Agostini: Seharusnya MotoGP Bukan Soal Mesin Kencang tapi Pembalapnya

Legenda Kejuaraan Dunia Grand Prix, Giacomo Agostini, prihatin dengan kian pentingnya teknologi mesin dalam MotoGP saat ini. Sulit menemukan pembalap acuan karena semua bisa jadi pemenang.

Agostini: Seharusnya MotoGP Bukan Soal Mesin Kencang tapi Pembalapnya

Sejak Marc Marquez cedera plus performa RC213V terjun bebas, kemudian Valentino Rossi jeblok di pengujung karier dan memutuskan pensiun, praktis tidak ada ikon lagi di MotoGP.

Pemenang balapan terus berganti selama 2,5 musim terakhir. Jarang sekali rider yang dapat merangkai kemenangan hingga beberapa seri.

Bahkan musim ini, gap antar motor makin kecil. Pemenang pekan ini, bisa saja berada di luar zona podium pada seri berikutnya.

Balapan sangat kompetitif sesuai dengan misi Dorna Sports selaku penyelenggara. Namun, tidak demikian dengan penggemar balap kawakan.

Agostini, yang memiliki delapan titel kelas 500cc, terkejut dengan perkembangan balapan saat ini.

“Saya kira tidak ada yang salah dari pertunjukan, tapi penonton butuh sesuatu yang menonjol. Francesco Bagnaia menang, Enea Bastianini menang, rookie di kelas tersebut bisa menang,” katanya kepada Motorsport.com selama Classic GP di Assen.

“Ada beberapa pembalap yang menang, tapi pada balapan selanjutnya bisa di urutan kesepuluh. Kemudian, penonton bingung siapa yang benar-benar bagus. Itu terlalu berubah-ubah.

“Namun, pertarungan tidak salah. Kami tentu memiliki banyak teknologi saat ini. Setiap orang punya akses terhadap perangkat yang sama.

“Saya kira tidak ada 23 Maradona, 23 Max Verstappen atau 23 Muhammad  Ali di grid. Anda bisa lihat setiap orang berada di posisi kedua, itu gila.”

Baca Juga:

Di masa lalu, dengan teknologi yang minim, hanya pembalap dengan skill mumpuni yang bisa berada di podium. Saat ini, motor mutakhir sangat menentukan prestasi.

“Karena Anda memiliki banyak teknologi, mesin menjadi sangat penting. Jika ada detail kecil yang hilang dari motor, Anda tetap bisa menjadi juara hebat, tapi itu tidak berhasil. Untuk yang lain, jauh lebih mudah untuk maju,” ia menambahkan.

“Di era saya, pergerakan pergelangan tangan sangat penting. Pembalap yang pegang kendali. Sekarang, elektronik segera mengambil alih dan tidak lagi tergantung pada pembalap. Kami juga melihat butuh  waktu lama untuk mendapatkan daya lebih besar.”

Sisi positifnya adalah keamanan sirkuit ditingkatkan seiring dengan makin kencangnya motor. Salah satunya adalah Red Bull Ring yang dirombak usai kecelakaan menakutkan antara Johann Zarco dan Franco Morbidelli, dua tahun lalu.

“Kita memodifikasi mesin, lalu punya 290 hp, tapi kemudian dibuatkan chicane di trek supaya tetap ada kecepatan. Kemudian, kenapa kita menginvestasikan banyak uang untuk menemukan lebih banyak tenaga dan kecepatan, lalu bikin chicane di sana?

“Di beberapa trek, mesin MotoGP bahkan tidak perlu sampai gigi enam. Banyak sirkuit masih sama seperti dulu. Hanya lebih banyak pengaman, lebih banyak ruang. Tapi, sirkuit dan karakternya masih sama. Dulu sangat indah. Itu problem sulit.”

Agostini memberikan solusi yang mudah dengan memberikan pembalap lebih banyak kuasa, bukannya mesin.

“Kita harus memberi pembalap kuasa lebih besar. Pertunjukan tidak terlalu bagus karena mesin punya 300 tenaga kuda. Di era saya, kami tidak punya 300 hp, tapi tetap saja sangat menghibur,” pria 80 tahun itu mengenang.

“Valentino Rossi tidak punya mesin tangguh dalam kariernya, tapi bisa menunjukkan itu. Anda dan saya bisa membuat pertunjukan. Ini tentang orangnya.

“Bukan tentang mesin yang kencang. Apakah Anda berkendara per lap 2,05 atau 2,10 (detik), itu bukan masalah. Anda ingin duel. Ada 200 ribu orang di tribune tidak duduk membawa stopwatch. Sangat penting jika kita mengurangi daya sedikit, motor juga menjadi tidak terlalu berbahaya.

“Pembalap harus mengerem keras sehingga mereka bisa memperlambat motor seberat 160 kg pada kecepatan 300 km/jam ke kecepatan normal. Namun jika Anda kecelakaan, motor meluncur seperti peluru.

“Itu sangat bahaya. Jika mengurangi tenaga, Anda meningkatkan keselamatan, ban tetap lebih baik. Lalu siapa yang menang? Pembalap terbaik. Itu yang kami inginkan.”

Giacomo Agostini

Giacomo Agostini

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Mulai musim depan, Dorna bakal menggelar Sprint Race yang diadaptasi dari Formula 1. Bedanya, adu kecepatan ini akan dilaksanakan setiap Sabtu sore di pekan balapan.

Pro-kontra pun merebak di kalangan pembalap. Menanggapi isu tersebut, Agostini memandang Sprint Race tidak bermasalah untuk MotoGP. Hanya saja, kelas yang lain akan menerima konsekuensi berat.

“Saya tidak tahu. Mungkin itu bisa seperti Formula 1, tapi kami sudah punya tiga kelas dengan Moto3 dan Moto2. Itu banyak. Di era saya, saya juga mengikuti beberapa balapan di kelas 350 cc dan 500 cc,” ia mengungkapkan.

“Tapi dulu pembalap melakoni beberapa balapan sekaligus. Itu juga bisa dilakukan jika seorang pembalap sekarang berkendara di Moto2 dan MotoGP sekaligus. Anda bisa berkendara di dua kelas.

“Tidak akan sulit untuk mempersiapkan motor untuk Sabtu dan Minggu. Sekarang, motor yang sama harus dipersiapkan untuk kedua balapan di Sabtu dan Minggu.

“Tapi, itu maksimum 24 balapan setiap tahun. Sekarang, ada 42 yang mana sangat banyak. Bukan hanya pembalap, tapi juga untuk tim dan mekanik. Kami harus melihat apakah itu berguna, mungkin itu bagus.”

dibagikan
komentar
Fabio Quartararo Hadapi Momen Tersulit di Motegi
Artikel sebelumnya

Fabio Quartararo Hadapi Momen Tersulit di Motegi

Artikel berikutnya

India Akan Jadi Tuan Rumah MotoGP

India Akan Jadi Tuan Rumah MotoGP