Catatan usai tes pramusim MotoGP Qatar

dibagikan
komentar
Catatan usai tes pramusim MotoGP Qatar
Oriol Puigdemont
Oleh: Oriol Puigdemont
7 Mar 2018 02.36

Apakah MotoGP 2018 akan menjadi duel ulangan Marc Marquez versus Andrea Dovizioso? Oriol Puigdemont menganalisisnya seusai tes pramusim terakhir di Qatar.

Marquez favorit juara kelima kalinya

Jika ditanya siapa pembalap dengan performa apik sepanjang tes pramusim, maka Anda harus menjawab Marquez. Ia memang tak memuncaki ketiga tes di Sepang, Buriram atau Losail, namun The Baby Alien paling konsisten pada tiga sirkuit berbeda.

Aset terbesar Marquez adalah kecepatan, dan di Qatar, ia mengorbankan aspek ini untuk mencari konsistensi. Mesin baru Honda seharusnya membuat lebih mudah saat balapan pertama dibandingkan musim sebelumnya, dan mulai dari Argentina, The Baby Alien dalam mode menyerang penuh.

Perihal RC213V 2018 yang tidak pada level sama seperti 2013 dan 2014, tapi setidaknya lebih baik dibandingkan 2016 dan 2017. Bagaimanapun, Marquez mampu merengkuh gelar juara dalam dua musim terakhir.

Marc Marquez, Repsol Honda Team
Marc Marquez, Repsol Honda Team

Foto oleh: Gold and Goose / LAT Images

Dovizioso siap menjadi penantang terdekat

Setelah membuat terobosan pada 2017, yang dibuktikan dengan enam kemenangan, Dovizioso menuju seri pembuka Qatar sebagai penantang sejati untuk pertama kalinya musim ini.

Ia termasuk yang tercepat di Sepang, salah satu penantang utama pasukan Honda di Thailand dan kemudian menunjukkan kecepatan long-run (simulasi balap) saat tes Qatar – menjadikan DesmoDovi berpeluang besar memenangi balapan di Sirkuit Losail.

Itu semua berarti, pembalap Ducati ini telah mendapatkan hak untuk dianggap sebagai rival utama Marquez dalam perebutan titel.

“Saya sangat luas untuk memulai musim sebagai penantang utama, karena ini menunjukkan kami telah bekerja baik. Saya juga merasa lebih kompetitif dibanding musim lalu,” ucapnya. Dovizioso biasanya adalah apa yang dikatakannya.

Andrea Dovizioso, Ducati Team
Andrea Dovizioso, Ducati Team

Foto oleh: Gold and Goose / LAT Images

Lorenzo masih punya banyak pekerjaan

Membuat penegasan lewat rekor lap di Sepang, performa Jorge Lorenzo menurun di Thailand. Ia bahkan meninggalkan Sirkuit Buriram dengan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.

Pada hari terakhir tes Thailand, dan di Qatar, pembalap Spanyol itu mengungkapkan Ducati masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan – terutama membuat ia merasa nyaman di atas Desmosedici GP18.

Saat di Malaysia, Lorenzo dilihat para rival sebagai penantang kejuaraan. Namun kini, ia hanya akan menjadi pesaing dalam kemenangan balapan, bukan pertarungan sepanjang musim.

Ia tahu, bahwa meninggalkan zona nyaman Yamaha dan hijrah ke Ducati akan berisiko. Dan sekarang Lorenzo perlu menggandakan upaya jika ingin mewujudkan ambisinya.

Jorge Lorenzo, Ducati Team
Jorge Lorenzo, Ducati Team

Foto oleh: Gold and Goose / LAT Images

Yamaha kebingungan

Tidak ada yang lebih buruk bagi tim MotoGP daripada membuat langkah kemajuan tanpa benar-benar mengubah apapun tentang motor, sesuatu yang terjadi pada Yamaha beberapa kali belakangan ini.

Pabrikan Jepang itu tidak efektif untuk mencoba memecahkan masalah traksi yang menghambat Valentino Rossi dan Maverick Vinales musim lalu. Berkali-kali mencoba sasis baru demi mencari solusi, The Doctor juga vokal terkait keluhan elektronik YZR-M1 sebagai perbandingan dengan Honda dan Ducati.

Sedangkan rekan setim Vinales telah menekankan, bahwa tidak ada yang bisa diharapkan untuk memperebutkan titel, jika ia masih mengendarai motor yang tidak sesuai dengan keinginannya. Mengingat apa yang kita ketahui sekarang, rekor empat kemenangan dan 13 podium musim lalu, tampaknya tak terlalu buruk baginya.

Valentino Rossi, Yamaha Factory Racing
Valentino Rossi, Yamaha Factory Racing

Foto oleh: Gold and Goose / LAT Images

Zarco terus menjadi berita utama

Kendati mengendarai YZR-M1 berusia dua tahun, Johann Zarco tetap lebih melebihi performa duo pabrikan Yamaha selama tes pramusim. Pembalap Tech 3 itu bahkan memimpin tes Qatar hari terakhir.

Jika Rossi dan Vinales menginginkan YZR-M1 sesuai preferensi mereka, sebaliknya Zarco paham, bahwa cara terbaik memaksimalkan Yamaha adalah meniru gaya berkendara Lorenzo yang halus.

Usai cepat beradaptasi terhadap tekanan kelas premier musim lalu, tidak ada yang meragukan Zarco akan terus berada di baris depan pada 2018. Dan kolaborasi Tech 3 dan KTM musim 2019 hanya akan menaikkan tensi antara sang pembalap Prancis dengan pabrikan Yamaha.

Johann Zarco, Monster Yamaha Tech 3
Johann Zarco, Monster Yamaha Tech 3

Foto oleh: Gold and Goose / LAT Images

Waktunya bagi Iannone bangkit

Melupakan buruknya sepanjang 2017, Suzuki bakal menghadapi 2018 berbekal GSX-RR yang baru dan lebih tajam, khususnya pada sisi mesin.

Itu berarti, akan tiba waktunya bagi Alex Rins, terutama Andrea Iannone untuk maju ke depan. Pembalap Italia ini terlihat di bawah penampilan rekan setim yang lebih konsisten dan kurang berpengalaman.

Sejumlah pengamat menganggap, Iannone lebih memperhatikan citra ketimbang peringkat klasemen. Jika memang begitu, ia butuh seseorang untuk menguraikan betapa penting dirinya agar sesuai dengan peran yang diharapkan Suzuki, yakni menjadi ujung tombak tim.

Bahkan, pabrikan bermarkas di Hamamatsu itu dikabarkan memiliki keraguan besar untuk memperbarui kontrak Iannone, yang akan habis akhir musim ini.

Andrea Iannone, Team Suzuki MotoGP
Andrea Iannone, Team Suzuki MotoGP

Photo by: Gold and Goose / LAT Images

Aprilia terjebak dalam pola bertahan

Pembalap utama Aprilia, Aleix Espargaro, mulai putus asa. Ia membutuhkan timnya untuk memberikan mesin yang telah dijanjikan selama berbulan-bulan.

Espargaro juga telah meminta motor yang lebih bertenaga sejak musim lalu, tapi ditunda beberapa kali. Tampaknya, permintaan sang pembalap baru bakal dipenuhi pada seri pembuka Qatar, ketika ia berhasil finis keenam pada 2017.

“Dalam hal kecepatan, kami tidak terlalu buruk, tapi kami butuh lebih banyak tenaga. Saya tidak tahu apa yang bisa kami lakukan untuk lebih cepat pada satu lap,” ucap Espargaro usai tes Qatar.

Aleix Espargaro, Aprilia Racing Team Gresini
Aleix Espargaro, Aprilia Racing Team Gresini

Foto oleh: Gold and Goose / LAT Images

KTM tumbuh kuat

Dengan standar paling masuk akal, debut KTM terbilang sukses, dan pabrikan Austria itu terus menginvestasikan sumber daya yang signifikan saat memasuki musim kedua.

KTM diyakini bakal terus tumbuh cepat dan membuat kemajuan besar pada 2019, ketika memiliki empat motor di lintasan, menyusul kolaborasi dengan Tech 3.

Pol Espargaro dalam kondisi mapan, namun posisi Bradley Smith terus terancam, ditambah adanya ketertarikan KTM kepada Zarco – yang mana pembalap Prancis ini terikat kontrak dengan Tech 3 dan bukan Yamaha.

Pol Espargaro, Red Bull KTM Factory Racing
Pol Espargaro, Red Bull KTM Factory Racing

Foto oleh: Gold and Goose / LAT Images

Artikel MotoGP berikutnya
GALERI: Sejarah perjalanan karier balap Jorge Lorenzo

Artikel sebelumnya

GALERI: Sejarah perjalanan karier balap Jorge Lorenzo

Next article

Iannone keluhkan lambatnya Suzuki GSX-RR

Iannone keluhkan lambatnya Suzuki GSX-RR
Load comments