Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia

Para Pembalap Penguasa Satu Sirkuit MotoGP

Marc Marquez tercatat 11 kali memenangi lomba Kejuaraan Dunia Balap Motor di Sirkuit Sachsenring, Jerman, di berbagai kelas. Tetapi, bukan hanya dirinya yang mampu melakukannya.

Marc Marquez, Repsol Honda Team

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Grand Prix Jerman tahun ini agak berbeda dengan absennya Marc Marquez. Maklum, juara dunia balap motor delapan kali (125cc 2010, Moto2 2012, MotoGP 2013, 2014, 2016-2019) tersebut adalah penguasa Sirkuit Sachsenring, 11 kali dari berbagai kelas.

Praktis, siapa pun yang memenangi lomba MotoGP di Sachsenring pada Minggu (19/6/2022) nanti, rasanya tetap kurang afdol karena ia tidak berhadapan langsung dengan sang penguasa, yang absen karena pemulihan setelah operasi tangan.

Publik mungkin banyak yang mengira Marquez menjadi pembalap dengan kemenangan terbanyak di sebuah sirkuit. Faktanya, paling empat mantan pembalap top lain juga memiliki “sirkuit kekuasaan”.

Valentino Rossi – Assen: 10 Kemenangan

Valentino Rossi (kiri), Yamaha Factory Racing, melakukan selebrasi usai memenangi MotoGP Belanda 2004.

Valentino Rossi (kiri), Yamaha Factory Racing, melakukan selebrasi usai memenangi MotoGP Belanda 2004.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Selain Katedral Motorsport, Sirkuit Assen juga dikenal sebagai “universitas sepeda motor” karena tradisi kuat serta karakternya. Trek legendaris di Belanda ini menjadi yang paling banyak menggelar Grand Prix di antara sirkuit lain.

Sejak Kejuaraan Dunia Balap Motor perdana digelar pada 1949, baru pada 2020 (karena pandemi Covid-19) Assen tidak menggelar lomba Grand Prix.

Banyak pembalap menorehkan hasil impresif di Assen sehingga melegenda. Sebut saja Mike Hailwood yang memenangi balapan di tiga kategori berbeda pada hari yang sama.

Namun, rekor kemenangan terbanyak kategori tertinggi Kejuaraan Dunia Balap Motor (MotoGP/500cc) di Assen dipegang Valentino Rossi, delapan kali. Total, 10 kali Rossi memenangi lomba di Assen dari berbagai kelas.

Kemenangan pertamanya di Assen dibuat pada 1997, tahun keduanya di Kejuaraan Dunia Balap Motor, tepatnya di kelas 125cc (kini Moto3). Setahun berikutnya, Rossi menguasai kelas 250cc (kini Moto2) di Assen.

Delapan kemenangan Rossi di Assen berikutnya memang tidak berurutan. Setelah 2002 dan 2004, The Doctor selalu memenangi lomba kelas utama di tahun ganjil, yakni 2005, 2007, 2009, 2013, 2015, dan 2017.

Nama-nama seperti Sete Gibernau (2003), Nicky Hayden (2006), Casey Stoner (2008, 2012), Jorge Lorenzo (2010), hingga Ben Spies (2011), berhasil menggagalkan Rossi mencetak kemenangan beruntun di Assen.

Assen is heaven,” demikian ungkap Valentino Rossi tahun 2021, musim terakhirnya di Kejuaraan Dunia Balap Motor. Sebagai penghargaan, Kota Assen pun memberi juara dunia balap motor sembilan kali itu (125cc 1997, 250cc 1999, 500cc 2001, MotoGP 2002-2005, 2008, 2009) warga kehormatan.

Giacomo AgostiniSachsenring Lama: 10 Kemenangan

Giacomo Agostini, MV Agusta, saat turun di kelas 500cc GP Jerman Timur 1972 di Sirkuit Sachsenring.

Giacomo Agostini, MV Agusta, saat turun di kelas 500cc GP Jerman Timur 1972 di Sirkuit Sachsenring.

Foto oleh: Uncredited

Torehan impresif Giacomo Agostini di Sachsenring tidak dibuat di trek yang sama dengan Marc Marquez, meskipun nama Grand Prix tetap sama, Jerman.

Ago, sapaan Agostini, merajai Sachsenring saat trek tersebut masih terbuat dari jalan-jalan raya yang melintasi desa Hohenstein-Ernsttal yang saat itu masuk wilayah Jerman Timur. Panjang Sachsenring “original” ini mencapai 8,618 km.

Di lokasi tersebut, Anda akan menemukan bangunan berwarna krem dengan mural yang jelas: MV Agusta dengan nomor #1 di sadel, pengendaranya memakai helm seperti mangkuk pengendaranya dengan helm mangkuk: Lalu. Rumah itu berdiri di sebelah kiri Tikungan Badbergkurve yang terkenal itu.

Jika mereka melukis Ago di dinding, itu karena di sanalah mantan pembalap asal Italia itu membuktikan dirinya bertarung seperti seekor naga yang mengamuk.

Pada tahun 1960, Ago memenangi kelas 350cc. Lalu pada 1967, ia menguasai kelas 500cc. Lantas, pada 14 Juli 1968, 13 Juli 1969, 12 Juli 1970, dan 10 Juli 1971, di masing-masing dari empat hari itu, Agostini memenangi dua kelas: 350cc dan 500cc.

GP Jerman Timur di Sachsenring “original” berlangsung antara 1962 sampai 1971. Setelah itu, Ago masih mampu tiga kali menang di Jerman (pada 1972, 1975, 1979 semua di 500cc) namun di trek Sachsenring layout modern yang dipakai saat ini.

Giacomo Agostini TT Isle of Man: 10 Kemenangan

Antara 1949 dan 1976, trek sangat menantang nan berbahaya, Isle of Man TT Mountain Course atau TT Course menjadi bagian dari Kejuaraan Dunia Balap Motor. Namun, hanya sedikit pembalap Grad Prix yang mampu memenanginya.

Giacomo Agostini merebut kemenangan pertamanya di sana di kelas 350cc pada 1966. Tahun berikutnya, Ago turun di kelas 500cc dan memimpin hingga beberapa kilometer menjelang finis, saat rantai MV Agusta geberannya putus.

“Mike Hailwood saat itu datang dan berkata: ‘Hari ini Anda pemenangnya’,” ucap Agostini sepeti dikutip La Gazzetta dello Sport saat perayaan ulang tahunnya yang ke-80, beberapa hari lalu.

Ago kemudian memenangi balapan kelas 350cc dan 500cc empat kali di TT Course pada 1968, 1969, 1970, dan 1972. Pada 1971, ia memenangi lomba kelas 350cc. Tahun ini, Agostini ikut merayakan dirinya sebagai salah satu legenda Island of Man.

Marc Marquez – Sachsenring Modern: 11 Kemenangan

Marc Marquez, Repsol Honda Team berselebrasi setelah memenangi MotoGP Jerman 2021 di Sirkuit Sachsenring.

Marc Marquez, Repsol Honda Team berselebrasi setelah memenangi MotoGP Jerman 2021 di Sirkuit Sachsenring.

Foto oleh: Dorna

Dalam tiga tahun terakhirnya di kelas kecil, satu di 125cc dan dua di Moto2 antara 2010 sampai 2012, Marc Marquez selalu merebut pole dan menyempurnakan lomba di Sachsenring layout modern – dipakai untuk Grand Prix sejak 1998 hingga kini – dengan kemenangan.

Setelah itu, dari 2013 sampai 2019, dalam tujuh edisi MotoGP Jerman di trek wilayah Saxony tersebut. Lalu, datang musim 2020. Marquez tidak hanya absen panjang setelah terjatuh di Jerez, Spanyol. Covid-19 pun memaksa Sachsenring batal menggelar GP.

Pada 2021, Marquez sangat tidak meyakinkan. Ia terlihat bukan seperti The Baby Alien saat sebelum cedera. Saat itu, ia datang ke Sachsenring dengan hasil finis satu P7, sebuah P9, dan tiga kali tidak mampu menyelesaikan balapan secara beruntun.

Pada sesi Sabtu GP Jerman 2021, untuk kali pertama daam 12 tahun, Marquez tak berhasil merebut pole. Ia hanya mampu merebut posisi grid start kelima sementara pole direbut Johann Zarco (Pramac Racing).

Saat itu, publik berpikir magis Marquez di Sachsenring sudah habis. Namun, fakta berbicara lain. Marquez kembali tidak terbendung di Sachsenring. GP Jerman 2021 menjadi kemenangan pertamanya setelah terakhir melakukannya 581 hari sebelumnya.

Yang membedakan Marc Marquez dengan pembalap lain yang berkali-kali menang di sirkuit yang sama adalah, ia melakukannya di Sachsenring dalam GP Jerman 11 edisi beruntun.

Marquez selalu mengungkapkan alasan yang sama saat ditanya mengapa ia begitu dominan di sirkuit yang memiliki arah balapan berlawanan jarum jam dan dipenuhi tikungan ke kiri tersebut.

“Saya selalu berhasil menemukan performa yang lebih baik setiap berlomba di Sachsenring,” ucap The King of The Ring tersebut.

Mike Hailwood TT Isle of Man: 12 Kemenangan

Mike Hailwood, Norton, saat berlomba di kelas 500cc GP Belanda 1961 di Sirkuit TT Assen.

Mike Hailwood, Norton, saat berlomba di kelas 500cc GP Belanda 1961 di Sirkuit TT Assen.

Foto oleh: Nationaal Archief

Jika banyak yang memanggilnya Mike The Bike, itu jelas karena sembilan gelar juara dunia dan 76 kemenangan Grand Prix yang direbutnya. Tetapi, julukan itujuga pantas diberikan buat Hailwood karena kehebatannya menguasai sirkuit pegunungan TT Isle of Man.

Hailwood tercatat 12 kali memenangi lomba di TT Isle of Man di empat kategori berbeda di sirkuit yang telah merenggut 265 nyawa sejak tahun 1911, yang lima di antaranya terjadi tahun ini.

Hailwood kali pertama mencoba turun di TT Isle of Man pada 1960 di kelas 125cc dan finis P3. Setahun kemudian, 1961, Hailwood turun di tiga kelas sekaligus: 125cc, 250cc, dan 500cc, dan berhasil memenangi semuanya.

Pada TT Isle of Man 1962, Hailwood hanya memenangi kelas 350cc di Isle of Man. Pada 1963, ia juga hanya menguasai kelas 500cc yang berlanjut pada 1964 dan 1965. Pada 1966, Hailwood memenangi kelas 250cc dan 500cc.

Pada tahun terakhirnya turun di TT Isle of Man, Hailwood memenangi kelas 250cc, 350cc, dan 500cc.

Giacomo Agostini – Assen: 14 Kemenangan

Agostini menyebut menyukai Assen karena gelar lomba yang memakai Tourist Trophy (TT), sama seperti Isle of Man. “Assen sirkuit tidak saja indah tetapi lebih aman (dibanding Isle of Man). Assen trek yang sangat cepat dan sangat teknis,” ujar Agostini.

Saat Agostini aktif, panjang lintasan Assen sekira 8 km. Ia berhasil memenangi 14 balapan di Assen antara tahun 1968 sampai 1976, di kelas 350cc dan 500cc.

Pada 1968, 1969, 1970, 1971, 1972, dan 1974, Agostini berhasil memenangi dua kelas sekaligus, 350cc dan 500cc. Sementara, pada 1973 dan 1976, ia hanya menguasai kelas 350cc di Assen.

Giacomo Agostini

Giacomo Agostini

Foto oleh: Matteo Nugnes

Angel Nieto – Assen: 15 Kemenangan

Agostini tidak sampai 15 kali memenangi balapan di Assen dan hanya Angel Nieto yang mampu melakukannya. Nieto merupakan pembalap tersukses kedua di Kejuaraan Dunia Balap Motor setelah Agostini mengacu jumlah gelar juara dunia (13 berbanding 15 gelar).  

Seperti pembalap lain yang menguasai Assen, Nieto juga merajai beberapa kelas tertentu saat GP Belanda berlangsung. Namun, pembalap asal Spanyol itu lebih berkonsentrasi di kelas-kelas kecil, 50cc dan 125cc.

Sejak 1979, Nieto bahkan hanya berkonsentrasi di kategori 125cc sehingga dominasinya di sebuah sirkuit bisa berlangsung panjang.

Angel Nieto memulai suksesnya di Assen dengan memenangi kelas 50cc pada 1970. Lalu, pada 1971 dan 1972, ia menguasai kelas 50cc dan 125cc di Assen. Pada 1975 dan 1976, Nieto hanya naik podium utama Assen di kelas 50cc.

Kemenangan di dua kelas (50-125) kembali dibuat Nieto di Assen pada 1977. Setelah itu, di Assen ia hanya memenangi kelas 125cc masing-masing pada 1979, 1980, 1981, 1982, 1983, dan 1984.

Giacomo Agostini – Imatra: 16 Kemenangan

Giacomo Agostini saat turun di kelas 500cc GP Finlandia 1975 di Sirkuit Imatra.

Giacomo Agostini saat turun di kelas 500cc GP Finlandia 1975 di Sirkuit Imatra.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Tidak banyak yang tahu bila Giacomo Agostini juga mampu menguasai Sirkuit Imatra yang berada di tengah hutan di Finlandia, di sisi Danau Vuoksi, yang hanya berjarak 7 km dari perbatasan dengan Rusia.

Sirkuit ini tidak hanya unik dari sisi layout tetapi juga menantang dan terbilang berbahaya. Antara 1962 sampai 1978, sirkuit yang dipakai adalah yang memiliki panjang 6,030 km searah jarum jam dan berada di timur kota Imatra.

Tidak hanya disuguhi pemandangan sungai Vuoksi, para pembalap juga wajib meibas rel kereta api yang memang tidak dapat dihindari dari lintasan. Para pembalap akan menemui rel ini tepat seusai melibas tikungan pertama sirkuit original ini.

Para fotografer jelas menyukai kondisi ini karena para pembalap benar-benar “terbang” saat melibas rel. Tetapi, ini jelas tidak disukai pembalap.

Sejak 1979 sampai 1986, sirkuit yang lebih pendek dipakai. Dengan panjang 4,950 km, sirkuit ini berada di sebagian besar sisi barat dari trek original Imatra.

Tercatat sembilan kali Grand Prix Finlandia digelar di Imatra antara 1964 sampai 1982. Imatra tidak lagi dipakai Grad Prix usai kecelakaan yang menewaskan pembalap kategori sidecar (motor roda tiga) Jock Taylor pada 1982.

Agostini kali pertama menang di Imatra pada 1965, ketika menguasai dua kelas sekaligus, 350cc dan 500cc. Kemenangan di kedua kategori dalam satu Grand Prix tersebut juga ia lakukan pada 1969, 1970, 1971, 1972, dan 1973.

Adapun pada 1966, 1967, 1968, dan 1975, Agostini hanya memenangi kelas 500cc di Imatra. Pada 1974, ia tidak bisa turun di GP Finlandia karena sepekan sebelumnya mengalami cedera di Anderstorp.

Baca Juga:

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Hasil Warm Up MotoGP Jerman: Martin Tercepat, Oliveira Temukan Ritme
Artikel berikutnya Hasil MotoGP Jerman: Fabio Quartararo Raja Baru Sachsenring

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia