Pembalap MotoGP Sikapi Racun dari Media Sosial

Media sosial bagai pisau bermata dua untuk pesohor. Di satu sisi, mendekatkan mereka dengan penggemar. Di sisi lain, melukai mereka karena komentar para pembenci.

Pembalap MotoGP Sikapi Racun dari Media Sosial

Sepak bola Inggris membuat gerakan boikot media sosial akibat banyaknya ujaran kebencian kepada para pemain, yang kadang berbau SARA dan seksis. Mulai Jumat (30/4/2021) sore hingga Senin (3/5/2021) tengah malam, akun media sosial tokoh sepak bola hingga organisasi sepak bola yang mendukung kampanye itu dinonaktifkan.

Mereka ingin memberi pelajaran kepada warganet yang gemar melontarkan komentar negatif yang cenderung agresif. Aksi tersebut mencuri perhatian di berbagai belahan dunia.

Para pembalap pun menyadari betapa media sosial bisa menjadi racun. Salah satu korbannya adalah Maverick Vinales. Pemenang MotoGP Qatar 2021 tersebut menutup Twitter-nya akibat tak tahan diserbu warganet yang menelan berita palsu. Ia dikabarkan mengancam akan meninggalkan MotoGP setelah lap pada kualifikasi kedua MotoGP Portugal dihapus.

“Jika seseorang ingin mengkritik saya, mereka seharusnya menghapus saya dari akun Twitter, kalau tidak, saya yang akan menghapus akun saya karena saya tak punya kebiasaan melakukan itu,” kicaunya sebelum menutup akun.

Baca Juga:

Maverick Vinales, Yamaha Factory Racing

Maverick Vinales, Yamaha Factory Racing

Photo by: Gold and Goose / Motorsport Images

Dalam konferensi pers MotoGP Spanyol, pembalap Yamaha Factory Racing menjelaskan kalau keputusan itu lebih pada ia kurang aktif di Twitter.

“Pada dasarnya, itu salah satu aplikasi yang jarang saya pakai. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghapusnya. Kami fokus pada Instagram dan Tiktok, sedangkan Twitter kadang lebih serius. Jadi saya pikir itu bukan yang terbaik, lagipula saya tidak mengunggah sesuatu di sana setiap hari,” ujarnya.

Rider Ducati, Jack Miller, terpaksa mematikan sejenak akun media sosial untuk menghindari komentar negatif setelah hasil mengecewakan di dua balapan Qatar.

Pria Australia itu melabeli medsos sebagai ‘kejahatan yang diperlukan’ karena itu sarana bagi atlet mempromosikan diri dan produk yang mengontraknya. Para pembalap pun bisa lebih akrab dengan  penggemarnya.

Aleix Espargaro, Aprilia Racing Team Gresini

Aleix Espargaro, Aprilia Racing Team Gresini

Photo by: Gold and Goose / Motorsport Images

Pembalap Aprilia, Aleix Espargaro, kerap jadi sasaran komentar buruk di Twitter, bahkan Jorge Lorenzo ikut meninggalkan jejak berupa kritik pedas. Pembalap 31 tahun menekankan bahwa kritik adalah konsekuensi pengguna medsos, tapi ikut marah atas peristiwa yang menimpa Vinales.

“Hanya ada satu hal yang bisa saya katakan, kebencian yang kita di medsos membuat orang akan membiarkan perusahaan mengurus media sosial dan bukannya pembalap, contoh saya sendiri,” tuturnya.

“Kami harus berurusan dengan orang-orang yang tidak suka sesuatu dari diri Anda, untuk meningkatkan kesuksesan dan dalam hidup, Anda harus menerima kritik ini. Kami melihat banyak kebencian dan Anda tidak perlu berurusan dengan ini, karena pada akhirnya saya kenal Maverick. Dia orang yang sangat baik yang saya kenal. Anak yang sangat baik.

“Jika naik motor MotoGP adalah pekerjannya, dia mencoba melakukan itu sebaik dan secepat mungkin, tapi semua orang dalam pekerjaan ini bisa mengalami hari buruk. Mudah berhenti mengikuti seseorang. Tapi kenapa dia harus berurusan dengan kebencian dari seseorang ketika menyelesaikan balapan di urutan ke-12 atau kedua? Saya sangat marah.”

Ide menutup akun sempat terbersit di benak kakak pembalap Repsol Honda, Pol Espargaro, itu. Ia yakin atlet lain akan melakukan langkah serupa jika kondisi tak membaik.

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing

Photo by: Gold and Goose / Motorsport Images

Rekan setim Vinales, Fabio Quartararo, melindungi dirinya sendiri dengan tidak membaca komentar pengikutnya. Sebagai manusia, wajar kalau dia marah dengan ungkapan jahat. Namun, emosi tak terkontrol malah menjadi bumerang.

“Saya mengalami waktu berat di masa lalu, mudah berkomentar ketika Anda duduk di sofa depan TV saat seseorang mengalami balapan buruk atau momen buruk,” pembalap Prancis mengungkapkan.

“Tapi saya membayangkan orang-orang 40 atau 50 tahun, bisa saja anak mereka yang melakukannya. Anda tidak akan suka melihat komentar buruk. Dari pihak saya, lebih baik tidak membaca komentar. Itu sangat membantu.”

dibagikan
komentar
Pol Espargaro Tak Butuh Marquez untuk Buktikan Kecepatannya

Artikel sebelumnya

Pol Espargaro Tak Butuh Marquez untuk Buktikan Kecepatannya

Artikel berikutnya

Hasil FP1 MotoGP Spanyol: Lima Pabrikan Berbeda Duduki Top 5

Hasil FP1 MotoGP Spanyol: Lima Pabrikan Berbeda Duduki Top 5
Muat komentar