Timo Bernhard: Sisi lain kisah Porsche di Le mans

Di kolom Motorsport.com terbarunya, bintang LMP1 Porsche Timo Bernhard merefleksikan kisah Le Mans 24 jam mereka yang sekali lagi, kru mobil #1 itu harus pulang dengan tangan hampa.

Di Le Mans, anda harus selalu menduga apa yang tidak terduga, bahkan sutradara di Hollywood tidak akan bisa menulis kisah dari akhir balapan sedramatis tahun ini.

Le Mans adalah salah satu balapan yang tersulit di dunia, dan banyak faktor-faktor yang menyebabkan mengapa balapan ini menjadi sangat sulit – trek yang unik dengan campuran jalanan antar-kota dan trek sirkuit permanen, satu minggu balapan terdiri dari delapan hari yang panjang, kecepatan tinggi, dan balapan yang berlangsung sangat lama.

Seluruh dunia menonton dan setelah memenangkan balapan ini tahun lalu, Porsche menjadi salah satu yang paling disorot. Itu adalah hal yang baik untuk olahraga ini namun juga dapat membuat tekanan dan menuntut komitmen tinggi dari para pembalap seperti kami.

Ini adalah satu minggu yang panjang, dan anda harus selalu sadar terhadap tingkat energi anda. Kompetisi kali ini sangat kuat, dan setiap detail-detail terkecil harus dilakukan dengan benar: pengelolaan ban, membalap bersama mobil-mobil yang lebih pelan, dan mengambil keputusan yang tepat ketika cuaca berubah di depan anda.

Kami tidak melewatkan apapun untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin di musim 2016, dan kami telah siap.

Sesi kualifikasi yang sulit

Setelah scrutineering dan beberapa hari untuk bersiap, kami akhirnya turun ke trek pada hari Rabu untuk sesi kualifikasi. Cuaca hari itu berubah-rubah, dan terkadang kami menghadapi cuaca atau kondisi yang berbeda di tiap tikungan trek.

Saya memiliki dua percobaan di sesi pertama, dan meskipun saya berhasil mencatat waktu tercepat di dua sektor pertama, saya berhadapan dengan mobil yang lebih pelan di tikungan Porsche Curves, yang membuat saya kehilangan waktu. Dengan banyaknya mobil yang tersebar di Le Mans, untuk mendapatkan catatan waktu yang bersih terkesan seperti melakukan lotere.

Cuaca di hari Kamis telah berganti, dan kami menghadapi kondisi basah di dua sesi kualifikasi. Dengan genangan air di trek dan jarak penglihatan yang minim, mengemudikan mobil di kondisi tersebut terbukti sangat sulit.

Kami berusaha menghindari hal-hal yang beresiko dan tidak perlu, akhirnya kami tidak dapat mempercepat catatan waktu kami. Mobil satu tim kami di #2, menempati posisi pole sementara kami tepat di belakang mereka di posisi kedua.

Meskipun tidak ada aktivitas balap di trek pada hari Jumat, hari itu tetap menjadi hari yang sibuk untuk para pembalap, dengan melakukan konferensi pers, wawancara, mengunjungi tenda staff Porsche, dan parade pembalap di pusat kota.

Menjadi hal yang sangat bagus bagi para penggemar untuk dapat melihat secara dekat dengan para pembalap, tetapi mendekati penghunjung minggu, kami para pembalap selalu tidak sabar untuk dapat masuk ke dalam mobil. Bagi saya, itulah bagian yang terbaik di minggu ini.

Begitu anda siap di dalam mobil, anda harus berusaha tenang, tidak ada orang yang akan menganggu anda – ini adalah minggu yang panjang dan anda sudah senang begitu balapan dimulai.

Awal yang bagus, namun terjadi masalah

Sekitar setengah jam sebelum balapan dimulai, kami diguyur hujan deras yang berarti untuk pertama kalinya di sejarah Le Mans, balapan akan dimulai di belakang mobil safety car – yang sebenarnya adalah keputusan yang benar mengingat kondisi di trek.

Begitu trek akhirnya mulai kering, kami masuk ke pit di saat yang tepat dan kembali ke jalannya balapan di urutan kedua.

Sembilan puluh menit berjalannya balapan, Brendon Hartley berhasil merebut pimpinan lomba dan sejak itu kami harus terus bertarung cukup lama melawan Toyota karena strategi pengisian bahan bakar yang berbeda – mereka masuk ke pit di setiap putaran ke-14, sementara kami masuk ke pit di setiap putaran ke-13, tapi kami melakukannya dengan lebih cepat.

Terkadang, kami memiliki dua Porsche melawan dua Toyota dan pertarungan tersebut berlangsung dengan sengit – Namun, keberuntungan kami berubah setelah pukul 11 malam.

Beberapa saat setelah saya menyerahkan kursi kemudi mobil kepada Brendon di stint kedua saya, kami mengalami masalah akibat temperatur air yang tinggi sehingga mobil harus masuk kembali ke pit.

Setelah menganalisis masalah tersebut, mekanik kami mengganti pompa air dan satu jam kemudian; Brandon kembali turun ke trek hanya untuk kembali lagi ke pit di putaran berikutnya.

Sistem pendingin kami telah babak belur, dan untuk memperbaikinya merupakan pekerjaan yang sulit. Mekanik kami bekerja keras untuk dapat memperbaiki mobil itu, dan sebelum pukul 2 pagi, kami kembali siap untuk membalap.

Kami tertinggal 39 putaran di belakang, dan tentunya harapan untuk memenangkan balapan sudah terpupus.

Simpati untuk tim Toyota

Tidak peduli apakah anda seorang mekanik, race engineer, pengganti ban atau seorang pembalap – Le Mans akan menguras tenaga anda, baik secara mental maupun fisik.

Tujuan utama kami di Le Mans adalah untuk memenangkan balapan. Kami memiliki mobil yang sangat cepat, dan memimpin balapan sepanjang 52 putaran. Adalah hal yang mustahil untuk dapat mengendalikan semuanya dan hal-hal yang tertulis di bagian sebelumnya masih dapat terjadi.

Namun, kami telah menyelesaikan pekerjaan kami untuk Porsche, kami telah bertarung sekuat tenaga dan itu juga menjadi yang terpenting.

Sementara Toyota harus menghadapi kenyataan yang lebih berat. Ketika kami melintas garis finish, saya melihat mobil #5 berhenti dan pada awalnya saya tidak percaya.

Ketika saya memarkir mobil kami di parc ferme, para mekanik Toyota mendorong mobil #5 mereka – mereka terlihat sangat sedih. Saya mengasihani mereka.

Toyota menjalani balapan yang luar biasa, dan bila perjuangan mereka selama 24 jam harus berakhir di tiga menit terakhir, itu adalah hal yang sangat berat dan siapapun tidak berhak untuk mengalami hal seperti itu.

Ucapan selamat saya berikan kepada mobil saudara kami. Meskipun mereka mengambil keuntungan dari nasib sial yang dialami Toyota, mereka telah membalap dengan luar biasa dan mereka pantas untuk menjadi juara.

Kami di mobil #1 belum memiliki keberuntungan tahun ini, dan saya merasa kasihan kepada kru kami. Mereka telah bekerja tanpa kenal lelah dan melakukan pekerjaan tersebut dengan baik untuk memperbaiki 919 Hybrid supaya dapat berjalan kembali. Mobil kami melaju sangat cepat, dan kami dengan mudah dapat saja bersaing dengan mobil pemimpin balapan.

Le Mans 2016 sekarang sudah terlewati. Kami akan kembali lagi tahun depan. Adalah harapan saya untuk memenangkan balapan di sana bersama Porsche, dan saya tidak akan menyerah.

Timo

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Le Mans
Event Le Mans 24 Jam
Trek Circuit de la Sarthe
Pembalap Timo Bernhard
Tim Porsche Team
Tipe artikel Special feature