Ironi Dani Pedrosa, Pembalap Elite Sekaligus Sial

Setelah 13 musim, Dani Pedrosa akhirnya menyerah. Pensiun dari MotoGP pada 2018. Ia memang gagal meraih titel, namun tetap dianggap sebagai salah satu yang terbaik.

Ironi Dani Pedrosa, Pembalap Elite Sekaligus Sial

Pedrosa merupakan protagonis di kelas premier. Tetapi, seperti dalam film, tidak selalu tokoh utama meraih akhir yang sempurna. Di dunia nyata, itu terjadi padanya.

Publik balap motor menyukai karakter Pedrosa sebab dia tak bertingkah, selalu tampak tenang —cenderung pendiam— serta tentunya memiliki kualitas dan teknik luar biasa.

Terkait kepribadiannya yang kalem, Dani Pedrosa mengakui terkadang dirinya berharap bisa seperti Valentino Rossi. The Doctor selalu ceria dan sangat gemar bicara.

"Saya seorang introvert. Kadang banyak pihak bertanya apakah ada yang salah dengan saya. Berbeda dari Valentino (Rossi), dia selalu dapat menghibur," kata Pedrosa.

Baca Juga:

Begitulah The Little Samurai. Pembalap kalem ini pada akhirnya meninggalkan panasnya arena persaingan juara MotoGP setelah mencoba sejak 2006, usai menjuarai kelas 250cc.

Pedrosa tiba di kelas premier dengan status mentereng, tiga gelar juara dunia. Dua titel 250cc dan satu lainnya di kategori 125cc. Tentu saja itu merupakan modal bagus.

Tak heran, saat dipromosikan Honda ke MotoGP, ia dianggap punya kapasitas mengembalikan kejayaan pabrikan Jepang tersebut sejak ditinggal Rossi ke Yamaha pada 2004.

Sepanjang kariernya dalam MotoGP, The Little Samurai hanya memperkuat Tim Repsol Honda. Pada musim debut, pencapaian sang rider terbilang memuaskan untuk ukuran rookie.

Ia meraih delapan podium, dua kali menang. Pedrosa menutup musim di posisi lima klasemen, terpaut 37 poin dari rekan setimnya, Nicky Hayden, yang menjadi juara dunia.

The Little Samurai terus berprogres. Pada tahun kedua, pembalap kelahiran Sabadell ini keluar sebagai runner-up. Musim itu, ia hanya kalah dari Casey Stoner (Ducati Team).

Pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa, bersama Valentino Rossi (Yamaha) berbagi momen di atas podium pada MotoGP Australia 2008.

Pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa, bersama Valentino Rossi (Yamaha) berbagi momen di atas podium pada MotoGP Australia 2008.

Foto oleh: Yamaha Motor Racing

Hasil tersebut kian meyakinkan Honda serta Pedrosa bahwa meraih gelar hanyalah masalah waktu. Tetapi, MotoGP 2008 justru memperlihatkan kebangkitan The Doctor.

Valentino Rossi berhasil merengkuh kembali statusnya sebagai penguasa MotoGP yang sempat diambil alih oleh Hayden dan Stoner. Musim itu, Pedrosa finis ketiga.

Kemunculan Lorenzo

Tahun 2008 juga menandai kemunculan calon bintang besar bernama Jorge Lorenzo. Bersama Yamaha, junior Pedrosa ini menutup debutnya di kelas premier di peringkat empat.

Musim selanjutnya tak banyak berubah. Rossi juara lagi dan Pedrosa kembali berada di urutan ketiga. Hanya Lorenzo yang membuat kejutan, finis di peringkat kedua.

Makin penasaran meraih gelar, Pedrosa berjuang lebih keras pada MotoGP 2010. Sayangnya, ia kembali gagal. Jorge Lorenzo tampil luar biasa dan sangat dominan.

X-Fuera unggul 138 poin dari Pedrosa, yang kembali harus puas menjadi runner-up. Lorenzo memborong sembilan kemenangan dari 18 seri. Sedangkan Pedrosa hanya tiga kali.

MotoGP 2011 merupakan periode buruk baginya. Pedrosa mengalami insiden dalam balapan di Prancis. Ia menderita cedera tulang selangka dan harus melewatkan tiga race.

Rider Tim Fiat Yamaha, Jorge Lorenzo (belakang), berupaya mengejar pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa, dalam MotoGP Jepang 2008.

Rider Tim Fiat Yamaha, Jorge Lorenzo (belakang), berupaya mengejar pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa, dalam MotoGP Jepang 2008.

Foto oleh: Bridgestone Corporation

Musim itu, Dani Pedrosa kembali melihat rekan setimnya meraih gelar, kali ini Casey Stoner yang bergabung dengan Repsol Honda setelah tiga tahun membela Ducati.

Gara-gara Penalti

Momen yang dinanti-nanti kembali datang pada 2012. Ia bangkit dari kemunduran musim 2011. The Little Samurai terlibat persaingan yang sangat sengit dengan Lorenzo.

Dua rider satu negara tersebut gantian mendominasi. X-Fuera pada paruh pertama sementara Pedrosa di periode kedua musim. Ia bahkan mengantongi kemenangan lebih banyak.

Sayangnya, itu tidak cukup membawa Dani Pedrosa merengkuh gelar. Pada akhirnya, Lorenzo yang keluar sebagai kampiun, dengan keunggulan hanya 18 poin.

"Satu hal yang benar-benar mengecewakan bagi saya adalah ketika (musim) 2012 saya dapat penalti aneh di Misano (GP San Marino)," ujar Pedrosa kepada The Independent.

Saat itu, Pedrosa seharusnya start dari grid terdepan. Namun petaka muncul setelah balapan ditunda karena motor rider Ducati, Karel Abraham, bermasalah.

Begitu proses restart, giliran motor RC213V milik Pedrosa mengalami problem. Ia pun terpaksa ganti motor. Akibatnya, ia menerima penalti dan harus memulai dari belakang.

"Saya berusaha mengejar namun baru lap pertama saya terkena imbas pembalap lain (Hector Barbera) yang jatuh. Saya pun kehilangan kesempatan juara," kata Pedrosa.

Marquez dan Pensiun

Dua pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa dan Marc Marquez (kiri) bercengkerama usai menjalani kualifikasi MotoGP Valencia 2013.

Dua pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa dan Marc Marquez (kiri) bercengkerama usai menjalani kualifikasi MotoGP Valencia 2013.

Foto oleh: Repsol Media

Lalu MotoGP 2013 tiba, menandai kemunculan rival berat lainnya, Marc Marquez. Rekan setim anyar Pedrosa ini langsung menggebrak, mempecundangi para seniornya.

Marquez sukses menjadi juara dunia kelas premier di musim debutnya. Sedang Pedrosa finis di urutan ketiga. Untuk kali ketiga rekan setimnya yang mampu meraih gelar.

Selepas itu, Marc Marquez tidak terbendung. Hanya Lorenzo yang mampu mencegah The Baby Alien untuk meraih tiga gelar secara beruntun pada MotoGP 2015.

Namun Lorenzo cuma berhasil melakukannya satu kali. Marque sukses mendominasi empat musim berikutnya. Pedrosa sendiri memutuskan pensiun setelah akhir 2018.

Banyak yang menyayangkan keputusannya. Namun Pedrosa tahu itu waktunya untuk mundur meskipun tanpa gelar yang diidamkan. Musim 2018 adalah titik terendah Pedrosa.

Untuk kali pertama sepanjang kariernya, Pedrosa finis di luar 10 besar klasemen, tepatnya di urutan ke-11. Ia seolah sadar sudah tidak mampu lagi bersaing.

Nasib Buruk

Yang pasti, walau tanpa gelar, Pedrosa memiliki legasi yang patut dibanggakan. Ia berada di posisi delapan rekor pembalap dengan kemenangan terbanyak MotoGP.

Pedrosa mencatatkan 31 kemenangan. Sama dengan raihan juara dunia empat kali, Eddie Lawson. Ia total membukukan 112 podium dari 236 start di kelas utama.

Pembalap Dani Pedrosa saat menguji motor RC16 Tim Red Bull KTM Factory Racing di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol pada 2019.

Pembalap Dani Pedrosa saat menguji motor RC16 Tim Red Bull KTM Factory Racing di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol pada 2019.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Raihan podium Pedrosa merupakan yang terbanyak ketiga setelah Valentino Rossi (199) dan Jorge Lorenzo (114). Ia satu-satunya rider tanpa gelar dalam lima besar.

Tak heran dengan semua statistiknya, Pedrosa sangat dihormati oleh para rival dan banyak mantan pembalap yang tidak keberatan ia dianggap sebagai legenda MotoGP.

Juara dunia lima kali Mick Doohan punya pandangannya tentang Pedrosa. Menurutnya, juniornya tersebut hanya bernasib sial tak pernah menyandang gelar MotoGP.

"Sangat disayangkan dia tidak pernah menjuarai MotoGP. Bukan karena dia tidak punya kemampuan, melainkan akibat nasib yang buruk," kata Doohan kepada MotoGP.com.

"Terkadang sesuatu terjadi di luar kontrol Anda. Dalam MotoGP, itu sangat sering. Prihatin melihatnya selalu gagal meraih gelar karena dia layak mendapatkannya."

Pedrosa memang telah pensiun. Namun talentanya sudah dirasakan ke KTM. Ia membantu pabrikan Austria itu mengembangkan motor sebagai pembalap penguji dua tahun terakhir.

Kontribusinya terlihat pada MotoGP 2020. KTM tampil impresif dengan motor RC16, meraih total delapan podium, tiga di antaranya sebagai pemenang.

dibagikan
komentar
Karel Abraham Sayangkan Absennya Brno di MotoGP 2021
Artikel sebelumnya

Karel Abraham Sayangkan Absennya Brno di MotoGP 2021

Artikel berikutnya

Austria 2019, Momen Spesial Terakhir Dovizioso bersama Ducati

Austria 2019, Momen Spesial Terakhir Dovizioso bersama Ducati
Muat komentar