Davide Brivio Sosok yang Pas Selamatkan Honda

Pengamat MotoGP, Carlo Pernat, menilai Joan Mir dan Davide Brivio bisa menjadi penyelamat untuk Honda Racing.

Davide Brivio Sosok yang Pas Selamatkan Honda

Pabrikan berlogo sayap tunggal itu sedang berada di titik nadir saat ini. Mereka terhempas di dasar klasemen konstruktor MotoGP 2022, bahkan lebih buruk daripada KTM yang dua tahun terakhir tersendat-sendat.

Dalam keadaan kacau, Honda kemungkinan melepas musim ini dan fokus pada 2023. Tak hanya mengembangkan RC213V, line-up juga dirombak.

Kecuali pembalap kesayangan Marc Marquez, tiga rider lain akan berubah. Alex Rins sudah pasti menggantikan Alex Marquez. Sementara, kursi Pol Espargaro di tim pabrikan dan Takaaki Nakagami dari LCR belum jelas karena Honda tak kunjung mengumumkan pilihannya.

Joan Mir digadang-gadang jadi pendamping Marquez menyusul keluarnya Suzuki akhir musim ini. Sedangkan, Ai Ogura mungkin dipromosikan dari Moto2 untuk mengisi slot kompatriotnya, Nakagami.

Kepada Moto.it, Pernat mengutarakan kalau juara dunia MotoGP 2020 harus bergabung dengan Honda karena musim depan, tak banyak kursi tersisa. Ia yakin kalau Mir sedikit ragu saat mengetahui kondisi pabrikan itu.

“Mir sudah selayaknya pergi ke HRC. Bagi saya, terlihat aneh kalau dia tidak punya motor musim depan,” ujarnya.

Baca Juga:

“Saya pikir kendala bukan berhubungan dengan masalah uang, melainkan ada banyak kebingungan di Honda.”

Manajer Enea Bastianini tersebut mengomentari rumor yang menyebutkan kalau Davide Brivio, eks manajer tim Suzuki yang kini bekerja untuk Alpine, akan menangani Honda.

“Situasinya kacau. Honda adalah motor paling buruk di trek. Hipotesis (menghadirkan) Brivio perlu dipertimbangkan,” Pernat melanjutkan.

“Dia tahu kondisi pabrikan Jepang, dia paham bagaimana membentuk grup. Dia juga andal dalam memilih pembalap. Dia adalah figur sempurna.”

Saat ini, pria paruh baya tersebut sedang harap-harap cemas menunggu kabar Ducati soal tandem Francesco Bagnaia. Kandidat kuat pengganti Jack Miller adalah Bastianini dan Jorge Martin.

Beberapa waktu lalu, direktur olahraga Ducati Paolo Ciabatti menyatakan bahwa pihaknya mengumumkan pembalap kedua setelah balapan di Austria.

Pernat mengklaim kalau saja yang pertimbangan utama Ducati adalah prestasi, La Bestia yang akan duduk di Borgo Panigale. Maklum saja, pemuda Italia sudah memborong tiga kemenangan.

Sebaliknya, Martin sedikit meredup karena tubuh belum pulih sepenuhnya dari cedera. Rider Spanyol mempersembahkan dua runner-up untuk Pramac Racing.

Oleh karena itu, Ducati menyertakan faktor lain dalam penilaian. “Keputusan final belum dibuat, di mana baru ketahuan pada akhir Agustus,” Pernat menuturkan.

“Mereka tidak hanya melihat hasil, kalau tidak tak akan ada keraguan (Bastianini terpilih). Namun, yang paling penting daripada tim adalah kontrak.”

Ia membahas peluang juara dunia MotoGP. “Saya lihat Aleix Espargaro lebih difavoritkan daripada Fabio Quartararo,” ucapnya.

Enea Bastianini, Esponsorama Racing and Carlo Pernat

Enea Bastianini, Esponsorama Racing and Carlo Pernat

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Johann Zarco Analisa Kekuatan Aprilia dan Aleix Espargaro
Artikel sebelumnya

Johann Zarco Analisa Kekuatan Aprilia dan Aleix Espargaro

Artikel berikutnya

Massimo Rivola Sosok Penting di Balik Kesuksesan Aprilia

Massimo Rivola Sosok Penting di Balik Kesuksesan Aprilia