Jorge Lorenzo Nilai Joan Mir Lebih Pas ke Ducati

Jorge Lorenzo belum lama ini mengungkapkan soal MotoGP 2022 dan ke tim mana Joan Mir lebih pantas jika meninggalkan Suzuki.

Jorge Lorenzo Nilai Joan Mir Lebih Pas ke Ducati

Kejuaraan Dunia MotoGP 2022 akan dimulai dengan GP Qatar pada 6 Maret mendatang. Namun, fokus bukan hanya pada persaingan perebutan gelar tetapi juga masa depan pembalap setelah musim 2022 berakhir.

Banyak sekali pembalap top yang akan habis kontrak pada akhir MotoGP 2022 mendatang. Melihat isi kontrak saat ini, hanya Franco Morbidelli (Yamaha) dan Marc Marquez (Honda) yang sudah mengamankan posisi di tim pabrikan.

Salah satu pembalap top yang paling disorot adalah Joan Mir. Juara dunia MotoGP 2020 tersebut cenderung tidak mau berkomentar banyak saat disinggung soal masa depan di timnya, Suzuki Ecstar. Lihat saja komentarnya pada Desember lalu.

“Kami ingin melihat dulu apa yang terjadi di pasar. Saya percaya Suzuki tetapi tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Jika Suzuki dan saya memiliki target dan tujuan sama, saya akan bertahan,” tutur peringkat ketiga MotoGP 2021 lalu tersebut.

Beberapa hari lalu, manajer pembalap Carlo Pernat menyebut bila Joan Mir berpeluang besar pindah ke Repsol Honda mendampingi Marc Marquez.

Jorge Lorenzo

Jorge Lorenzo

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Kendati begitu, masih harus dilihat seperti apa performa Pol Espargaro sepanjang MotoGP 2022 nanti. Seperti diketahui, musim perdana Espargaro bersama Repsol Honda pada 2021 lalu tidak mulus. Ia hanya sekali finis podium (kedua) di MotoGP Emilia Romagna di Misano, San Marino.

Di mata Jorge Lorenzo, menyandingkan Mir dengan Marquez – juara dunia delapan kali (125cc 2010, Moto2 2012, MotoGP 2013, 2014, 2016, 2017, 2018, 2019) – bukan sebuah langkah maju bagi Mir.

“Saya kira, hanya dengan pindah ke Ducati, Mir bisa membuat kemajuan signifikan,” tutur juara dunia MotoGP tiga kali (2010, 2012, 2015) tersebut, seperti dikutip Speedweek.com.

“Sebagai orang luar, saya melihat Suzuki dan Yamaha berada di level yang sama. KTM tidak terlalu buruk sementara Honda dan Aprilia memiliki masalah kompleks, meskipun mereka juga mampu bertarung untuk posisi atas.”

Analisis pemenang 47 Grand Prix, 114 podium, 43 pole position, dan 30 fastest lap dalam 203 balapan MotoGP antara 2008 sampai 2019 itu jelas patut dicermati.

Apalagi, ia juga pernah memperkuat tim pabrikan Ducati (2017, 2018) dan Honda (2019) kendati merebut semua gelar MotoGP-nya bersama Yamaha. 

Baca Juga:

“Ducati sangat cepat, siapa pun pembalapnya. Dan itu semua bukan sebuah kebetulan,” ujar Lorenzo yang tiga kali memenangi Grand Prix MotoGP bersama Ducati (semua pada 2018).

Pada MotoGP 2021 lalu, Ducati berhasil memenangi tujuh dari total 18 balapan. Duo tim pabrikan Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia dan Jack Miller, masing-masing mengantongi empat dan dua kemenangan.

Pembalap rookie dari Pramac Racing, Jorge Martin, juga mampu naik podium utama di MotoGP Styria. Rekan setim Martin, Johann Zarco, memang tidak berhasil menang tetapi empat kali finis di podium (semua kedua).

Bahkan, pembalap rookie lainnya, Enea Bastianini (Esponsorama Racing), juga berhasil dua kali naik podium (semua ketiga) kendati turun dengan Ducari Desmoseidici GP19 yang notabene dua tahun lebih tua dibanding yang dipakai para pembalap tim Ducati dan Pramac.

Meskipun demikian, Lorenzo pun tahu Ducati masih memiliki sejumlah problem teknis. Salah satunya adalah kecepatan yang masih kurang di tikungan. Namun, hingga saat ini trek lurus masih menjadi senjata utama Ducati dan belum ada yang mampu mengimbangi kecepatan mereka di area itu.

dibagikan
komentar
Tim-tim Satelit Kini Bisa Bermimpi Jadi Juara Dunia MotoGP
Artikel sebelumnya

Tim-tim Satelit Kini Bisa Bermimpi Jadi Juara Dunia MotoGP

Artikel berikutnya

Yamaha soal Mengapa Cuma Fabio Quartararo yang Bisa Diandalkan

Yamaha soal Mengapa Cuma Fabio Quartararo yang Bisa Diandalkan
Muat komentar