Bagnaia Bidik Kemenangan Perdana di MotoGP

Francesco Bagnaia sangat antusias menatap musim barunya di MotoGP sebagai pembalap Ducati. Kendati demikian, ia tak mau menetapkan target juara dunia yang dirasa terlalu muluk.

Bagnaia Bidik Kemenangan Perdana di MotoGP

Pembalap yang akrab disapa Pecco tersebut selalu bermimpi melaju bersama Ducati sejak diajak pamannya melihat garasi tim yang bermarkas di Borgo Panigale. Ia pun bekerja keras mewujudkan cita-citanya dengan menjuarai berbagai ajang balap motor.

Pintu terbuka ketika pemuda 24 tahun tersebut memimpin klasemen Moto2 pada 2018. Meski motivasinya membesar, mantan pembalap Pramac itu berusaha menikmati proses, maju selangkah demi selangkah.

Kejutan menggembirakan datang di pengujung 2020, di mana ia berpindah ke Ducati. Bekerja untuk tim pabrikan tentu menghadirkan tekanan tersendiri. Perbandingan dengan Loris Capirossi, Valentino Rossi dan Andrea Dovizioso tak bisa dielakkan.

Bagnaia tak boleh mabuk pujian atau tertekan ketika diejek lebih lemah dari pendahulunya demi meraih target pribadi. Pertama, ia ingin memenangi sebuah lomba, setelah itu baru memikirkan sasaran lebih besar. Berikut wawancara yang dilakukan saat peluncuran Desmosedici GP21.

Manajemen Ducati menyatakan kalian harus memenangi gelar juara dunia, tapi kalian adalah debutan di tim pabrikan. Apakah permintaan itu memberi tekanan atau malah menambah motivasi?

Saya pikir itu tekanan positif karena itu ekspektasi dari setiap pembalap pabrikan. Seorang pembalap ofisial tak boleh berpikir mencapai peringkat kelima atau keenam atau balapan sangat bagus sekali dan dua atau tiga buruk.

Targetnya adalah memenangi titel. Bagaimanapun, saya ingin lakukan pertama, seperti yang terjadi pada 2018 di mana saya tiba tanpa kemenangan kala mengawali tahun kedua di Moto2, adalah memenangi pertandingan pertama (di MotoGP), kemudian berpikir besar.

Tekanan yang mereka letakkan di atas sangat positif dan tentu memberikan dorongan besar. Baik saya maupun Jack tahu berada di tim pabrikan memberi tanggung jawab besar dalam pengembangan dan hasil.

Bagaimana perasaan Anda ketika mengenakan kostum tim Merah untuk pertama kali dan berfoto dengan motor resmi?

Impian yang jadi kenyataan. Ketika mereka meminta saya mengenakan kostum, sungguh menyenangkan karena pertama, saya pembalap tim resmi, lalu itu adalah satu hal yang selalu ingin saya lakukan. Sejak saya kecil selalu berkata akan senang berada di sini. Sensasi luar biasa bagi saya dan keluarga. Ketika saya membuka selubung motor, saya sangat bersemangat karena mereka tak pernah menunjukkan kepada saya hingga saat itu, jadi ketika melihatnya, itu sangat indah.

Baca Juga:

Ini tantangan besar, tapi di masa lalu, Anda selalu memenangi laga penting. Apa yang bisa Anda berikan secara berbeda kepada Ducati dibanding pembalap berpengalaman seperti Andrea Dovizioso?

Tentu saja ini tantangan paling penting dalam hidup saya. Mereka banyak mencoba tapi hanya mampu (menang) sekali, jadi saya ingin jadi kompetitif dan membawa Ducati ke tempat yang layak. Menerima tongkat estafet dari Dovizioso, tidak akan mudah, begitu pula dari Danilo Petrucci karena keduanya melakukan pekerjaan dengan hebat.

Sebuah tanggung jawab besar karena Dovi menjadi runner-up selama tiga tahun beruntun dan sekali nyaris juara. Itu pastinya sangat sulit, tapi kami di sini untuk mencoba dan kami memiliki semua yang dibutuhkan untuk membuktikan bahwa motor kami lebih kencang, sama seperti pembalapnya.

Di akhir tahun, Anda akan gembira kalau…

Jika manajemen Ducati gembira, maka saya juga gembira.

Mentor Anda, Valentino Rossi, gagal juara dengan Ducati. Apakah itu menjadi motivasi ekstra bagi Anda?
Saya pikir motor kami sekarang tak ada hubungannya dengan yang didapatkan Vale. Pada level struktural, secara praktis, setiap orang berubah. Proyeknya berbeda secara total. Banyak pembalap yang tak berhasil dengan motor itu, Dovi juga baru memperoleh hasil setelah motor dikembangkan. Saya pikir itu alasan kenapa Vale gagal mendapat hasil sesuai keinginan, juga karena saat kembali ke Yamaha, ia langsung menang. Saya tidak membandingkan diri dengannya, sebab mustahil membuat perbandingan dalam situasi berbeda.

Rookie Luca Marini dan Enea Bastianini mengungkapkan akan minta saran kepada Anda. Apa Anda mau memberikannya?

Dengan Luca, saya sudah bicara banyak. Setiap kali ada kesempatan, saya jelaskan kepadanya bagaimana cara kerja ban dan apa yang harus dilakukan saat mengerem dengan Ducati, karena itu aspek di mana kami bisa mendapat lebih banyak waktu, tapi itu juga bagian yang sangat rumit.

Saya mencoba membuatnya mengerti hal-hal itu, yang mungkin jadi sedikit kekurangan saya di awal, karena ketika saya tiba, mereka (kru) tak bisa mengatakan dengan cepat apa yang harus saya lakukan.

Kedua pembalap itu punya keunggulan sebab memiliki gaya membalap sama seperti yang dibutuhkan Ducati, daripada saya. Ketika saya jadi teman setim Luca di Moto2, dia sering mengerem dengan keras, sebaliknya saya yang lebih banyak meluncur.

Saya tahu dia pembalap yang sangat cerdas, jadi saya yakin dia akan beradaptasi dengan sangat baik. Saya jarang bertemu Enea dibanding Luca, tapi saya akan membahas ini dengannya karena saya tak punya masalah mengatakan pendapat saya tentang motor dan bagaimana seharusnya dikendarai. Dalam tes akhir pekan, mereka akan bisa mengakses semua umpan balik dan data saya, jadi tak ada alasan untuk menyembunyikan sesuatu.

Tahun lalu, Anda mengutarakan kekhawatiran terkait perjalanan dan risiko kontak dengan Covid-19. Apa musim ini Anda akan lebih banyak menggunakan pesawat pribadi?

Saya belum mampu menyewa jet pribadi. Kalau ada kesempatan, saya akan memanfaatkannya. Semoga Ducati akan menyewa (pesawat), itu akan jadi solusi terbaik.

Francesco Bagnaia, Ducati Team

Francesco Bagnaia, Ducati Team

Foto oleh: Ducati Corse

Dalam video presentasi, kami melihat ada cincin melingkar di jari Anda. Ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?

Saya belum menikah (tertawa)! Paman menghadiahkan sebuah cincin yang dibuatnya dari sebuah dadu dan saya mengenakannya, Dari sisi emosional, itu sesuatu yang sangat penting, jadi saya akan mengenakannya. Lagipula, itu di tangan kiri, bukan tanda pernikahan.

Ayah Anda adalah manajer tim VR46 di CIV. Apa yang ingin Anda katakan?

Itu adalah hal yang sangat indah. Dia selalu punya sesuatu lebih dibandingkan ayah-ayah lain, dari sudut pandang kemanusiaan. Saya pikir peran itu cocok untuknya, terutama bersama-sama para pemuda karena dia hebat berinteraksi dengan mereka dan membuat mereka memahami berbagai hal.

Itu seperti yang dilakukannya terhadap saya. Jadi saya sangat gembira terutama bangga karena dia berhasil masuk ke dunia ini. Saya kira dia akan melakukan pekerjaan dengan bagus, saya lihat energinya berlimbah dan ketika menelepon saya, dia bicara tentang pengalaman barunya dan itu membuat saya senang.

 

dibagikan
komentar
Ducati GP21 Mesin Lama, Ubahan pada Aerodinamika dan Sasis
Artikel sebelumnya

Ducati GP21 Mesin Lama, Ubahan pada Aerodinamika dan Sasis

Artikel berikutnya

Tatap Muka Perdana Marquez-Espargaro sebagai Pembalap Honda

Tatap Muka Perdana Marquez-Espargaro sebagai Pembalap Honda
Muat komentar