Para Rookie Meroket, Bukan Bersandar pada Keberuntungan

Musim 2021 boleh dibilang sebagai musim keajaiban para rookie MotoGP dan kompetisi turunannya. Apakah tren ini hanya sesaat karena ada keberuntungan atau ada faktor lain yang melatari?

Para Rookie Meroket, Bukan Bersandar pada Keberuntungan

Wajarnya, seorang pembalap anyar yang berduel di suatu kategori menjalani masa orientasi medan. Jadi, sulit untuk langsung menyegel kemenangan. Mereka biasanya menimba pengalaman selama semusim.

Bahkan, para juara MotoGP sekelas Marc Marquez dan Valentino Rossi harus jatuh bangun di posisi bawah sebelum merangkak ke podium.

Namun, musim ini, beberapa rookie menunjukkan anomali. Pedro Acosta mendapat cap sebagai wonderkid karena membuat para penggemar balap motor terkesima. Remaja 17 tahun tersebut langsung naik podium dalam percobaan perdananya di Moto3.

Baru datang dari Red Bull Rookies Cup dengan status juara, ia mestinya buta dengan peta persaingan di grand prix. Tapi ternyata tidak, Acosta langsung merebut runner-up Moto3 Qatar dan memborong kemenangan pada tiga putaran berikutnya.

Hasil itu membuat anggota Red Bull KTM Ajo bisa menabung poin sehingga posisinya tak terusik ketika gagal finis podium. Musim ini, ia mengoleksi lima kemenangan dari 14 balapan. Bahkan Marc Marquez dan Valentino Rossi tak mampu melakukannya pada tahun debut di kelas 125cc.

Skill yang mumpuni membuat tim lebih mudah menyusun program dengan sasaran MotoGP 2024.

Sensasi lainnya juga ditorehkan Raul Fernandez, pembalap Red Bull KTM Ajo lainnya. Hanya saja, bedanya pembalap Spanyol itu turun di kelas lebih tinggi.

Fernandez mengambil jalur ekspres sehingga sedikit mengacaukan rencana tim. Seharusnya, ia berkutat di setiap kelas minimal dua tahun, tapi ia langsung jadi penantang juara dunia dalam tahun pertamanya di Moto2.

Pemuda 20 tahun tersebut keluar dari bayang-bayang rekan setimnya Remy Gardner, yang sudah enam tahun malang melintang di level itu. Fernandez menorehkan kemenangan 5 kali, runner-up 2 kali dan peringkat ketiga 1 kali.

Baca Juga:

Sementara itu, dari kelas MotoGP, Jorge Martin jadi debutan paling menonjol, dibandingkan pendatang baru lainnya, Enea Bastianini, apalagi Luca Marini. Padahal, ketika masih berkecimpung di Moto2, prestasinya tergolong biasa saja dibanding dua pembalap Italia, yang jadi juara dan runner-up musim lalu.

Pilot Pramac Racing tersebut pernah meraih pole position, podium dan kemenangan. Sementara, dua koleganya yang sama-sama menunggangi Ducati Desmosedici sulit menjangkau zona poin. Hanya Bastianini yang naik podium ketiga di MotoGP San Marino.

Lonjakan kinerja para rookie di atas mungkin dipengaruhi keberuntungan, tapi porsinya sangat kecil dibandingkan kerja keras dan faktor lain. Di antara Acosta, Fernandez dan Jorge Martin terhubung dengan benang merah, yakni Spanyol dan Red Bull KTM Ajo.

Tim milik Aki Ajo itu pandai mengelola para pembalapnya. Kekompakan membuat iklim kerja lebih asyik bagi rider muda.

“Ketika Anda bekerja dengan orang-orang luar biasa dan tim luar biasa, semua tampak lebih mudah,” ujar Acosta. “Jauh dari motor, saya bersenang-senang dengan staf.”

Latihan keras menjadi faktor kedua yang mendongkrak performa para debutan. Sebagai mantan pembalap, Aki Ajo tahu bagaimana program yang bagus untuk anak buahnya, termasuk jenjang yang harus diambil untuk naik ke MotoGP. Pembibitan dan pelatihan yang bagus di seluruh dunia mendapat dukungan dari Dorna.

Rata-rata para pilot jebolan sekolah balap di Eropa, mengikuti kompetisi yang sama. Tak heran kalau mereka saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing lawan yang pernah ditemui.

Contohnya, adalah Maverick Vinales, Joan Mir, Alex Rins, kakak beradik Marc Marquez serta Alex Marquez dibesarkan di lintasan yang sama sejak level junior. Meski gaya balap bertransformasi, ciri khas tetap ada.

Karena masing-masing sudah memegang kartu lawan, tentu membuat persaingan sengit tapi juga sedikit mudah.

Raul Fernandez Tech3-KTM

Raul Fernandez Tech3-KTM

Perkembangan teknologi pada motor juga menentukan kesuksesan. Penambahan komponen seperti holeshot dan rear height devices ditambah transformasi sasis akan sulit diikuti para pembalap yang jauh lebih lama berkiprah di Moto3 hingga MotoGP.

Pasalnya, mereka sudah punya pakem sendiri yang terbentuk bertahun-tahun. Sedangkan, rivalnya yang lebih muda akan lebih gampang menyesuaikan diri.

Ibarat gelas kosong, mereka bisa diisi dengan pengetahuan serta teknik baru. Jiwa yang bebas kadang membuat mereka nekat bereksperimen untuk mengeluarkan potensi terbaik motor.

dibagikan
komentar
Aprilia Dukung Keputusannya Absen, Maverick Vinales Ucapkan Terima Kasih
Artikel sebelumnya

Aprilia Dukung Keputusannya Absen, Maverick Vinales Ucapkan Terima Kasih

Artikel berikutnya

Dikaitkan Kematian Vinales, Marquez Balas Komentar Fabrizio

Dikaitkan Kematian Vinales, Marquez Balas Komentar Fabrizio
Muat komentar