Kenapa tak ada lagi pembalap Amerika di MotoGP?

dibagikan
komentar
Kenapa tak ada lagi pembalap Amerika di MotoGP?
Oleh:
Co-author: Gerald Dirnbeck
15 Jan 2019 17.35

Sejak almarhum Nicky Hayden meninggalkan MotoGP akhir 2015, Amerika Serikat tanpa perwakilan penuh pada level teratas kejuaraan dunia Grand Prix serta tidak memiliki kandidat yang jelas. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ketika sosok Pat Hennen memulai kiprah GP 500cc pada 1976 silam, Amerika telah memainkan peran penting dalam membentuk sejarah dari apa yang sekarang kita kenal sebagai MotoGP.

Mulai dari Kenny Roberts Sr yang merevolusi olahraga pada akhir 1970-an hingga kejayaan Hayden – sang underdog – atas Valentino Rossi musim 2006, pembalap Amerika hampir selalu berada di garis depan kelas premier. Setidaknya hingga saat ini.

Sudah hampir delapan tahun sejak kemenangan Ben Spies di Assen 2011, Kala itu, jumlah pembalap Amerika di grid berkurang dari tiga menjadi nol, angka yang tampaknya tidak mungkin meningkat dalam waktu dekat.

Spies adalah pembalap terakhir yang melalui jalur dengan baik dari kesuksesan domestik di Amerika ke panggung dunia. Ia beralih ke World Superbike usai merengkuh tiga gelar juara beruntun di AMA Superbike pada 2006, 2007 dan 2008.

Setelah menyabet titel WorldSBK ketika debut 2009, ia hijrah ke MotoGP bersama Tech 3 musim 2010. Setahun berikutnya, Spies mendapatkan promosi di pabrikan Yamaha – menggantikan Rossi yang memutuskan berseragam Ducati.

Namun, saat karier Spies goyah, tidak ada pembalap muda yang siap untuk mewakili Amerika. Colin Edwards dan Hayden mendekati akhir perjalanan mereka. Texas Tornado pensiun akhir 2014, sedangkan The Kentucky Kid berkiprah di WorldSBK 2016.

Pengecualian ketika Hayden tampil sebagai pengganti Dani Pedrosa, musim 2016 merupakan kali pertama tak ada pembalap Amerika di starting grid sejak 1975.

Walau GP 500cc pernah didominasi Amerika dan Australia, era MotoGP modern sangat Eropa. Dari 22 nama pada 2019, hanya tiga (Jack Miller, Takaaki Nakagami dan Hafizh Syahrin) yang mewakili benua lain. Italia dan Spanyol menguasai grid lebih dari 60%.

Hafizh Syahrin, Monster Yamaha Tech 3

Hafizh Syahrin, Monster Yamaha Tech 3

Photo by: Gold and Goose / LAT Images

Wayne Rainey, tiga kali juara dunia GP 500cc tiga kali pada awal 1990-an, meyakini bahwa dominasi Italia serta Spanyol itu bukan kebetulan. Ia menyebut, berkat pekerjaan yang dilakukan federasi nasional negara-negara tersebut untuk mempersiapkan pembalap muda untuk kompetisi dunia.

Dan saat yang sama, Rainey menyesalkan kematian AMA Superbike sebagai tempat pelatihan bagi bintang-bintang MotoGP di masa depan – sesuatu yang ia janjikan ketika menjual kejuaraan kepada pemilik NASCAR, Daytona Motorsports Group (DMG) pada 2008.

“Amerika adalah kekuatan dominan di era saya, dan jelas banyak yang telah berubah dalam 20 tahun terakhir. Saya kira apa yang terjadi, bahwa federasi nasional di Eropa, di Italia dan Spanyol, bekerja sangat keras pada kejuaraan nasional mereka, mengangkat pembalap ke level tinggi. Jadi, pembalap yang sangat muda bisa berlomba dalam kategori profesional,” paparnya.

“Ini selalu menjadi titik kuat bagi Amerika, kejuaraan nasional berada pada level yang sangat tinggi. Inilah sebabnya mengapa Amerika begitu kuat di masa lalu. Tetapi banyak hal berubah.

“Balapan Amerika sangat kuat hingga sekitar akhir 2008. Kemudian (DMG) membeli AMA Superbike. Mereka mengubah aturan. Mereka menjadikan kelas 600cc fokus nomor satu untuk kejuaraan. Superbike tidak lagi menjadi prioritas.

“Ini menciptakan beberapa kebingungan, dan ini memulai kemunduran di Amerika. Kemudian kami mengalami krisis keuangan dan itu tepat saat Eropa menjadi sangat fokus pada kejuaraan nasional mereka, sejauh peraturan akan berlaku, itulah arah balap. Hasilnya sangat sukses,” imbuhnya.

Singkat saja, aftar juara AMA Superbike menunjukkan berapa banyak bintang MotoGP dan WorldSBK masa depan yang disediakan kejuaraan itu.

Selain tentunya Rainey, Eddie Lawson, Fred Merkel, Doug Chandler, Scott Russell, Doug Polen, Troy Corser dan Ben Bostrom, serta Edwards, Hayden dan Spies – semuanya melanjutkan karier internasional yang sukses. The Kentukcy Kid Hayden bahkan langsung hijrah dari AMA ke perjalanan MotoGP pada 2003.

Usai berakhirnya dominasi Spies, AMA Superbike lalu dikuasai Josh Hayes – merebut titel pada usia 35 tahun. Ia juga sempat tampil di MotoGP Valencia 2011 untuk menggantikan Edwards yang cedera di Tech 3. Dan penampilannya tak buruk, yakni berhasil finis ketujuh.

Josh Herrin kemudian mengakhiri perjalanan Hayes pada 2013, dilanjutkan mendapat tawaran dari SIC Racing Team untuk Moto2 2014. Tetapi ia tidak bertahan, kalah kelas oleh rekan setimJohann Zarco. Jelasnya, silsilah AMA tidak lagi menjadi jaminan kesuksesan di luar negeri seperti sebelumnya.

#2 Josh Herrin

#2 Josh Herrin

Photo by: James Holland

Tidak lama setelah itu, organisasi KRAVE Rainey (dinamakan demikian karena inisial Rainey dan rekan-rekannya) mengambil alih AMA Superbike dari DMG dan mengubahnya menjadi MotoAmerica untuk musim 2015.

Cameron Beaubier – mantan rekan setim Marc Marquez di kelas 125cc 2009 – keluar sebagai juara perdana. Ia lalu menambah titel pada 2016 dan 2018, namun sempat takluk dari Toni Elias saat 2017.

Seiring berjalannya waktu, pembalap seperti Beaubier berpeluang besar memiliki karier sukses di luar negeri, terutama hubungan dekatnya dengan Yamaha. Akan tetapi, ia justru tetap membalap MotoAmerica.

Hal itu merupakan situasi yang mengecewakan Rainey, namun ia bisa memahaminya, terutama ketika Anda mempertimbangkan sisi keuangan.

“Apa yang saya lihat dalam empat tahun terakhir ini adalah para pembalap tersebut paham bahwa dalam kejuaraan dunia, peluang untuk mengendarai motor level top dan mencetak karier mengkilap lebih sedikit dibanding sebelumnya,” ucapnya.

"Di Amerika, pembalap seperti Beaubier menghasilkan lebih banyak uang dengan balapan di MotoAmerica ketimbang semua orang di World Superbike, kecuali (empat kali juara dunia) Jonathan Rea.

“Dia baik-baik saja di Amerika. Dia bisa pulang setelah balapan dan tidur di tempat tidurnya sendiri dan dia mungkin menghasilkan uang dua kali lipat dari apa yang dia bisa lakukan di kejuaraan dunia. Itulah sebabnya saya tidak berpikir Beaubier pergi ke luar negeri,” tutur Rainey.

Pun demikian, Rainey percaya Beaubier tidak memanfaatkan potensinya dengan tetap di Amerika. Ia bahkan mengungkapkan telah mendesak sang pembalap untuk melihat kompetisi di luar MotoAmerica demi kemajuan kariernya.

“Saya kira dia tidak mencoba balapan secara internasional. Dia tidak di Suzuka 8 Jam, dia tidak menekan Yamaha untuk tes MotoGP atau membalap untuk tim World Superbike. Padahal menurut saya, dia bisa masuk lima besar tanpa masalah di World Superbike.

“Jika itu saya, dan saya sudah memberitahunya, 'Saya pikir kamu harus meninggalkan MotoAmerica, dan jika mereka ingin kamu balapan tanpa hasil, kamu harus balapan tanpa hasil. Dan jika kamu harus membayar sesuatu, mungkin kamu harus berpikir tentang itu karena ini untuk masa depanmu’. Jika Anda sukses, karier Anda dapat lebih baik di luar negeri daripada di MotoAmerica,” tandas Rainey.

Cameron Beaubier and Josh Herrin

Cameron Beaubier and Josh Herrin

Photo by: Ken Weisenberger

Rainey kemudian mencontohkan JD Beach – mungkin paling dikenal audiens Eropa sebagai pemenang Red Bull Rookies Cup pada 2008 – pembalap yang telah proaktif dalam mencoba menciptakan peluang di luar negeri.

“Saya tahu dia berada di Valencia, mencari-cari di Moto2 untuk 2020. Inilah yang dibutuhkan,” cetusnya.

“Anda harus pergi ke sana, maju ke depan tim, Anda harus bersedia mencari cara untuk mendapatkan tes. Dan saya tahu ada banyak tim di Eropa yang akan senang melihat seseorang yang baru di paddock, terutama dari Amerika,” yakin Rainey.

Setelah karier singkat Herrin di Moto2 2014, kategori intermediate tidak memiliki perwakilan Amerika hingga kedatangan Joe Roberts pada pertengahan 2017.

Pembalap berusia 21 tahun dari Los Angeles itu mendapat kesempatan bergabung dengan AGR Team usai menembus lima besar di CEV Moto2. Ia balapan semusim penuh, menggeber motor bersasis NTS, serta hanya meraup lima poin sepanjang musim.

Akan tetapi, Roberts telah mengamankan kelanjutan kiprahnya bersama KTM CGBM Evolution tahun ini, yang seharusnya memberikan pandangan lebih representatif pada apakah ia memiliki potensi bintang sejati.

Walau Rainey tak menyebut nama Roberts secara langsung, ia memperingatkan bahwa tidak kurang dari lima petinggi akan melakukannya jika dia, Beach atau harapan masa depan lainnya dari Amerika memiliki peluang untuk memecah duopoli Spanyol-Italia di MotoGP.

“Dorna benar-benar ingin melihat Amerika menjadi sukses. Mungkin (pembalap) yang tepat belum datang, tapi saya pikir Dorna sedang menunggu saya untuk memberi tahu mereka mana yang menurut kami bisa berada di sana,” ungkapnya.

“Tetapi ketika seorang Amerika (masuk ke Moto2 atau Moto3), lalu tidak bisa finis ke-10, atau ke-15 atau ke-20, maka tidak ada yang akan berpikir mereka cukup baik. Jika Anda finis lima besar, Anda punya kesempatan. Namun kecuali Anda melakukannya, tidak ada yang akan menganggap Anda serius.

“Inilah sebabnya, ketika seorang Amerika datang, dia harus finis di podium, dan jika ini terjadi, maka saya pikir pembalap tertentu akan memiliki kesempatan untuk balapan di MotoGP,” terang Rainey.

Joe Roberts, RW Racing

Joe Roberts, RW Racing

Photo by: Gold and Goose / LAT Images

Menembus MotoGP adalah satu hal, tetapi memiliki kesempatan untuk menang adalah hal lain. Dan paddock grand prix merupakan tempat yang tak kenal ampun terhadap para pembalap yang gagal membuat gebrakan langsung pada level atas, terlepas kewarganegaraan mereka.

Jumlah penonton di Circuit of The Americas (COTA) saat balapan MotoGP tampaknya membuktikan, bahwa fans Amerika tidak peduli negara para pembalap. Mereka hanya ingin menonton aksi yang hebat.

Jadi jika pembalap dengan talenta dan pengalaman jauh lebih penting ketimbang asalnya, mungkin Amerika memerlukan bintang-bintang potensial ke Eropa pada usia pertengahan remaja untuk bersaing di CEV Moto3 atau Rookies Cup, dan sepenuhnya menghindari MotoAmerica.

Itu bukan bencana bagi MotoAmerica. Kejuaraan ini mungkin akan mendapat manfaat lebih dari kesuksesan Amerika di luar negeri yang membangkitkan antusiasme di tingkat domestik, dibanding mengirim bintangnya ke Eropa ketika kebiasaan dan kemampuan untuk kembali belajar memudar, menyebabkan terbatasnya potensi.

 

Secara umum, hari-hari seri Superbike nasional melahirkan pembalap MotoGP masa depan telah berlalu. Sekarang ini berbeda jauh daripada awal 2000-an, saat Hayden, Shane Byrne dan Makoto Tamada semuanya beralih ke MotoGP usai datang dari AMA, British Superbike dan All-Japan Superbike.

Juga harus ditunjukkan, kesuksesan di MotoGP adalah permainan angka. Peluang satu orang Amerika untuk menciptakan tsunami bagi para pembalap Italia dan Spanyol tentu saja sangat kecil. Sehingga perlu ada gelombang pasang dari seluruh Atlantik.

Dan jika tidak ada hal seperti itu, mungkin menunjukkan ketidakpuasan yang meningkat dalam balap motor – setidaknya pada level yang sepenuhnya profesional – di antara remaja dan pemuda Amerika. Dalam hal ini, penggemar motor di Amerika mungkin ditakdirkan selamanya untuk melihat kembali akhir 70-an hingga awal 90-an sebagai era keemasan mereka.

Wayne Rainey, Yamaha, Kevin Schwantz, Suzuki

Wayne Rainey, Yamaha, Kevin Schwantz, Suzuki

Photo by: Gold and Goose / LAT Images

Next article
Kembangkan aerodinamika anyar, Ducati manfaatkan manekin

Artikel sebelumnya

Kembangkan aerodinamika anyar, Ducati manfaatkan manekin

Next article

GALERI: Hari pertama Lorenzo bersama Repsol Honda

GALERI: Hari pertama Lorenzo bersama Repsol Honda
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan MotoGP
Pembalap Wayne Rainey , Cameron Beaubier , JD Beach , Joe Roberts
Penulis Jamie Klein