Analisis: Mengapa kebangkitan Honda membuat Yamaha khawatir?

Marc Marquez di ambang juara dunia MotoGP. Fakta yang kini harus dipahami Yamaha bagaimana mereka kalah di kejuaraan, meskipun memiliki motor paling seimbang.

Berjalannya musim 2016 melempar sebuah statistik signifikan: Yamaha memenangi lima dari tujuh balapan pertama, tapi tidak lagi melakukan sejak saat itu. Kemenangan Valentino Rossi di Catalunya pada Juni merupakan yang terakhir kali di mana pembalap pabrikan Jepang itu berdiri di podium teratas.

Di sisi lain, Honda, yang baru mengoleksi dua kemenangan sejak Catalunya – keduanya dari Marquez – telah memenangi balapan sebanyak lima kali dengan empat pembalap berbeda. Sementara Ducati (Austria) dan Suzuki (Silverstone) masing-masing meraih satu kali kemenangan.

Sebesar apapun Yamaha menunjukkan ketenangan, Rossi melontarkan pernyataan yang sangat jelas di Aragon akhir pekan lalu. The Doctor telah menganggap gelar juara dunia musim ini telah hilang. Namun, ia juga mengkhawatirkan tentang musim depan, melihat performa dari YZR-M1.

“Kami sedikit khawatir, dalam arti bahwa kami perlu untuk bekerja dan melakukan sesuatu lebih pada bagian terakhir dari musim ini. Tapi kami juga perlu untuk fokus pada tahun depan,” ucap Rossi.

“Sulit untuk meningkatkan motor pada empat balapan terakhir. Tapi kami dapat membangun dasar untuk mengambil langkah maju pada 2017.”

Jorge Lorenzo menunjuk elektronik sebagai akar dari permasalahan Yamaha. Sesuatu yang paradoks, mengingat pada awal Maret lalu, pabrikan Jepang ini telah beradaptasi terbaik dengan software Magneti Marelli.

“Yamaha beradaptasi sangat baik dengan elektronik baru, lebih baik dari Suzuki dan Honda. Tapi mungkin (peningkatan) kami terhenti sejak saat itu,” tutur Lorenzo.

Team Manager Yamaha, Massimo Meregalli, melakukan semua yang dia bisa untuk meminimalkan kemunduran timnya. Baru-baru ini ia mengatakan belum ada kejelasan mengenai motor baru hingga November, karena akan memiliki beberapa update penting.

Sebaliknya, Honda telah melakukan tes dua kali dengan mesin 2017. Dan sejauh ini, hasilnya memuaskan kedua pembalap mereka.

Walaupun Meregalli mencoba menenangkan situasi, tapi tak seorang pun di paddock yang meragukan Yamaha telah kehilangan peluang emas untuk merebut mahkota juara lagi. Pada titik ini pula, dengan empat balapan tersisa, Honda memimpin di semua tiga kategori (gelar juara untuk pembalap, tim dan konstruktor).

Perubahan ban menyakiti Yamaha

Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya karena beberapa faktor kombinasi.

Pertama, Honda punya Marquez: pembalap jenius berusia 23 tahun. Terlepas dari talenta luar biasa dan tak kenal takut, dia telah bekerja bagaimana memainkan kartunya dengan tepat: untuk menyerang ketika bisa menang, dan bermain aman ketika tidak bisa.

Lalu, pada level teknis, Honda telah membuat banyak kemajuan dengan elektronik yang awalnya membuat mereka sangat sakit kepala.

Dan lalu ada elemen ketiga: ban yang tampaknya dibuat untuk Lorenzo selama tes pramusim, sekarang telah menjadi kelemahan bagi pembalap Spanyol itu.

Setelah ketakutan Scott Redding di Argentina – ban belakangnya terkelupas pada kecepatan tinggi – Michelin mengimplementasikan rencana darurat untuk mengulangi insiden yang sama. Mereka mengubah konstruksi karet ban.

Lorenzo menjadi pembalap terburuk dari perubahan ini. Dengan ban baru, kecepatan ia menikung – salah satu kekuatannya – harus dikompromikan. Terutama mengingat kurangnya stabilitas dan feeling ketika masuk ke tikungan.

Terlepas dari hal ini, Lorenzo masih bertarung melawan Rossi demi peringkat kedua di klasemen sementara. Walaupun tidak satu orang di Yamaha yang mengakuinya, kondisi itu juga menjadi sumber kekhawatiran.

Meregalli boleh saja bersikeras tidak ada alasan untuk gelisah – tapi ada juga beberapa alasan untuk tetap tenang.

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan MotoGP
Pembalap Valentino Rossi , Jorge Lorenzo , Marc Marquez
Tim Yamaha Factory Racing , Repsol Honda Team
Tipe artikel Analisis