di dunia nyata sendiri ada Palanga, sirkuit semi permanen di kawasan salah satu jalan tol Lithuania.

Meski beberapa adegan mobil menggunakan animasi, namun efek suara yang dihasilkan fantastis. Beberapa kali bulu kuduk saya merinding mendengar raungan mobil reli saling berpacu mencatatkan waktu terbaik.

Selain aksi dan efek spesial, Over Drive sukses membaurkan drama antar manusia dan hal-hal khas dunia motorsport. Anda yang tak begitu paham dengan balapan rasanya tidak akan menemui kesulitan berarti mencerna keseluruhan jalan cerita.  

Jadi pembalap bukan hanya soal mampu melaju dengan kencang, namun juga perilaku baik. Sifat emosional sang adik di sepanjang film membuatnya terlibat berbagai masalah. Beruntung, Hikaru selalu menasehatinya.

Di luar jadwal reli, kita bisa melihat bagaimana Naozumi harus tunduk dengan para sponsor yang mengikat, bak reklame berjalan. Cukup sering Hikaru menyuruhnya mengenakan baju balap dan topi supaya logo para sponsor tertangkap kamera jurnalis.

Hal serupa rasanya juga terjadi di ajang balap manapun. Fernando Alonso pasti memakai topi bertuliskan Kimoa saat wawancara di WEC maupun F1, begitupun para jebolan Red Bull tidak lepas dari gambar dua banteng merah beradu saat diwawancarai.

Kata kunci film ini adalah keberanian. Tidak seperti Naozumi yang tak kenal takut saat melibas jalanan, Atsuhiro nampak beberapa kali ragu-ragu dan menyerah sepanjang film, meski akhirnya ia berhasil mengatasi ketakutannya.

Keberanian juga nampak pada usaha sang manajer SPICA, Issei Tsuzuki, ketika sempat kesulitan membangun suspensi tanpa cela. Berkali-kali mencoba, ia pun menemukan formula tepat, hingga rancang bangunnya dipakai pada mobil jalanan.

Akhir kata, Over Drive bisa dinikmati seluruh usia, terutama bagi Anda yang ingin mendalami seluk beluk dunia balap. 

Artikel General berikutnya
Opini: Menanti motorsport masuk ke pesta olahraga dunia

Artikel sebelumnya

Opini: Menanti motorsport masuk ke pesta olahraga dunia

Load comments

Tentang artikel ini

Kejuaraan General
Penulis Wisnu Setioko
Tipe artikel Special feature