Orang-orang Penting di Balik Sukses Fabio Quartararo

Fabio Quartararo berhasil memastikan gelar juara dunia MotoGP 2021 saat seri masih menyisakan dua balapan. Lantas, siapa saja sosok penting di balik suksesnya?

Orang-orang Penting di Balik Sukses Fabio Quartararo

Fabio Quartararo (Monster Energy Yamaha MotoGP) mulai mengenal sepeda motor pada usia empat atau lima tahun, tepatnya ketika sang ayah, Etienne, membawanya ke Sirkuit Oceane di Antibes dengan Yamaha 50 PW.

Quartararo kecil saat itu terjauh hingga tiga kali saat tiga kali mengitari trek yang kini menjadi pusat perbelanjaan di sebelah barat Nice, Prancis, kota kelahiran Quartararo.

Kecintaan Quartararo terhadap balap motor semakin menjadi saat menyaksikan Valentino Rossi mengambil Sete Gibernau di tikungan terakhir lap penutup lomba MotoGP di Sirkuit Jerez, Spanyol, pada 2005. Saat itulah Quartararo menjadikan Rossi sebagai idolanya. 

Di Prancis, balap motor dilarang untuk anak-anak di bawah usia 14 tahun. Karena itulah saat berusia 8 tahun, Quartararo terpaksa turun balap di Promovelocidad Cup buatan Real Automovil Club de Cataluna (RACC).

Baca Juga:

Di ajang itulah Quartararo berhasil memenangi gelar-gelar di seri kelas 50cc pada 2008, 70cc pada 2009, dan 80cc pada 2011. Sebelum turun di seri Moto3 Spanyol, Quartararo turun di kelas Pre-Moto3 Mediterania pada 2012.

Keluarga Quartararo, terutama sang ayah rela mengantar putranya sejauh 500 km dari selatan Prancis ke timur laut Spanyol dengan minibus Renault Trafic.

Ambisi Etienne menjadikan putranya pembalap kelas dunia akhirnya terwujud. Namun, siapa saja selain dirinya yang berperan penting atau ikut memengaruhi Fabio Quartararo? Berikut beberapa di antaranya coba dirangkum Motorsport.com Indonesia.

Etienne Quartararo  

Sahabat dan ayah Fabio Quartararo, Thomas Maubant dan Etienne Quartararo, berperan besar dalam keberhasilan pembalap asal Prancis itu merebut gelar juara dunia MotoGP 2021.

Sahabat dan ayah Fabio Quartararo, Thomas Maubant dan Etienne Quartararo, berperan besar dalam keberhasilan pembalap asal Prancis itu merebut gelar juara dunia MotoGP 2021.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Etienne adalah juara nasional Prancis di kelas 125cc 1983 yang ingin menjadi pembala profesional. Tetapi, karena tidak ada sponsor dan minim bujet, ia memutuskan untuk kembali menjadi ahli kunci.

Memiliki dua putra, Etienne sejatinya ingin anak sulungnya, Anthony, mengikuti jejaknya. Namun, Anthony yang 11 tahun lebih tua daripada Fabio, lebih menyukai sepak bola.

Peran Etienne sendiri berubah setelah Quartararo mulai matang di balap motor dunia. Kendati tidak menjadi manajernya, Etienne terbilang ikut campur tangan terlalu jauh dalam karier Quartararo.

Puncaknya adalah putusnya hubungan antara Quartararo dengan manajer pertamanya, Eduardo Martin, pada 2016.     

Eduardo Martin

Mungkin tidak banyak yang mendengar nama Eduardo Martin. Pada 2011, pengusaha dari Alfas del Pi, Valencia, Spanyol, itu menginvestasikan anggaran yang tidak sedikit – konon, nilainya tujuh digit dan lebih dari 1 juta euro – untuk mendukung karier Quartararo.   

Martin tidak hanya mengucurkan uang tetapi juga menjadi manajer Quartararo. Berkat bantuannya, Quartararo berhasil menjuarai FIM CEV Moto3 pada 2013 dalam usia 14 tahun dan 218 hari, melewati rekor Aleix Espargaro.

Mengacu prestasinya itulah, Martin berhasil meyakinkan kedua orangtua Quartararo agar putranya lebih baik tinggal bersamanya di Altea. Di sinilah Quartararo menyelesaikan sekolah menengahnya sekaligus memperdalam bahasa Spanyol.

Hubungan Martin dengan Quartararo berakhir di Mugello, Italia, pada 2016. Saat itu, mulai banyak masukan untuk Quartararo yang kadang tidak masuk akal. Misalnya, Quartararo bisa memakai bayangan dari sinar matahari untuk pengereman karena matahari tidak bergerak.

Setelah beradu argumen dengan Etienne dan Quartararo sepaham dengan Martin. Satu hari, Etienne menghubungi Martin dan memintanya untuk tidak lagi mendampingi Quartararo di sirkuit. Martin sendiri memilih mengalah meskipun bisa menuntut balik lewat pengadilan.

Thomas Maubant

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing merayakan keberhasilan merebut gelar juara dunia MotoGP 2021 bersama sahabat sekaligus asistennya, Thomas Maubant (kanan).

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing merayakan keberhasilan merebut gelar juara dunia MotoGP 2021 bersama sahabat sekaligus asistennya, Thomas Maubant (kanan).

Foto oleh: MotoGP

Jika Valentino Rossi memiliki Alessio “Uccio” Salucci sebagai sahabat, maka Quartararo mempunyai Thomas Maubant. Pria asal Antibes, Prancis, itu tidak hanya menjadi sahabat tetapi juga penasihat, koordinator suporter, dan asisten Quartararo sekaligus.

Maubant sendiri awalnya bekerja sebagai pengelola kegiatan olahraga air di pantai Saint-Laurent-du-Var.

Perkenalan mereka diawali saat Fabio Quartararo mulai sering mengunjungi pantai tempat Maubant bekerja. Saat itu, Quartararo berusia 15 tahun dan baru menjalani musim perdananya di Moto3.

“Kami memiliki banyak kesamaan. Karena ia lebih matang ketimbang usianya, saya pun mulai simpati,” ucap Maubant yang enam tahun lebih tua daripada Quartararo.

Saat Quartararo mulai memperkuat tim Leopard Racing di Moto3, Maubant yang sebenarnya lebih menyukai sepak bola, untuk kali pertama menyaksikan GP Qatar pada 2016.

Ketika itu, Quartararo menjalani musim yang sulit. Di pertengahan musim ia berganti manajer (berpisah dengan Eduardo Martin) dan harus meninggalkan Spanyol untuk kembali ke Prancis bersama orangtuanya.

“Saat itu kami bertukar pikiran dan Quartararo meminta saya mendampinginya pada tiga balapan terakhir musim tersebut, yakni Jepang, Malaysia, dan Valencia,” kata Maubant.

Eric Mahe

Eric Mahe, Fabio Quartararo saat masih memperkuat Petronas Yamaha SRT di MotoGP tahun lalu.

Eric Mahe, Fabio Quartararo saat masih memperkuat Petronas Yamaha SRT di MotoGP tahun lalu.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Eric Mahe mulai menjadi manajer Quartararo pada 2017, tepatnya saat ia turun di Moto2 memperkuat Tim Pons. Sejak Mahe bergabung itu, pembagian kerja di tim Quartararo semakin jelas.

Salah satu tugas Maubant adalah bertukar informasi dengan tim balap yang dibela Quartararo untuk membuat press release setiap pekannya. Setelah itu, sejak 2018, proporsi tugas Mahe dan Maubant semakin jelas.

Pengalaman Mahe yang pernah menangani Randy de Puniet dan Jules Cluzel, jelas sangat berguna bagi Quartararo. Kedekatan Mahe dengan keluarga Quartararo juga sangat mendukung kinerja sang manajer yang juga mantan pembalap Superbike itu.

dibagikan
komentar
Valentino Rossi Ungkap Penyebab Kegagalan Raih Gelar Ke-10
Artikel sebelumnya

Valentino Rossi Ungkap Penyebab Kegagalan Raih Gelar Ke-10

Artikel berikutnya

Juara Dunia MotoGP, Fabio Quartararo Takkan Pakai Nomor #1

Juara Dunia MotoGP, Fabio Quartararo Takkan Pakai Nomor #1
Muat komentar