Kolom Mamola: Rossi salah menilai Zarco

Dalam kolom Motorsport.com terbarunya, legenda 500cc, Randy Mamola membela rookie MotoGP 2017, Johann Zarco, di tengah-tengah kritikan tajam dari Valentino Rossi.

Kedatangan Zarco yang membuat heboh di kelas premier tak lepas dari kritikan atas gaya berkendaranya yang agresif di lintasan, di mana Valentino Rossi sejauh ini menjadi yang paling sering bermasalah dengannya. 

Di satu sisi, pembalap asal Perancis itu tidak beruntung karena mengalami insiden dengan Rossi yang membuat sang juara dunia sembilan kali tersebut harus bereaksi.

Insiden pertama terjadi di Austin, ketika Valentino memotong trek di Tikungan 4 setelah dikejar Zarco yang bersentuhan dengan pembalap pabrikan Yamaha tersebut dengan manuver berani di Tikungan 3. Rossi kemudian menegur sang pembalap baru Tech 3 itu, memperingatkan Zarco bahwa ia bukan lagi membalap di Moto2.

Kemudian di Assen, 'The Doctor' menyelesaikan balapan dengan bekas gesekan ban di wearpack miliknya setelah bersenggolan dengan motor Zarco di Tikungan 3/Tikungan 4 ke kanan.

Setelah insiden itu, Rossi lanjut mengatakan bahwa Zarco tidak paham cara mengukur jarak antara motor dan mengabaikan seberapa banyak ruang yang dibutuhkan motornya, serta terlalu agresif saat menyalip.

Sejumlah pembalap lain seperti rekan setim Rossi, Maverick Vinales, juga mengonfirmasi pandangan tersebut. Walaupun ia tidak sekeras Rossi, Vinales mengerti bahwa Zarco biasanya mengambil banyak risiko di fase awal balapan.

Saya sejujurnya tidak setuju dengan mereka dan saya percaya bahwa para rival Zarco harus membiarkan dirinya seperti itu. Itulah yang ia pantas dapatkan.

Sejauh ini, ia belum pernah membuat pembalap lain tersingkir dari balapan, suatu hal yang tidak semua pembalap bisa katakan musim ini. Ia tidak membuat banyak kesalahan dan tidak menekan melebihi batas di sesi latihan.

Zarco adalah rookie terbaik setelah Marquez

Apa yang kita hadapi sekarang adalah sesuatu yang telah kita lihat sebelumnya, dan contoh terbaru mungkin adalah Marc Marquez.

Saat Marquez melakukan debutnya di MotoGP tahun 2013, banyak orang mengeluh tentang gayanya yang agresif, bahkan ada yang menyebut dirinya tak kenal rasa takut. Tapi setelah itu semua, ia menjadi juara dunia pada tahun pertamanya di MotoGP.

Sekarang semua orang mengerti bahwa gaya berkendaranya selalu berada pada batas maksimal, tapi ia hampir tidak pernah melampauinya. Steward adalah satu-satunya yang bisa menilai hal-hal seperti itu secara objektif.

Apa yang membuat Zarco menjadi magnet untuk kritik adalah karena ia sering bertarung untuk posisi-posisi terdepan, tapi Rossi dan yang pembalap-pembalap top lainnya harus terbiasa dengan situasi ini. Tentu Zarco tidak akan mendapatkan perhatian seperti sekarang jika ia bertarung untuk posisi ke-10.

Di belakang grid lebih jauh, banyak hal terjadi dan terkadang kita bahkan tidak memperhatikan mereka. Misalnya, kita bisa berbicara tentang Danilo Petrucci yang mendapatkan reputasi sebagai penghancur balapan orang lain tahun lalu - termasuk rekan setimnya sendiri, Scott Redding, di Aragon.

Sementara Petrucci musim ini sudah bisa memulai balapan dari posisi grid yang lebih baik, tidak ada pembalap papan atas lain yang bisa benar-benar memprediksi bagaimana pembalap Pramac Ducati tersebut akan beraksi saat ia bertarung untuk posisi-posisi terdepan.

Mengenai Zarco, mereka harus terbiasa dengan itu. Pembalap kelahiran Nice tersebut sudah dua kali menjadi juara dunia Moto2 jadi ia tahu apa yang ia lakukan meski motornya sekarang sangat berbeda dengan apa yang ia kendarai sebelumnya.

Saya bahkan ingin mengatakan bahwa adaptasinya ke MotoGP sudah lebih baik dan natural daripada beberapa rivalnya, yang tidak pernah mengira Zarco mampu menghasilkan performa-performa yang brilian.

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan MotoGP
Pembalap Valentino Rossi , Johann Zarco
Tim Yamaha Factory Racing , Tech 3
Tipe artikel Special feature