Soal MotoGP, Acosta Pilih Jalur Lambat

Pedro Acosta, rising star kejuaraan dunia motor musim ini, menegaskan akan bersabar menunggu saatnya naik ke MotoGP.

Soal MotoGP, Acosta Pilih Jalur Lambat

Baru dua bulan mencicipi Moto3, rider Red Bull KTM Ajo tersebut, langsung menguasai podium. Ia merupakan runner-up Moto3 Qatar dan memborong poin maksimal pada tiga edisi berikutnya, di Doha, Portugal dan Spanyol.

Bak primadona, ia dibicarakan para pembalap motor. Rider MotoGP tak segan mengutarakan kekaguman, tapi juga menyelipkan nasihat agar remaja 16 tahun itu menimba banyak pengalaman dan mengikuti alur sebelum naik ke kasta tertinggi.

Ada dua cara untuk sampai ke kelas top dengan cepat. Pertama, berkutat dua tahun di setiap kategori. Belajar di tahun pertama, lalu mencari gelar juara di tahun kedua. Jalan kedua, mencari jalan terobosan melompat dari Moto3 ke MotoGP.

Ada yang menyarankannya untuk mengambil jalur ekspres, tapi Acosta sudah memutuskan untuk menempuh tahap normal.

“Semakin banyak persiapan menuju MotoGP, smeakin banyak kesempatan untuk bertempur di kejuaraan dunia. Pada akhirnya, masing-masing pembalap berpikir dengan cara berbeda. Semakin banyak tahap yang Anda bakar, maka Anda lebih siap ke MotoGP, akan memberikan keuntungan jangka panjang,” ia mengungkapkan pada Podcast Por Orejas.

Kejutan yang ditampilkan Acosta telah mengacaukan prediksi soal pemenang Moto3. Banyak yang menyebut kalau ia kini jadi sasaran tembak penghuni grid lainnya. Namun, ia menepis anggapan yang muncul.

“Bisa jadi saya atau orang lain yang memimpin kejuaraan dunia. Seseorang yang melaju lebih dulu adalah seseorang yang paling menginginkan banyak karena dia salah satu yang mengalahkan Anda. Saya tidak melihat setiap orang menginginkan saya, pada akhirnya, kami semua ingin juara dunia, tapi yang mendapat bebam adalah mereka,” tuturnya.

“Saya pemimpin, pada akhirnya, saya tidak harus berada di posisi sekarang tahun ini. Mereka bertanggung jawab melakukan itu dengan baik. Saya hanya melaju di kejuaraan dunia pertama dan jika itu berjalan dengan lancar, sempurna, dan kalau salah, tidak akan terjadi apa-apa.”

Baca Juga:

Acosta ingin melibatkan diri dengan tim KTM karena ingin menyerap banyak informasi. Ia juga membangun kedekatan dengan rekan setim, Jaume Masia, serta kru yang berbagi garasi dengannya.

“Semua KTM sama, tapi menjadi tim pabrikan hanya demi pengalaman untuk membantu. Saya berasal dari FIM CEV, dengan cara kerja serupa dan itu membantu kami beradaptasi. Simbiosis dengan mekanik dan teknisi sangat bagus,” katanya.

“Hubungan saya dengan Masia sangat bagus, kami berbagi semua data. Dia mengatakan masalahnya dan saya juga. Pada akhirnya, mekaniknya jadi milik saya dan mekanik saya jadi miliknya. Kami harus lanjut seperti ini, jika dia berkembang, saya juga seperti itu. Berbagi data selalu membantu.”

Acosta sedang menyiapkan Moto3 Prancis yang jatuh akhir pekan ini, di Le Mans. Ini kali perdana juara Red Bull Rookies 2020 berada di sana. Hujan yang kerap turun di sana ketika gelaran balapan, bisa jadi penghalang.

“Saya belum pernah balapan di Le Mans, mari lihat bagaimana kami melakukan itu. Secara visual, sirkuit itu saya suka. Setiap orang bilang, saya akan bagus di sana, tapi saya mesti melihat situasinya dan tahu bagaimana itu dapat dilakukan. Setiap orang bilang mudah, tapi tak semudah kelihatannya,” ucapnya.

“Hujan? Saya tidak suka, tapi itu demikian adanya. Agar jadi pembalap kompetitif, Anda harus berada paling atas atau berjuang untuk posisi terdepat dalam segala kondisi. Kalau hujan, itu akan sama seperti setiap orang dan kami harus beradaptasi.”

Pedro Acosta, Red Bull KTM Ajo

Pedro Acosta, Red Bull KTM Ajo

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Pesona Acosta Bikin Lorenzo Tercengang

Artikel sebelumnya

Pesona Acosta Bikin Lorenzo Tercengang

Artikel berikutnya

Aki Ajo Yakin Masia Bisa Geser Acosta dari Puncak Klasemen

Aki Ajo Yakin Masia Bisa Geser Acosta dari Puncak Klasemen
Muat komentar