“Saya ingin menjadi referensi bagi pembalap Perancis masa depan”

Tak hanya sukses mempertahankan gelar juara, Johann Zarco juga mencetak rekor mengesankan. Ia juga menjadi pembalap Perancis pertama yang menyandang status juara dunia Moto2 sebanyak dua kali.

Musim 2017 akan menjadi awal dari kiprah Zarco di kelas MotoGP. Ia telah dipastikan membalap untuk Yamaha Tech 3, dan akan menjadi rekan setim Jonas Folger.

Bagaimana rasanya menjadi juara dunia Moto2 lagi?

“Kemarin (hari Minggu) adalah hari yang sangat menarik. Saya tidak ingin menangis, tapi rasanya mustahil. Untuk mengakhiri masa saya di Moto2 dan bersama Ajo Motorsport dengan cara seperti ini merupakan hal luar biasa. (Menjadi juara dunia) memang target pada musim ini: tidak begitu mudah, tapi kami berhasil melakukannya!”

Balapan di Sepang akhir pekan yang sulit, bukan begitu?
“Itu jauh lebih sulit dengan adanya kondisi cuaca. Tapi faktanya saya merasa nyaman di kondisi kering dan basah. Mungkin saya tidak menjadi yang tercepat di setiap sesi, tapi pace saya bagus di kedua kondisi. Saya harus meningkatkan peluang.”

Apa yang Anda rasakan dalam 19 lap penentu di Sirkuit Sepang?
“Faktanya, dan pertama kalinya, kami semua sedikit ketakutan. Trek sangat basah dan kami banyak tergelincir. Saya membuat beberapa kesalahan dan hampir terjatuh. Beruntung, start dari pole position sangat membantu, karena risiko di kondisi basah jauh lebih besar. Akan tetapi, seiring berjalannya balapan, aspal pun mengering dan saya merasa lebih baik. Kondisi trek menjadi ideal untuk saya, di mana saya mendapatkan keuntungan terbesar atas para rival. Saya mampu menikmati trek lurus terakhir dengan wheelie dan merayakan kemenangan.”

Apakah Anda tahu semua kombinasi yang membuat Anda menjadi juara dunia? Apakah Anda tidak banyak mengambil risiko, mengingat Thomas Luthi dan Alex Rins berjarak tidak jauh?
“Saya tahu bahwa naik podium di depan Thomas (Luthi) dan Alex (Rins), saya akan menjadi juara. Pada awal balapan, saya berada di belakang Franco (Morbidelli) dan tidak mendapatkan feeling terbaik. Tapi saya bisa mengikuti dia, dan faktanya saya khawatir bahwa (Jonas) Folger akan menyalip saya. Ketika racing line kering mulai tampak, dan dari situ saya melihat waktu saya akan datang. Kondisinya sama seperti sesi kualifikasi Sabtu. Saya tahu bahwa saya bisa mengambil keuntungan dan menekan. Saya tidak ingin bertahan di grup kedua atau di belakang, karena satu kesalahan mereka bisa mengancam saya. Saya memilih untuk menemukan pace dan mengikuti racing line saya.”

Apa kunci untuk membuat banyak perubahan dalam kondisi kering dan basah dengan ban basah?
“Saya seorang pembalap yang sangat memperhatikan ban. Gaya balap saya cukup baik dan ini membantu saya di akhir balapan, dan di kondisi trek yang spesifik dengan ban basah.”

Apakah Anda merasakan tekanan untuk memenangi gelar juara?
“Ya, tampaknya itu sebuah kewajiban. Faktanya, saya mengharapkannya setelah tahun lalu bertarung dengan Tito (Rabat). Itulah mengapa saya ingin melanjutkan nomor 5 di fairing motor; bagi saya itu penting agar saya tidak terlena. Apapun, saya bangun setiap hari dan memikirkan bahwa saya harus merebut gelar juara.”

Mana gelar juara yang paling sulit untuk dimenangkan?
“Mereka selalu berkata bahwa mempertahankan gelar juara lebih sulit. Mungkin ada benarnya, terutama beban mental. Tapi kami bekerja keras selama dua tahun terakhir. Tahun ini ada banyak pembalap yang bertarung untuk posisi teratas: Luthi, Rins, (Sam) Lowes, Morbidelli, (Takaaki) Nakagami, dan lainnya. Saya juga tidak begitu konsisten dan membuat beberapa kesalahan. Tahun lalu, saya punya landasan penting di klasemen, yang membantu saya. Tapi itu adalah hasil dari kerja pada tahun-tahun sebelumnya.”

Anda mengatakan tahun ini tidak begitu konsisten. Mengapa demikian?

“Tahun ini, saya mengawali balapan di Qatar sebagai juara bertahan dan harus mempertahankannya. Ditambah, ada cukup banyak pembalap yang sangat kuat di posisi teratas saat balapan. Tidak hanya bertarung demi gelar juara, tapi juga membuat balapan lebih sulit. Jika Anda tidak dalam kondisi 100 persen, Anda bisa kehilangan tujuh atau delapan posisi secara mudah. Dalam beberapa balapan, kami harus menargetkan untuk mengamankan poin. Selalu balapan pada limit, dan yang telah menguras keras secara fisik dan mental.”

Kemenangan yang paling istimewa sejauh ini?
“Saya tidak pernah memilih balapan tertentu. Meraih kemenangan selalu penting: ini adalah hasil dari kerja keras seluruh tim. Setiap kemenangan itu istimewa dan saya tidak bisa menyebutkannya.”

Anda adalah pembalap Perancis dengan kemenangan terbanyak dalam sejarah, dan sekarang Anda memiliki dua gelar juara dunia. Apa artinya ini bagi Anda?
“Ini adalah sumber kebanggaan. Saya berharap dengan gelar juara kedua ini fanbase meningkat di Perancis dan gairah terhadap balap motor terus tumbuh. Tahun lalu, saya menyadari perubahan tersebut. Tapi saya berharap sekarang adalah langkah lain ke depan.

“Kami semua ingin gairah terhadap roda dua tumbuh, agar lebih banyak orang yang menonton balapan di televisi. Itulah mengapa saya memiliki sekolah balap dengan Laurent (Fellon), di mana saya banyak menghabiskan waktu. Saya berharap gelar juara dunia yang kedua ini bisa membantu.”

Apa peran yang dimiliki Ajo Motorsport dan Aki Ajo dalam dua tahun dari kesuksesan ini?
“Mereka telah sangat penting. Kami bisa katakan bahwa mereka adalah “keluarga motor” saya. Kami telah mengabiskan musim yang sangat intens bersalam selama balapan akhir pekan, 24 jam setiap hari. Ini sangat penting dan secara pribadi saya sangat menghargainya. Menemukan waktu untuk berhubungan dengan mereka, sebagai contoh bermain sepak bola atau menghabiskan waktu di truk dan pit box, membuat Anda merasa di rumah ketika tak lagi balapan.

“Aki (Ajo) telah mengelola sekumpulan orang dengan atmosfer yang luar biasa. Setiap hal kecil dikontrol dan setiap orang memainkan peran mereka secara sempurna. Aturan ini membuat Anda menang. Setiap tahun kami mencapai (kesuksesan), baik di Moto2 dan Moto3! Saya mendoakan yang terbaik untuk mereka di masa depan.”

Bagaimana Anda melihat diri sendiri balapan di MotoGP?
“Saya sangat senang tetap bertahan di Moto2 dan naik kelas ke MotoGP dengan dua gelar juara dunia. Saya pikir pengalaman yang saya capai tahun ini, tentang gaya balapan dan bagaimana melakukan setup dengan Kalex, akan membuat saya tampil baik di MotoGP. Saya akan balapan dengan motor yang sangat bagus dan tim yang saya pikir bisa melakukan pekerjaan baik.”

 

Ajo Motorsport

Jadilah bagian dari sesuatu yang besar

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Moto2
Pembalap Johann Zarco
Tim Ajo Motorsport
Tipe artikel Interview