Ayah Simoncelli Bisa Rasakan Luka Permanen Keluarga Dupasquier

Tragedi yang menewaskan pembalap muda Moto3, Jason Dupasquier, di Mugello akhir pekan lalu membuat ayah mendiang rider MotoGP, Marco Simoncelli, bicara soal sisi gelap balap motor.

Ayah Simoncelli Bisa Rasakan Luka Permanen Keluarga Dupasquier

Insiden yang merenggut nyawa Jason Dupasqier pada sesi kualifikasi Moto3 Italia di Sirkuit Mugello sekali lagi membuat dunia balap motor, khususnya keluarga besar MotoGP, berduka.

Hampir 10 tahun yang lalu, Paolo Simoncelli harus mengalami luka yang dirasakan oleh orang tua serta keluarga Dupasquier, kehilangan orang yang begitu mereka sayang dan cintai.

Seperti Jason Dupasquier, Marco Simoncelli meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di dalam trek. Pada 23 Oktober 2011, rider Italia itu jatuh saat tampil dalam GP Malaysia di Sirkuit Sepang dan tertabrak pembalap lainnya.

Jason Dupasquier, Carxpert PruestelGP

Jason Dupasquier, Carxpert PruestelGP

Foto oleh: PruestlGP

Parahnya cedera membuat nyawa Simoncelli tidak terselamatkan. Ia wafat kurang dari satu jam pasca-insiden. Itu tragedi untuk keluarga besar Simoncelli, terutama bagi orang tuanya.

"Sangat menyedihkan untuk mengatakannya dan sangat menyedihkan mendengarnya, namun faktanya balap motor terkadang menuntut sesuatu yang besar, seperti pajak yang harus Anda bayar," ujar Paolo Simoncelli.

"Ini olahraga yang sangat berisiko dan mahal. Para pembalap tahu itu. Kami (pihak keluarga) juga tahu itu. Ketika tiba waktu bagi Anda membayar harganya, Anda tidak akan pernah siap.

"Belasungkawa serta doa saya untuk keluarga Jason (Dupasquier). Saya tahu betul rasa sakit yang Anda alami dan itu permanen, tak bisa sembuh. Anda punya putra lain yang juga balapan, jadi ini hal yang sangat sulit."

Marco Simoncelli, San Carlo Honda Gresini

Marco Simoncelli, San Carlo Honda Gresini

Foto oleh: Team Gresini

Setelah sang putra wafat, Paolo Simoncelli tetap bergelut di dunia balap motor. Ia membuat tim Moto3, SIC58 Squadra Corse pada 2013. Itu merupakan bentuk penghormatannya untuk Marco Simoncelli.

"Dalam semua wawancara yang saya berikan selama bertahun-tahun, saya selalu menganggap diri saya beruntung. Sebab saya kehilangan Marco tanpa dia harus lama menderita," tutur Paolo.

"Dia pergi setelah melakukan apa yang paling dicintainya. Ada (pembalap) yang kehilangan kaki atau lengannya dan menjadi tidak sempurna setelah kecelakaan. Saya pikir itu lebih sulit," ia menambahkan.

 

dibagikan
komentar
Rossi, Dupasquier, dan tentang Menggantungkan Harapan
Artikel sebelumnya

Rossi, Dupasquier, dan tentang Menggantungkan Harapan

Artikel berikutnya

Pembalap VR46 Academy Gantikan Tatay di Moto3 Catalunya

Pembalap VR46 Academy Gantikan Tatay di Moto3 Catalunya
Muat komentar