Miller: MotoGP Pekerjaan yang Melelahkan

Berkecimpung di MotoGP sangat melelahkan bagi pembalap muda yang tidak melewati jenjang normal seperti Jack Miller.

Miller: MotoGP Pekerjaan yang Melelahkan

Di antara rider MotoGP yang ada di grid beberapa tahun terakhir, pembalap Ducati itu yang melewati jalur promosi tak biasa. Selepas menggondol runner-up Moto3, ia langsung meloncat ke kelas premier, pada musim 2014-2015,  tanpa mencicipi Moto2.

Di satu sisi, jalur ekspress tampak mengagumkan. Tapi di sisi lain, ia jatuh bangun menyesuaikan diri bersama LCR Honda, di level premier karena usianya terlalu muda dan minim pengalaman.

Setelah lima tahun, baru Miller bisa meraih hasil konsisten. Dari tim satelit Pramac Racing, rival utama Alex Marquez  direkrut Ducati. Di usia 26 tahun, pembalap tersebut melakoni 106 laga pada level atas.

Saat ditanya tentang tantangan melewati Moto2, Miller menjawab, “Ada banyak. Saya kira hal terbesar adalah karena saya masih terlalu muda. Saya harus mengerti bagaimana serius semuanya dibanding kelas lebih rendah.”

Jack Miller, Ducati Team

Jack Miller, Ducati Team

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

“Anda dapat mengkompensasi banyak hal pada motor lebih kecil. MotoGP adalah pekerjaan yang melelahkan. Anda harus memberi segala yang Anda miliki agar bisa melakukannya. Saya harus mengerti seberapa banyak upaya yang harus saya lakukan untuk latihan dan memperbaiki nutrisi.

“Tidak boleh banyak bir lagi, lebih sedikit steak. Saya harus melakukan semuanya dengan serius. Semua kehidupan berputar di sekitar motor.”

Miller merupakan jebolan Red Bull KTM Ajo. Talentanya mengesankan Wakil Presiden HRC, Shuhei Nakamoto dan Prinsipal Honda, Livio Suppo, sehingga nekat melakukan manuver berisiko.

“Kala itu tidak ada talenta Moto2 yang membuat kami antusias,” Suppo mengungkapkan kepada GPOne.com.

“Kami mendapat kesan bahwa Jack punya gaya balap yang cocok dengan MotoGP. Dia tidak berpikir dua kali tentang itu. Dia dan manajernya Aki Ajo sangat gembira dengan tawaran itu. Jack sangat muda. Jika Honda menawari Anda kontrak tiga tahun, maka ini adalah kesempatan bagus.”

Baca Juga:

Dalam tim LCR, Miller menghadapi kenyataan keras, di antaranya cedera dan jatuh. Suppo menegaskan tahapan itu harus dilewati. Dia harus belajar cepat dan bekerja keras.

“Pada awalnya, dia tidak cukup latihan, dia terlalu bergantung pada bakatnya. Mungkin dia tersesat kalau cepat dengan talenta di Moto2 dan tidak berbuat banyak untuk memperbaiki itu,” ucap Suppo.

Nakatomo pensiun pada 2016 dan Suppo juga berpisah dengan Honda pada tahun berikutnya. Tanpa dua sponsornya, kontrak Miller tidak diperpanjang. Ia pun ditampung Pramac Racing yang berhasil menempanya jadi pembalap matang.

Desmosedici GP cocok dengan karakternya sehingga prestasinya lebih terangkat dan merambah ke podium. Sepanjang 2019-2020, ia berada di podium sembilan kali. Musim ini, sudah menang dua edisi.

“Anda dapat melihat talentanya. Dia berkembang dengan baik bertahun-tahun. Pedro Acosta, contohnya, tentu seorang fenomena, tapi untuk menjadi juara, Anda harus berkembang. Banyak pembalap kehilangan rangkaian. Itu hampir terjadi pada Jack juga, tapi dia berhasil. Anda dapat melihat selama beberapa tahun terakhir bahwa dia berhasil ke puncak,” katanya.

dibagikan
komentar
Dovizioso: Rossi Tahu Kapan Harus Berhenti

Artikel sebelumnya

Dovizioso: Rossi Tahu Kapan Harus Berhenti

Artikel berikutnya

Morbidelli: Ada Badai Jelang Tibanya VR46 di MotoGP

Morbidelli: Ada Badai Jelang Tibanya VR46 di MotoGP
Muat komentar