Frederic Sausset Ingin Lebih Banyak Pembalap Difabel Tampil di Le Mans

Pembalap difabel, Frederic Sausset, punya misi terbaru dalam petualangan keduanya di 24 Hours of Le Mans, yang digelar akhir pekan ini.

Frederic Sausset Ingin Lebih Banyak Pembalap Difabel Tampil di Le Mans

Sausset divonis mengalami Septicemia (dalam darahnya terdapat bakteri), setelah jarinya terluka pada saat liburan, Juli 2012. Ia pun harus menjalani amputasi kedua lengan dan kaki agar infeksi tidak menyebar ke organ vital.

Mengalami kekurangan dari fisik, semangat hidupnya berangsur pulih. Tiga tahun kemudian, ia berlatih setelah mendengar kisah sang ayah yang mengajaknya ke sirkuit La Sarthe, pada 2015. Kala itu, ayahnya bercerita tentang para pembalap pemberani yang melintasi jalanan di pedesaan Prancis hanya untuk mencoba memenangi pertarungan 24 jam di belakan kemudi.

Sausset mencatatkan sejarah sebagai pilot difabel pertama yang tampil di ajang itu pada 2016. Kala itu, ia berada satu tim dengan Christophe Tisnau (tampil 13 kali) dan Jean-Bernard Bouvet (10 kali).

Mobil Morgan-Nissan LMP2 yang sudah dimodifikasi mengalami masalah dengan kopling. Butuh 1,5 jam untuk memperbaiki. Pada akhirnya, mereka mampu finis di urutan ke-38. Hal ini membuktikan bahwa teknologi dan kalkulasi presisi cukup menentukan dalam lomba itu.

Setelah sukses dalam penampilan tersebut, Sauset mendirikan sekolah balap untuk para difabel. Dua tahun kemudian, ia mengirimkan pembalap didikannya, Billy Monger, ke Le Mans. Kedua kaki pilot muda itu setelah mengalami kecelakaan dalam F4 di Donnington Park.

Pada 2018, pria kelahiran 1969 tersebut, mendirikan Filiere Frederic Sausset by SRT41. Ligier LMP3 jadi ajang uji coba tim tersebut. Setahun berikutnya, mereka mencicipi Ultimate Cup sebelum pandemi Covid-19 membekukan berbagai kompetisi.

Musim ini, tim tampil dalam European Le Mans Series. Mereka pun lanjut ke 24 Hours of Le Mans sebagai kepala Association SRT41. Sausset akan mengemudikan Oreca-Gibson LMP2 nomor 84.

Berbeda dengan partisipasi pertamanya, kali ini ia menunjuk Takuma Aoki, eks pembalap WSBK mengalami cedera spinal cord yang menyebabkan lumpuh pada 1998. Satu kursi lain dihuni Nigel Bailly, berada di kursi roda setelah kecelakaan motocross pada usia 14 tahun. Matthieu Lahaye akan menggunakan pedal.

Baca Juga:

Mobil tersebut dimodifikasi pada bagian kopling, akselerator, pedal pada setir dan rem tangan di kanan.

“Saya selalu berpikir untuk menciptakan organisasi pembalap difabel internasional dan kami telah mencatat sukses. Kami ingin mengirim pesan jelas. Semua mungkin terjadi meski cacat, Anda tidak harus menyerah dalam meraih mimpi. Dengan kerja keras dan ketelitian, mungkin sampai ke level tertinggi,” kata Sausset kepada Motorsport.com.

Motorsport adalah salah satu dari beberapa olahraga yang mengizinkan Anda untuk berkompetisi lawan orang normal. Saya adalah yang pertama dan saya harap di sana ada yang lain.

“Tampil di Le Mans sebuah tantangan di mana sedikit pembalap bisa mencapainya, menyelesaikan lomba 24 jam juga sebuah pencapaian, sebuah kemenangan. Tujuan, tanpa ragu, menyelesaikan di tempat terbaik.

“Dengan segala kerendahan hati, menerima lebih banyak disabilitas dalam olahraga mengizinkan kami untuk bertarung dengan para pembalap terbaik di planet, yang memberi nilai lebih dalam prestasi.”

Proyek Sausset tidak mudah karena biaya meningkat hingga 15 persen ketika membuat mobil modifikasi. Pandemi Covid-19 berimbas terhadap finansial.

“Saya bangga mengatakan bahwa apa yang saya capai sejak 2015 telah memungkinkan SRT41, dianggap sebagai tim serius di sekitar dunia dan bagi kami, menjadi bagian integral dari grid. Perasaan unik berada di sini lagi,” ia menambahkan.

dibagikan
komentar
Pembalap Perempuan Mulai Dihormati di WEC

Artikel sebelumnya

Pembalap Perempuan Mulai Dihormati di WEC

Artikel berikutnya

Ford lawan Ferrari: Ini yang Terjadi Setelah Le Mans 1966

Ford lawan Ferrari: Ini yang Terjadi Setelah Le Mans 1966
Muat komentar