Mantan Bintang Kelas Premier Bicara Kehebatan Motor 500cc

Sejumlah bintang kelas premier Kejuaraan Dunia Balap Motor mengungkapkan mengapa motor 500cc 2-tak begitu istimewa.

Mantan Bintang Kelas Premier Bicara Kehebatan Motor 500cc

Kategori tertinggi di Kejuaraan Dunia Balap Motor memang sudah lama berganti dari 500cc ke MotoGP. Sejak 2002, motor 500cc 2-tak resmi diggantikan mesin 990cc 4-tak. Kendati, pada musim perdana MotoGP itu masih ada beberapa pembalap yang memakainya.

Namun, kendati hampir 20 tahun tidak lagi dipakai, motor-motor 500cc 2-tak masih tetap menarik bagi penggemar dan juga pembalap.

“Saya beruntung mampu menjuarai kelas 500cc terakhir (2001) dan gelar MotoGP perdana (2002). Ini menjadi salah satu catatan emas dalam karier saya,” ucap Valentino Rossi (Petronas Yamaha SRT), yang masih turun, seperti dikutip motogp.com.

Juara dunia sembilan kali – 125cc 1997, 250cc 1999, 500cc 2001, MotoGP 2002-2005, 2008, 2009 – itu pun mengungkapkan perbedaan terbesar kelas utama dulu dengan kini adalah karakter mesin 2-tak dan 4-tak, serta sistem elektronik.

Valentino Rossi, di atas Honda NSR500 saat turun di kelas 500cc GP Spanyol 2001.

Valentino Rossi, di atas Honda NSR500 saat turun di kelas 500cc GP Spanyol 2001.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

“Sekarang, motor MotoGP memiliki segudang peranti elektronik yang sangat memudahkan Anda saat membuka gas. Sementara motor 500cc dulu tidak memiliki sistem elektronik. Jadi, Anda bisa mengontrol motor lebih banyak,” kata pembalap asal Italia, 42 tahun, itu.

Rossi pun masih mengingat benar pengalaman pertamanya turun dengan motor 500cc 2-tak dalam tes di Jerez, Spanyol, pada 1999. Saat itu, Rossi siap turun perdana di kelas 500cc pada 2000 dengan membela tim privat, Nastro Azzurro Honda, tanpa rekan tim.

“Saat kali pertama mengendarai motor itu di Jerez, rasanya sungguh impresif. Putaran mesinnya sangat tinggi sedangkan kecepatan dan akselerasinya luar biasa. Motor yang fantastis,” kata Rossi mengenang saat kali pertama menggeber Honda NSR500.

Loris Capirossi di atas Honda NSR500 milik Tim Emerson Honda Pons, berada di depan Valentino Rossi pada lomba kelas 500cc GP Italia 2000.

Loris Capirossi di atas Honda NSR500 milik Tim Emerson Honda Pons, berada di depan Valentino Rossi pada lomba kelas 500cc GP Italia 2000.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Juara dunia kelas 500cc 1999, Alex Criville, juga masih ingat betul seperti apa karakter motor 500cc 2-tak. Criville, juara dunia kelas utama pertama asal Spanyol, merebut gelarnya bersama Tim Repsol Honda di atas Honda NSR500.

“Saya masih mengingatnya dengan baik hingga kini. Top speed saat itu bisa mencapai sekira 320 km/jam, luar biasa,” kata Criville motor yang mengusung mesin 499cc V4 6-percepatan berpendingin cairan dengan power mencapai 185 hp pada 12.000 rpm itu.    

“Saat Anda mulai membuka gas, tenaganya dua kali lipat motor-motor kelas 250cc (kini Moto2) yang juga 2-tak. Tidak mudah untuk mengontrolnya.”

Mantan rekan setim Criville, Mick Doohan, menyebut motor-motor 500cc 2-tak sebagai “hewan buas nan cantik”.

Mick Doohan saat turun di kelas 500cc GP Malaysia.

Mick Doohan saat turun di kelas 500cc GP Malaysia.

“Anda cukup mengendarainya pada 3.000 atau 4.000 rpm saja, Jika lebih dari itu, sebenarnya sudah termasuk berbahaya. Anda pasti sering melihat pembalap terpelanting ke udara karena saat itu tidak ada kontrol traksi,” kata juara dunia 500cc 1994-1998 itu.

Loris Capirossi, yang kini menjadi Safety Advisor (konsultan keselamatan balap) Dorna Sports – promotor MotoGP dan World Superbike (WSBK) – juga memiliki kesan tersendiri soal motor-motor 500cc 2-tak.

“Saya terbilang sering mengalami highside (kecelakaan akibat ban belakang kehilangan traksi yang mengakibatkan pembalap terpelanting melewati atas setang). Jika membuat kesalahan kecil saja dengan motor 500cc, Anda bisa terbang ke sampai ke bulan,” katanya.

Perbandingan antara bobot motor yang enteng dengan tenaga besar yang dihasilkan mesin 500cc 2-tak menjadi salah satu faktor mengapa motor-motor tersebut bisa sangat kencang. Pengaruh dari power to weight yang besar itu diungkapkan Simon Crafar.

“Motor 500cc benar-benar ringan sehingga sangat sulit merasakan sampai di mana limitnya. Selain itu, powernya di range putaran mesin rendah, begitu brutal,” ucap pria yang kini menjadi reporter Dorna Sports itu.

“Di atas motor 500cc, Anda benar-benar memiliki segalanya di tangan. Apa yang Anda kerjakan di sana semua bisa terjadi. Jadi, butuh kemampuan dan tanggung jawab besar untuk mengendalikan motor seperti itu,” kata pemenang satu GP 500 tersebut.

Max Biaggi di atas Yamaha YZR500 pada kualifikasi kelas 500cc GP Portugal 2001.

Max Biaggi di atas Yamaha YZR500 pada kualifikasi kelas 500cc GP Portugal 2001.

Foto oleh: Marlboro Yamaha Team

Carlos Checa juga memiliki pengalaman menarik turun dengan motor 500cc 2-tak. Ia mengaku harus sangat berhati-hati saat membuka gas, terutama saat trek dalam kondisi basah.

“Itu saya lakukan selain dalam cuaca buruk juga jika grip tidak bagus atau di beberapa lap awal, saat suhu ban belum ideal,” kata mantan pembalap asal Spanyol itu.

Sedangkan juara dunia kelas 250cc empat kali (1994, 1995, 1996, 1997), Max Biaggi, menggarisbawahi faktor feeling sangat krusial dalam menjinakkan keliaran dan besarnya motor 500cc 2-tak.

Sepanjang kariernya turun di kelas 500cc antara 1998 sampai 2001 (untuk kemudian ke MotoGP), Biaggi pernah menggeber Honda NSR500 dan Yamaha YZR500, dua motor yang diyakini sebagai yang terbaik di era 500cc 2-tak.

“Anda harus membuka gas cukup besar saat menikung dengan sudut kemiringan maksimal. Atau, saat kondisi grip tidak ideal. Sekali mendapatkan feeling tersebut, Anda akan kuat di atas motor 500cc di berbagai jenis sirkuit dan beragam kondisi,” ucap Biaggi.

Baca Juga:

 

dibagikan
komentar
Usai Insiden Hugo Millan, Keselamatan Balap Dipertanyakan Lagi

Artikel sebelumnya

Usai Insiden Hugo Millan, Keselamatan Balap Dipertanyakan Lagi

Artikel berikutnya

Petronas SRT Bertekad Bangkit di Paruh Kedua MotoGP 2021

Petronas SRT Bertekad Bangkit di Paruh Kedua MotoGP 2021
Muat komentar