Insiden Fatal Bukan Disebabkan Pembalap Kurang Pengalaman

Kecelakaan yang menewaskan Hugo Millan, akhir pekan lalu, mencuatkan kembali perdebatan soal keselamatan pembalap motor saat berlomba.

Insiden Fatal Bukan Disebabkan Pembalap Kurang Pengalaman

Minggu (25/7/2021) lalu, pembalap Tim Cuna de Campeones yang baru 14 tahun, Hugo Millan, meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan pada Race 1 FIM CEV kategori Hawkers European Talent Cup di Sirkuit MotorLand Aragon, Spanyol.

Kejadian ini langsung mencuatkan pertanyaan terkait keselamatan pembalap. Pasalnya, Millan menjadi pembalap muda kedua dalam dua bulan terakhir yang tewas akibat kecelakaan di lintasan.

Akhir Mei lalu, Jason Dupasquer juga tewas saat turun di kualifikasi Moto3 Italia di Sirkuit Mugello. Pembalap Tim CarXpert Pruestel GP asal Swiss tersebut juga masih sangat muda, 19 tahun.

Selain soal keselamatan pembalap, muncul juga asumsi apakah tepat pembalap dengan usia seperti Millan sudah diberi motor spesifikasi balap dan bersaing langsung di trek.

Franco Uncini selaku Safety Officer FIM pun angkat bicara. Juara dunia kelas 500cc 1982 bersama Suzuki itu juga pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya di Sirkuit Assen, Belanda.

“Kita semua tidak bisa mencegah terjadinya kecelakaan seperti itu. Pertanyaan apakah usia yang belum cukup menjadi penyebab insiden fatal seperti ini, karena kurangnya pengalaman? Saya kira ini hanya nasib buruk,” ucap Uncini seperti dikutip GPOne.com.

Uncini pun mencontohkan apa yang terjadi pada balapan MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang pada Oktober 2011 silam yang dialami Marco Simoncelli (Honda Gresini) yang kala itu baru berusia 24 tahun.

Begitu pembalap asal Italia tersebut terjatuh, Colin Edwards (Yamaha Tech3) dan Valentino Rossi (Ducati) tidak mampu menghindari dan menghantamnnya. Cedera berat pada kepala dan leher membuat nyawa Simoncelli tidak tertolong.

Baca Juga:

“Dalam insiden itu, siapa yang meragukan pengalaman para pembalap yang terlibat kecelakaan? Kami jelas terus berusaha dan mencoba melakukan sesuatu untuk itu (memperbaiki standar keselamatan),” ujar pria Italia, 66 tahun itu.

“Tetapi saat ini tidak ada alat seperti kantung udara (airbag) yang bisa membantu untuk mengatasi kecelakaan seperti itu. Kita semua hanya berharap kecelakaan seperti itu tidak terjadi lagi.”

Franco Uncini menambahkan, kemampuan pembalap muda di atas motor saat ini jauh lebih baik. Mereka sudah diajari mengendarai motor sejak usia 5 tahun. Pada usia 13 tahun, mereka bisa turun di Rookies Cup dan saat 15 tahun sudah turun di Kejuaraan Dunia Moto3.

Dari situ tidak heran bila usia peraih gelar juara dunia MotoGP dalam beberapa tahun terakhir semakin muda. Parahnya lagi, tidak sedikit pembalap yang berlomba bukan hanya untuk merebut gelar tetapi juga usia muda.

Faktanya, jauh sebelum situasi seperti saat ini, sejumlah pembalap sudah menorehkan sejarah dengan menjadi kampiun kelas tertinggi dalam usia belia.

Pada 2001, Rossi merebut gelar juara dunia kelas utama (saat itu 500cc) dalam usia 22 tahun dan 240 hari. Kemudian, pada 2007, Casey Stoner menjadi kampiun MotoGP saat baru berusia 21 tahun dan 342 hari.

Marc Marquez lalu mengalahkan rekor Freddie Spencer sebagai juara dunia termuda di kelas premier (21 tahun, 258 hari) saat menguasai MotoGP pada 2013 dalam usia 20 tahun dan 266 hari. Tahun lalu, Joan Mir berhasil merebut trofi MotoGP dalam usia 23 tahun dan 75 hari.  

Di sisi lain, Franco Uncini juga mengakui bahwa beberapa kecelakaan dan perkembangan yang diakibatkannya memang tidak dapat dicegah.

 

dibagikan
komentar
Vinales Pembalap Paling Tenang di Trek

Artikel sebelumnya

Vinales Pembalap Paling Tenang di Trek

Artikel berikutnya

Quartararo: Red Bull Ring Bukan Trek Buruk untuk Yamaha

Quartararo: Red Bull Ring Bukan Trek Buruk untuk Yamaha
Muat komentar