Pol Espargaro: KTM Ajarkan Saya Jadi Pembalap MotoGP

Pol Espargaro tak melupakan jasa besar Red Bull KTM terhadap perkembangan kariernya. Ia kini menjadi pembalap berpengalaman yang matang secara skill maupun mental.

Pol Espargaro: KTM Ajarkan Saya Jadi Pembalap MotoGP

Rider Spanyol itu bertransformasi bersama KTM. Espargaro punya andil besar membantu pabrikan Austria yang terjun ke MotoGP pada 2017.

Ia kini lebih paham seluk beluk pengembangan motor, belajar soal strategi dan manajemen tim. Berbagai kelebihan itu mungkin tak dimiliki pembalap MotoGP lainnya. Repsol Honda pun membuka pintu untuknya.

“KTM bagian dari ini. Saat ini, lebih yakin mengendarai di trek, secara psikologis, saya ada di posisi yang belum pernah ada di sana. Saya lebih matang. Sekarang saya bisa kalah dan tak merasa seperti pecundang. Tak tahu bagaimana menjelaskannya, dengan KTM saya tumbuh dari anak menjadi seorang laki-laki di dunia MotoGP ini,” tutur Espargaro.

“Mereka mengajarkan saya bagaimana jadi pembalap. Dulu saya bukan pembalap. Saya hanya orang yang naik motor, tapi bukan pembalap MotoGP yang layak. Mereka mengajarkan bagaimana melakukan itu, dan tanpa pengetahuan, tak mungkin saya menghadapi pembalap terbaik di dunia.”

Baca Juga:

Espargaro berganti motor setelah empat tahun menunggangi KTM. Honda termasuk sulit dikendalikan dan membutuhkan gaya balap agresif.

Ini cocok dengan karakter Pol Espargaro yang mampu menaklukkan RC16. Melihat dari prestasinya, keputusan HRC menggeser Alex Marquez ke LCR Honda Castrol dan mengganti dengan pembalap 29 tahun itu, sudah tepat.

Juara dunia Moto2 2013 itu biasa bersaing dengan Marc Marquez di kelas Moto2 dan 125 cc. Sayangnya, kala melompat ke MotoGP dengan Monster Yamaha Tech3, 2014-2016, tidak pernah naik podium.

Tapi Espargaro merupakan juru kampanye solid, membuatnya jadi pilihan utama KTM saat terjun ke balapan level premier pada 2017. Di sini, ia ditempa sebagai pembalap MotoGP.

Rider tersebut benar-benar terlibat dalam pengembangan motor dan strategi tim agar mencapai target juara, lima tahun setelah proyek awal. Satu-satunya motor yang membalap dengan rangka teralis dan suspense WP.

“Saya menemukan banyak alat untuk digunakan pada motor. Kalau saya, misalnya, melompat dari motor pertama di MotoGP ke HRC, bagi saya mustahil beradaptasi karena banyak alat yang saya gunakan sekarang, saya temukan di KTM. Mereka membangun saya, saya membangun motor bersama mereka. Saya tahu setiap bagian motor yang penting, bagaimana menyentuh motor dan bagaimana perangkat elektronik perlu dipasang,” ucapnya.

Tahun pertama sangat sulit, tapi KTM berangkat dari selisih lebih tiga detik dari kualifikasi di putaran pembuka di Qatar hingga tinggal kurang dari satu detik terhadap waktu pole pada balapan final Valencia.

Ia berhasil sampai ke 10 besar dalam empat dari sembilan balapan. Setahun kemudian, ia mampu naik podium perdana dengan RC16, di tengah hujan di Valencia. Kesulitan yang dialami rekan setimnya, Johann Zarco pada 2019, membuat talenta Espargaro jadi perhatian karena sering finis 10 terdepan.

Dedikasi untuk pengembangan motor bahkan lebih besar daripada Dani Pedrosa, selaku pembalap tes.

“Saya merenungkan banyak usaha, banyak kesabaran dari kedua belah pihak, rasa sakit karena cedera parah juga dari KTM yang tidak melihat proyek bersinar di awal. Hal itu menyakitkan setelah mengeluarkan banyak dana,” katanya.

“Tapi rasa cinta antara kami berdua. Seperti, KTM melihat saya memberi 1000 persen meski sedang cedera, menaiki motor dalam keadaan cedera karena saya tak mau mengecewakan mereka.”

Musim ini, KTM berhasil memenangi tiga lomba atas nama Brad Binder dan Miguel Oliveira. Pabrikan tersebut mendapatkan lima podium dan peringkat kelima klasemen pembalap dari Espargaro.

“Kami telah mengimpikan ada di posisi ini sepanjang waktu, bukan saya saja tapi semua kru, setiap orang. Kami berjuang untuk lima posisi teratas di kejuaraan pada balapan terakhir dengan lima podium, dua pole position. Akhir musim terasa tak nyata.

Pol Espargaro, Red Bull KTM Factory Racing

Pol Espargaro, Red Bull KTM Factory Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

“Juga, sepanjang musim, kami bertarung untuk menang di Republik Ceko ketika Johann Zarco mengeluarkan kami (dari urutan kedua). Seharusnya kami bisa menang atau runner-up. Ini satu podium lagi. Kemudian di balapan pertama di Austria, di mana dikibarkan bendera merah dan saya kehabisan ban, itu juga berpeluang podium. Ini adalah dua podium riil di mana kami dapat bertarung untuk kemenangan.

“Artinya ada tujuh podium yang mungkin posisi satu dan dua, atau dua urutan pertama. Apa yang kami capai seperti khayalan, apa yang bisa kami capai dan bagaimana musim ini. Itu sangat gila. Itu luar biasa.”

dibagikan
komentar
Pol Espargaro Ingin Setara Marc Marquez

Artikel sebelumnya

Pol Espargaro Ingin Setara Marc Marquez

Artikel berikutnya

Sejumlah Alasan Halangi Pembalap Ducati Juara Dunia

Sejumlah Alasan Halangi Pembalap Ducati Juara Dunia
Muat komentar