Ducati Masih Sulit Menang, Ini Salah Satu Penyebabnya

Ducati mengawali Kejuaraan Dunia MotoGP 2021 cukup bagus. Namun, mereka belum mampu merebut kemenangan dari tiga balapan yang sudah digelar.

Ducati Masih Sulit Menang, Ini Salah Satu Penyebabnya

Dalam tiga lomba awal MotoGP 2021, para pembalap Ducati mampu merebut dua pole position masing-masing lewat Francesco “Pecco” Bagnaia (Ducati Lenovo) di GP Qatar dan Jorge Martin (Pramac Racing) di GP Doha.

Dari sembilan finis podium, para pembalap pengguna Ducati Desmosedici GP21 itu juga mampu merebut lima di antaranya. Johann Zarco (Pramac Racing) juga sempat memimpin klasemen pembalap setelah balapan kedua, GP Doha.

Setelah lomba ketiga, GP Portugal, Bagnaia (P2) dan Zarco (P4) juga mampu berada di empat besar klasemen pembalap. Tetapi, menjelang bergulirnya balapan keempat pada akhir pekan ini (30 April-2 Mei), GP Spanyol di Jerez, Ducati belum mampu naik podium utama.

“Kami mulai terbiasa dengan ban desain baru dari Michelin ini. Seperti musim 2020 lalu, kami yakin Desmosedici mampu kompetitif di Jerez, seperti di Portimao,” kata Paolo Ciabatti, Direktur Sport Ducati Corse.

“Jerez seharusnya menjadi akhir pekan positif bagi kami. Ducati mampu bagus di trek ini.”

Johann Zarco, Pramac Racing

Johann Zarco, Pramac Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Pada MotoGP 2020 lalu, Sirkuit Jerez-Angel Nieto menjadi tuan rumah dua balapan awal, GP Spanyol dan GP Andalusia.

Saat itu, Andrea Dovizioso dan Miller masing-masing mampu finis di P3 dan P4 GP Spanyol, sementara Bagnaia di P7. Di GP Andalusia, Dovi hanya mampu finis di P6. Bagnaia sempat merangsek ke P2 sebelum kerusakan mesin membuatnya mundur dari balapan.

Musim ini, Ducati superior untuk urusan kecepatan tertinggi (top speed). Di Qatar, para pembalap Ducati mampu menguasai sesi latihan bebas hingga kualifikasi. Mereka bahkan bisa menguasai lima besar top speed pada dua balapan di Sirkuit Losail lalu.

Puncaknya, Zarco membuat rekor top speed MotoGP saat menembus 362,4 km/jam pada sesi latihan bebas keempat (FP4) GP Qatar, 27 Maret lalu.

Paolo Paolo Ciabatti, Ducati Corse Sporting Director, Gigi Gigi Dall'Igna, Ducati Team General Manager

Paolo Paolo Ciabatti, Ducati Corse Sporting Director, Gigi Gigi Dall'Igna, Ducati Team General Manager

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Di sinilah problem Ducati sesungguhnya mengapa mereka masih sangat sulit untuk memenangi lomba musim ini. Sejauh ini, para pembalap Ducati mampu memaksimalkan mesin V4 1.000 cc yang mampu menyemburkan tenaga hampir 300 daya kuda (hp).

Namun, untuk mengeluarkan tenaga sebesar itu jelas butuh bahan bakar banyak. Durasi setiap balapan Qatar lalu adalah 22 lap (118,36 km). Jarak lomba tersebut harus mampu dilakoni para pembalap dengan maksimal 22 liter bahan bakar di dalam tangki.

Sulit menebak berapa jumlah bahan bakar dalam tangki Ducati Desmosedici GP21 di Qatar lalu. Yang pasti, semua tahu jika duet tim pabrikan Monster Energy Yamaha MotoGP, Maverick Vinales dan Fabio Quartararo naik podium utama di GP Qatar dan GP Doha.

“Di beberapa sirkuit, Anda harus memperhitungkan antara jumlah bahan bakar dengan jarak lomba agar mampu finis. Di paruh kedua lomba, jumlah bahan bakar pasti menurun. Saat itulah pembalap mengubah mode ekonomis yang sudah diatur engine mapping,” kata Ciabatti.

Baca Juga:

Pria asal Italia itu menjelaskan, kadang kondisi eksternal juga ikut memengaruhi performa motor. Misal saat angin bertiup berlawanan dengan arah motor. Di trek lurus, kondisi tersebut akan membuat konsumsi bahan bakar meningkat.

“Itu yang terjadi pada kami pada lomba pertama di Losail lalu. Lalu, situasi berubah. Bukan rahasia bila di beberapa trek, kami memang agak khawatir soal bahan bakar. Namun itu bukan hanya kami alami sendiri,” ucap Ciabatti.

“Itulah mengapa di beberapa trek kami harus benar-benar memperhitungkan dengan detail antara performa mesin dengan level konsumsi bahan bakar.”

Manajer Tim Pramac Racing Francesco Guidotti menambahkan, Ducati memiliki tiga jenis engine mapping yang tidak memiliki nama khusus. “Mereka hanya menandainya dengan huruf atau angka di dashboard,” ucap Guidotti.

Para teknisi pabrikan lawan selama ini menilai, sistem penggerak katup desmodromic yang dipatenkan Ducati, mampu menghemat bahan bakar cukup signifikan. Meskipun mesin digeber pada putaran (rpm) tinggi.

“Benar, desmodromic itu sistem yang sangat efisien dan efektif. Tetapi, dalam situasi tertentu, Anda tetap harus berhati-hati terhadap suplai bahan bakar,” kata Paolo Ciabatti.

dibagikan
komentar
Rossi Klaim Dirinya Jadi Anutan Pembalap Masa Kini

Artikel sebelumnya

Rossi Klaim Dirinya Jadi Anutan Pembalap Masa Kini

Artikel berikutnya

Bastianini Pede Bisa Finis 10 Besar di Jerez

Bastianini Pede Bisa Finis 10 Besar di Jerez
Muat komentar