Kisah kesuksesan mobil Ferrari pemenang kelas GTE Am yang nyaris terlepas

dibagikan
komentar
Kisah kesuksesan mobil Ferrari pemenang kelas GTE Am yang nyaris terlepas
Charles Bradley
Oleh: Charles Bradley
Diterjemahkan oleh: Aditya Gagat
28 Jun 2016 13.58

Mobil Ferrari yang pertama kali membalap di balapan Le Mans enam tahun lalu berhasil memenangkan balapan tersebut untuk kelas GTE Am bersama tim yang baru pertama kali membalap di sana.

#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 GTE: Bill Sweedler, Townsend Bell, Jeff Segal
Brad Pitt, Actor
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Jeff Segal, Bill Sweedler, Townsend Bell
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
LMGT Am podium: class winners #62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Town
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Jeff Segal
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Jeff Segal
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Townsend Bell, Jeff Segal
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell
#62 Scuderia Corsa Ferrari 458 Italia: Bill Sweedler, Jeff Segal, Townsend Bell

Saat Jeff Segal, Townsend Bell, dan Bill Sweedler meneguk sampanye, dengan atmosfer yang luar biasa di podium Le Mans 24 Jam, dan juga ribuan penggemar di bawah mereka bersorak sorai, selain rasa merayakan dengan gembira terdapat juga rasa lega di antara mereka.

Mobil Ferrari 458 Italia dari tim Scuderia Corsa yang dikemudikan oleh mereka, berhasil memenangkan kelas GTE Am pada balapan Le Mans dengan jarak keunggulan tiga menit, di depan mobil dari tim AF Corse. Tetapi tidak ada tim yang memiliki balapan 24 jam “yang sempurna.” Kuncinya adalah meminimalisir kesalahan, dan juga melaju dengan kencang.

Dan, jika anda ingin menang, jangan pernah berada satu putaran di belakang, anda akan terjebak karena sistem triple safety-car yang dapat membahayakan balapan anda.

Tim Ferrari yang berbasis di Amerika Serikat – disponsori oleh Amalgam dan Motorstore.com, dua perusahaan yang tergabung bersama perusahaan induk Motorsport Network – datang untuk membalap setelah meraih hasil podium pada debut mereka tahun lalu. Mereka tetap menggunakan mobil 458 dan formasi pembalap yang sama, mereka melakukan pekerjaan rumah tentang apa yang telah dipelajari, dan datang berpikir tim itu dapat melaju lebih cepat dari sebelumnya.

Kemudian hujan turun sebelum balapan dimulai. Bermain dengan aman, menjadi kata kunci, membalap dengan ban basah. Bagaimana mereka dapat mengetahui kapan safety car akan tetap di trek sampai kondisi hampir kering?

TIba-tiba, berkat waktu yang telah terbuang di awal-awal, anda mempunyai kecendurungan terjebak di safety car yang salah, yang memungkinkan rival anda mendapat keuntungan dari hal itu. Tetapi, apapun yang anda lakukan, jangan pernah berada satu putaran di belakang...

“Kami membuat kesalahan sendiri,” Segal mengakui, “Kami mengetahui kami memiliki laju mobil yang cepat, sehingga kami memilih opsi yang konservatif pada awal balapan, memakai ban basah dan bukan intermediate. Kami menanggalkan ban itu dan berganti ke ban inters saat pit stop, dan kehilangan banyak posisi trek dan waktu.

“Kemudian kami terjebak di belakang mobil safety car ketiga dan kehilangan 2/3 putaran, dan kemudian kami kembali masuk ke pit untuk berganti ke ban slick! Mencoba membalap secara konservatif menyebabkan kita kehilangan banyak waktu, sementara orang-orang lain yang memilih pilihan yang beresiko mulai merasakan keuntungannya.

“Bahkan, kami sempat berada satu putaran di belakang. Itu cukup signifikan, untuk kembali ke putaran yang sama dengan pimpinan balapan tidak akan mudah untuk diraih. Di Amerika, anda hanya tinggal menunggu periode safety car berikutnya, dan mendapatkan putaran yang sempat hilang itu. Kasus tersebut berbeda dengan di Le Mans – bahkan skenario terbaik yang anda akan dapatkan adalah 2/3 putaran dan kemungkinan itu untuk terjadi sangat kecil. Pilihan satu-satunya adalah dengan melaju dengan kencang.

“Saya memulai stint saya dengan jarak satu putaran di belakang, dan saya berhasil mendapatkan putaran yang hilang tersebut – jika tidak salah, saya bahkan sempat memimpin balapan pada putaran saya keluar dari mobil. Pada stint itu saya berkata ‘Saya akan berusaha sekuat tenaga apapun yang terjadi – jika kami gagal mendapatkan putaran yang hilang tersebut, balapan ini tidak bermakna lagi’.

“Perasaan menyenangkan ketika kami berhasil menempati P1 dari posisi yang sempat tertinggal satu putaran! Saya merasa ‘sekarang kami telah memberhentikan pendarahan’. Tidak lagi kami melindas setiap kerb, tidak lagi kami melakukan manuver menyalip yang menakutkan, tidak lagi kami menghalangi mobil LMP1 – anda hanya dapat melakukan hal tersebut untuk beberapa kali!

“Kami dapat bersantai sedikit, kami menenangkan diri, kami merawat mobil kami. Anda dapat mencatatkan waktu yang lebih cepat jika anda melindas kerb, tetapi hal itu selalu datang dengan resiko.

“Kami tidak pernah dekat dengan mobil-mobil lain, bahkan, mobil kami sungguh berjalan tanpa cacat dalam segi reliabilitas. Kami tidak melakukan pit stop ekstra atau pun waktu tambahan di garasi.”

Wawancara bersama Jeff Segal di podium Le Mans...

Mengalahkan kompetitor yang menakutkan

Mari kita berbicara tentang rival utama Scuderia Corsa: Porsche 911 dari tim Abu Dhabi-Proton, Vantage dari tim Aston Martin Racing, dan Ferrari 458 dari tim AF Corse. Trio tim yang membalap satu musim penuh di FIA World Endurance Championship

Scuderia Corsa adalah tim reguler di kejuaraan IMSA, tetapi cukup asing dengan peraturan-peraturan di Eropa, dan membutuhkan bantuan dari Kessel Racing dan Michelotto untuk pertualangan satu-satunya mereka di balapan Eropa.

“Bagi kami, balapan ini cukup unik, balapan yang satu-satunya,” ia berkata. “Kemungkinan terjebak di peraturan-peraturan Eropa, dalam segi regulasi, menjadi lebih tinggi. Peraturan di sini berbeda dengan yang ada di IMSA, dan saya harus berterima kasih kepada mekanik-mekanik kami yang berhasil membalap di Le Mans sebanyak 20 kali, dan memenangkan empat balapan secara beruntun.

“Kami sempat mengalami beberapa saat yang menakutkan saat sesi latihan, seperti ketika anda mengaktifkan pit limiter, lampu cadangan kami akan mati agar tidak menyilaukan orang-orang di pit lane. Ketika lampu tersebut tidak aktif, lampu panel #yang ada di bagian samping mobil juga ikut tidak aktif. Di Le mans, anda tidak dapat turun ke trek bila lampu panel #tidak menyala... dan di Le Mans anda tidak dapat keluar dari peraturan satu milimeter pun.”

Bagaimana dengan mobil kami, mobil 458 yang masih dapat diandalkan.

“Saya membuat perkiraan bahwa mobil kami adalah yang paling uzur di balapan ini – dan cukup jauh dibandingkan dengan mobil lain!” seru Segal. “Mobil itu dibuat pada tahun 2011, pertama kali membalap sebagai mobil dari tim Hankook.

“Mobil Ferrari [458] lainnya berumur dua tahun, mungkin tiga. Tetapi milik kami telah membalap cukup lama dan terlibat di banyak aksi!”

Ketika matahari terbenam di Le Mans, strategi mobil #62 mulai terbayar...

“Sejak matahari terbenam dan terbit kembali, kami bertiga antara satu dan tiga detik lebih cepat dibandingkan dengan mobil pemimpin, Porsche dari tim Proton,” menurut Segal. “Sejak saat itulah kami berhasil merangkak kembali dan menjauh di depan. Kemudian kami kembali membangun rencana.

“Tahun lalu, kami menganalisis apa yang harus kami lakukan untuk menang. Cukup sederhana: kami terkena hukuman penalti akibat kesalahan tipikal pemula dari sisi pembalap, dan masalah mekanis yang sebenarnya cukup sederhana.

“Kami mengetahui apa yang harus kami rubah untuk memperbaiki kesalahan, dan –ternyata- kami tidak harus merubah apa-apa. Kami memiliki balapan yang sempurna.”

Kebahagiaan bos tim

Bos Scuderia Corsa kelahiran Modena, Giacomo Mattioli, yang juga mengelola Ferrari di daerah Beverley Hills dan Silicon Valley, menikmati kesuksesan seumur hidup mereka pada balapan historis dan paling prestise di dunia balapan sportscar.

“Luar biasa, sungguh luar biasa,” ujarnya. “Kami ke sana tahun lalu, dan saat itu adalah yang pertama kali bagi kami semua, termasuk bagi para pembalap. Pengalaman itu menjadi bahan pembelajaran yang akhirnya kami mendapatkan hasilnya. Tahun ini, kami berkomitmen untuk melakukan percobaan yang serius untuk mendapatkan kemenangan.

“Menang selalu menjadi tujuan kami, tetapi kami sadar betapa sulitnya untuk meraih hasil itu. Tetapi kami sangat mengenal mobil kami, dan kami memiliki pengalaman yang bertahun-tahun dan akan membuat beberapa perbedaan.

“Target kami pasang sangat tinggi, kami mengambil keputusan untuk mencobannya, dan setiap pembalap berhasil melakukan pekerjaan mereka dengan fantastis – kami benar-benar melaju dengan kencang dan sangat efektif. Kami meraih target kami.

“Kru kami sangat sempurna, semua pit stop dilakukan dengan baik dan tidak ada penalti.”

Menggunakan alat virtual untuk meningkatkan laju

Segal mengoperasikan bisnis simulator balap sendiri di Miami, GPX Lab. Setelah raihan podium tahun lalu, ia sadar alat tersebut dapat memainkan peran yang penting dalam meningkatkan performa mereka di tahun 2016.

“Tahun lalu kami meremehkan tantangan itu – tetapi kami memang tidak memiliki laju yang cukup untuk bertarung,” ujar Segal. “Pada stint terbaik kami, kami menjaga laju kami terhadap pemimpin balapan, tetapi kami tidak pernah berhasil mendekati mereka.

“Kami melakukan usaha terbaik kami tahun ini. Saya sendiri dan Townsend meningkatkan kecepatan kami, tetapi yang paling signifikan adalah Bill. Catatan waktu tercepatnya 6,5 detik lebih cepat dibandingkan catatan waktu tahun lalu. Rata-rata catatan watkunya saat balapan juga beberapa detik lebih cepat dibandingkan dengan saat tahun 2015. Itu perbedaan yang paling besar.

“Saya memaksa Bill untuk sering-sering masuk ke dalam simulator, dan Le Mans adalah trek yang tidak mudah. Kecepatan di trek itu sangat tinggi, sehingga setiap kesalahan sangat beresiko. Jika anda kecelakaan, akan ada efek lanjutan – bahkan sejak sesi uji coba.

“Anda hanya mendapatkan kesempatan yag sedikit, karena setiap putarannya sangat panjang, sehingga akan sangat vital jika anda mendapatkan start yang lebih awal dengan memperhatikan area-area mana saja yang kami masih lemah. Simulator adalah bagian terpenting dari itu dan hal itu menjadi penyebab mengapa banyak tim pabrikan yang mengandalkannya. Hanya dengan melihat para pembalap-pembalap tim pabrikan, bagaimana mereka dapat mencatatkan waktu yang cepat dari percobaan pertama mereak. Mereka pembalap yang hebat, namun mereka juga datang ke setiap trek dengan “amunisi” yang lengkap.

“Jadi kami mengambil pendekatan tersebut ke dalam persiapan tim privatir kami dengan kedua tangan. Satu hal tersendiri bila kita mengerti apa kesalahan kita, dan satu hal lainnya bila kita dapat memperbaiki kesalahan tersebut.

“Kami beruntung kami memiliki data dari Ferrari kelas GTE Pro, sehingga kami memiliki referensi untuk meningkatkan performa mobil kami.”

Meresapi semua emosi

Jadi, apa rasanya saat berdiri di atas podium pada balapan sportscar yang paling terkenal?

“Yang pasti rasanya seperti mimpi”, ucap Segal. “Kami hanya pernah melakukan balapan ini dua kali, dan ini adalah yang pertama kali kami berada di podium, hal yang sangat luar biasa bagi tim. Saya telah membalap di banyak balapan ketahann, dan setiap balapan itu tersimpan banyak cerita.

“Saya berkata, secara teori, rival kami memiliki pembalap dan mobil yang lebih kencang. Tetapi mereka mengalami masalah, mereka membuat kesalahan. Ini balapan 24 jam, ini Le Mans.”

Mattioli menambahkan: “Podium di Le Mans adalah tempat yang spesial, rasanya lebih banyak orang-orang di bawah sana dibandingkan saat balapan dimulai! Sungguh luar biasa.

“Semangat, antusiasme yang luar biasa. Saya bukan orang yang suka melakukan selfie, peraturan pribadi yang saya miliki, tetapi hanya di tempat seperti itu yang membuat saya ingin melanggar peraturan tersebut!”

 

Artikel Le Mans berikutnya
Timo Bernhard: Sisi lain kisah Porsche di Le mans

Artikel sebelumnya

Timo Bernhard: Sisi lain kisah Porsche di Le mans

Next article

Franchitti sempat berencana gabung ke Porsche LMP1 di 2015

Franchitti sempat berencana gabung ke Porsche LMP1 di 2015
Muat komentar