Persentase DNF Quartararo Wajar tapi Terjadi dalam Situasi Krusial

Fabio Quartararo terbilang jarang tidak mampu finis sepanjang turun di MotoGP. Tahun ini, ia baru dua kali DNF. Tetapi, DNF itu terjadi dalam kondisi sangat krusial.

Persentase DNF Quartararo Wajar tapi Terjadi dalam Situasi Krusial

Dalam balapan, did not finish (DNF) adalah hasil pembalap yang tidak mampu finis atau menyelesaikan lomba yang dikutinya. Kegagalan finis tersebut bisa saja dari masalah mekanis, cedera, atau terlibat dalam sebuah kecelakaan.

Sejak turun di MotoGP pada 2019, Fabio Quartararo (Monster Energy Yamaha MotoGP) termasuk pembalap yang jarang mengalami DNF. Termasuk musim ini.

Berikut perbandingan persentase DNF Quartararo dengan sejumlah pembalap top MotoGP lain dalam lima musim terakhir.

Baca Juga:

Fabio Quartararo

Pembalap asal Prancis ini baru turun di MotoGP selama empat musim. Pada musim perdananya, Quartararo terbilang banyak mengalami DNF, empat. Jika melihat MotoGP 2019 berlangsung dalam 19 putaran, maka persentase DNF-nya kala itu mencapai 21%.

Performa El Diablo membaik pada musim berikutnya, masih bersama tim satelit Yamaha saat itu, Petronas SRT. Ia hanya dua kali DNF dari 14 balapan (14,3%).

MotoGP 2021 menjadi pencapaian terbaik Quartararo sejauh berkarier di kelas premier Kejuaraan Dunia Balap Motor. Ia hanya sekali tidak mampu finis dalam 18 balapan (5,5%) untuk kemudian menjadi juara dunia.

Musim ini, sampai 15 balapan (dari total 20 GP) yang sudah digelar, Quartararo baru dua kali DNF (13,3%). Tidak terlalu tinggi dibanding salah satu pesaingnya beratnya musim ini, Francesco Bagnaia (Ducati Lenovo).

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing, usai kecelakaan saat balapan GP Aragon dan insiden di atas skuter.

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing, usai kecelakaan saat balapan GP Aragon dan insiden di atas skuter.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Masalahnya, dua DNF yang dialami Quartararo justru terjadi saat kondisi krusial. DNF pertama Quartararo musim ini terjadi di GP Belanda, tepat sebelum libur paruh musim. Saat itu, ia masih unggul 34 poin atas rival terdekat, Aleix Espargaro (Aprilia Racing), dan bahkan 91 poin dengan Bagnaia.

Tetapi setelah paruh kedua dimulai di GP Inggris, performa Quartararo menurun. Dari empat putaran yang sudah digelar, Quartararo hanya sekali naik podium (P2 di Austria) dan sekali DNF di GP Aragon, Minggu (18/9/2022) lalu.

Bila ditotal, selama berkarier di MotoGP, pesentase DNF Fabio Quartararo terbilang tidak terlalu buruk. Sampai GP Aragon 2022, ia hanya sembilan kali mengalami DNF dari 66 Grand Prix yang diikuti (13,6%).

Francesco Bagnaia

Seperti Quartararo, pembalap asal Italia ini juga baru empat musim turun di MotoGP (mulai sejak 2019). Namun, dalam pada dua musim pertamanya saat bersama Tim Prima Pramac Racing, Bagnaia terbilang sering pulang tanpa poin.

Pada MotoGP 2019, ia enam kali DNF dari 18 balapan (33,3%). Bagnaia jauh lebih buruk pada musim berikutnya. Ia juga enam kali DNF tetapi hanya turun dalam 11 balapan (54,5%).

Tahun lalu, 2021, Bagnaia mulai stabil. Tetapi, dua DNF yang dilakukannya pada awal-awal musim dari 18 balapan yang diikuti (11,1%), membuat Bagnaia terlambat untuk mengejar Quartararo.

Francesco Bagnaia, Ducati Team saat terjatuh pada lombba MotoGP Jerman.

Francesco Bagnaia, Ducati Team saat terjatuh pada lombba MotoGP Jerman.

Foto oleh: Dorna

Musim ini, performa Bagnaia juga agak mengkhawatirkan pada paruh pertama musim dengan empat kali terjatuh.

Namun, setelah DNF terakhir di GP Belanda, Bagnaia menggila dengan menyapu empat kemenangan beruntun (Belanda, Inggris, Austria, San Marino) plus sekali finis kedua (Aragon). Meskipun, persentase DNF Bagnaia sampai musim ini berjalan sudah 26,6% (4/15).

Bila ditotal sejak kali pertama turun di MotoGP sampai saat ini, persentase DNF Francesco Bagnaia mencapai 29%, jauh di atas Quartararo.

Aleix Espargaro

Pembalap veteran asal Spanyol ini sudah turun di MotoGP sejak 2009. Namun, baru pada musim 2022 ini performanya melesat luar biasa hingga mampu berada di P3 klasemen menjelang lima balapan terakhir.

Empat musim sebelumnya, persentase DNF Aleix Espargaro termasuk tidak bagus karena rata-rata lima kali gagal finis dalam semusim. Sejak 2019 sampai 2021, persentase DNF pembalap Aprilia Racing itu masing-masing 35,2% (6/17), 26,3% (5/19), 35,7% (5/14), dan 27,7% (5/18).

Tetapi, musim ini pencapaian Espargaro sungguh luar biasa. Ia belum pernah pulang tanpa poin dari 15 balapan MotoGP 2022 yang sudah digelar! Hanya dirinya dan Luca Marini (Mooney VR46 Racing) yang sampai GP Aragon yang selalu mampu menyelesaikan balapan.

Aleix Espargaro, Aprilia Racing

Aleix Espargaro, Aprilia Racing

Foto oleh: Dorna

Bedanya, jika Espargaro selalu mampu merebut poin saat finis – terburuk P11 (5 poin) di GP Amerika – maka Marini, yang notabene adik Valentino Rossi, sudah tiga kali mampu melihat chequered flag tetapi tidak merebut poin (di luar 15 besar).

Karena musim ini belum pernah DNF, maka persentase DNF Aleix Espargaro dalam lima musim terakhir sampai GP Aragon 2022, hanyalah 25,3%. Tidak jauh bila dibandingkan Quartararo atau Joan Mir (Suzuki Ecstar).

Joan Mir  

Pembalap Suzuki Ecstar ini merupakan salah satu generasi emas MotoGP yang baru turun sejak 2019, seperti Quartararo dan Bagnaia. Mir masuk dalam komparasi DNF ini karena ia salah satu dari tiga juara dunia MotoGP dalam lima musim terakhir.

Mir sempat dikenal sebagai pembalap dengan performa sangat konsisten sebelum terpuruk pada musim ini. Pada debutnya di MotoGP, 2019, Mir hanya mencatat 17,6% DNF (3/17).

Ia kembali hanya mengalami tiga DNF pada MotoGP 2020 yang dimampatkan hanya 14 balapan (21,4%) karena pandemi Covid-19. Saat itu, Mir berhasil merebut gelar juara dunia hanya pada musim keduanya di MotoGP.

Joan Mir, Team Suzuki MotoGP, saat mengalami kecelakaan di MotoGP Jerman.

Joan Mir, Team Suzuki MotoGP, saat mengalami kecelakaan di MotoGP Jerman.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Tahun lalu, performa Mir masih terbilang konsisten dengan hanya dua kali DNF dari 18 putaran (11,1%) sehingga mampu finis P3 di klasemen akhir MotoGP 2021.

Namun tahun ini pembalap asal Spanyol itu benar-benar terpuruk karena hampir separuh lomba yang diikutinya berakhir tanpa poin. Mir sudah enam kali DNF hanya dari 13 balapan yang diikuti (46,1%).   

Total, persentase DNF Joan Mir sepanjang turun di MotoGP, sampai absen di GP Aragon 2022 lalu adalah 22,5% (14/62).

Marc Marquez

Turun di MotoGP sejak 2013, pembalap Repsol Honda ini tercatat dua kali merebut gelar dalam empat musim terakhir. Hanya karena cedera berkepanjangan yang membuatnya tidak mampu bersaing sejak 2020 sampai sekarang.

Kunci keberhasilan pembalap Repsol Honda tersebut merebut gelar juara dunia MotoGP 2018 dan 2019 adalah sangat sedikit DNF yang dibarengi hasil finis konsisten di tiga besar.

Pada 2018 saja, Marquez hanya dua kali DNF dari 18 balapan (11,1%) yang dikutinya. Setahun kemudian, The Baby Alien bahkan hanya sekali tak mampu finis dalam 19 balapan (5,2%).

Setelah cedera dan dianggap tidak turun pada MotoGP 2020, Marquez kembali lagi pada 2021. Namun, saat itu ia hanya mampu 14 kali membalap dan empat kali mencatat DNF (28,5%).

Tahun ini, Marc Marquez memang baru sekali DNF saat mengalami kerusakan teknis di GP Aragon lalu. Tetapi, karena cedera, ia juga baru mampu tujuh kali (persentase DNF 14,2%) membalap di MotoGP 2022 ini.  

Marc Marquez, Repsol Honda, usai mengalami kecelakaan di sesi warm-up yang akhirnya membuatnya tak mampu start (DNS) pada MotoGP Indonesia.

Marc Marquez, Repsol Honda, usai mengalami kecelakaan di sesi warm-up yang akhirnya membuatnya tak mampu start (DNS) pada MotoGP Indonesia.

Foto oleh: Xaveria Yunita

 

dibagikan
komentar
Dua Hal Jadi Perhatian Marc Marquez di MotoGP Jepang
Artikel sebelumnya

Dua Hal Jadi Perhatian Marc Marquez di MotoGP Jepang

Artikel berikutnya

Francesco Bagnaia Pernah Meminta Valentino Rossi Jadi Pelatih

Francesco Bagnaia Pernah Meminta Valentino Rossi Jadi Pelatih