Plus-Minus Duel Jorge Martin dan Enea Bastianini untuk Rookie Terbaik

Menjelang tiga balapan terakhir, Jorge Martin dan Enea Bastianini hanya dipisahkan 11 poin dalam persaingan menjadi rookie terbaik MotoGP 2021.

Plus-Minus Duel Jorge Martin dan Enea Bastianini untuk Rookie Terbaik

Sejak awal musim MotoGP 2021, Ducati memang sudah diprediksi bakal merebut gelar pembalap debutan (rookie) terbaik. Pasalnya, tiga dari empat rookie MotoGP musim ini menggeber Ducati Desmosedici GP.

Juara dunia Moto2 musim lalu Enea Bastianini (Avintia Esponsorama) dan runner-up Luca Marini (Sky VR46 Avintia) menggeber Ducati Desmosedici GP19. Sementara, Jorge Martin (Pramac Racing) mengandalkan Ducati Desmosedici GP21 yang sama dengan milik tim pabrikan.

Performa ketiga rookie tersebut mampu jauh di atas satu pembalap debutan lainnya, Lorenzo Savadori (Aprilia Racing Team Gresini), yang sejak GP Aragon digantikan Maverick Vinales. Namun, di antara tiga rookie yang tersisa saat ini, paling seru jelas persaingan antara Jorge Martin versus Enea Bastianini.

Martin memulai MotoGP 2021 dengan keuntungan lebih dibanding Bastianini, karena memakai motor terbaru Desmosedici. Tetapi, motor baru jelas tidak akan berguna jika sang pembalap lama beradaptasi. Inilah yang menjadi keunggulan Martin.

Terbukti, ia langsung merebut pole dan finis podium ketiga di GP Doha, balapan kedua. Setelah itu, nasib sial menghampirinya saat mengalami kecelakaan parah di Portimao, Portugal, seri ketiga. Akibatnya, Martin terpaksa absen di empat balapan.

Jorge Martin, Pramac Racing, di MotoGP Amerika.

Jorge Martin, Pramac Racing, di MotoGP Amerika.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Pembalap muda Spanyol, 23 tahun, itu baru bisa kembali pada balapan ketujuh, GP Catalunya. Setelah hasil tidak memuaskan di Catalunya (P14), Sachsenring (P12), dan Assen (retired), Martin kembali membuktikan dirinya tidak hanya cepat dalam flying lap tetapi juga balapan.

Ia berhasil memenangi GP Styria dan naik podium ketiga GP Austria di tempat yang sama. Salah satu kelemahan Martin adalah performanya yang belum stabil, kadang sangat impresif tetapi berikutnya anjlok drastis.

Untuk beberapa hal, Enea Bastianini agak berbeda dibanding Martin. Ia juga mengawali musim dengan bagus setelah mampu finis 10 besar pada lomba pembuka, GP Qatar. Bastianini juga mampu finis P9 di Portimao. Tetapi, setelah itu performanya menurun.

Titik balik pembalap Italia tersebut terjadi di Aragon, saat kali pertama berhasil lolos ke kualifikasi kedua (Q2). Pada lomba GP Aragon itu, Bastianini mampu finis P6.

Pada balapan berikutnya di Misano, San Marino, Bastianini tidak hanya berhasil merebut finis podium pertamanya (P3) di MotoGP namun juga mencatat fastest lap perdana di lomba kelas premier. Pada balapan terakhir, GP Amerika, lalu, ia kembali finis P6.   

Enea Bastianini dan tim Esponsorama Racing merayakan keberhasilan finis P3 di MotoGP San Marino.

Enea Bastianini dan tim Esponsorama Racing merayakan keberhasilan finis P3 di MotoGP San Marino.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Dalam beberapa hal, Bastianini cenderung berlawanan dengan Martin. Ia lebih nyaman di atas motor untuk melibas jarak balapan ketimbang mencetak waktu lap. Namun, ini menjadi salah satu kelemahan Bastianini dalam beberapa tahun terakhir, yang harus dibenahinya.

Saat memenangi gelar Moto2 2020 lalu, Bastianini hanya mampi tiga kali start di barisan terdepan dan tanpa pernah merebut pole. Di MotoGP, posisi grid saat start jauh lebih penting dibanding Moto2, apalagi Moto3.

Untuk kru, baik Martin maupun Bastianini dikelilingi para teknisi hebat. Di Pramac, Martin didampingi Daniele Romagnoli sebagai crew chief, teknisi yang sebelumnya menangani Danilo Petrucci.

Di kubu Bastianini, Alberto Giribuola diminta Ducati untuk menjadi kepala kru Bastianini. Giribuola adalah tangan kanan Andrea Dovizioso selama bertahun-tahun membela Ducati.

Baca Juga:

Dengan menempatkan teknisi top pada kubu kedua pembalap mudanya, Ducati memang serius berinvestasi pada Martin dan Bastianini. Bukan tidak mungkin keduanya tengah dipantau untuk diproyeksikan menjadi pembalap utama tim pabrikan mereka.

Enea Bastianini dan Jorge Martin memang sudah layak dan pantas untuk turun di MotoGP musim ini. Kini, kedua bersaing sengit untuk memperebutkan status rookie terbaik MotoGP 2021.

Jorge Martin kini sudah mengoleksi 82 poin dan berada di P11 klasemen. Enea Bastianini tertinggal 11 angka untuk berada di P13 klasemen MotoGP 2021. Hebatnya, Bastianini mampu memangkas gap dengan Martin hingga 39 poin dalam tiga lomba terakhir.

Dari sisi teknis, Jorge Martin jelas lebih unggul karena memakai Ducati Desmosedici 2021. Bandingkan dengan Enea Bastianini yang menggeber motor versi 2019 dengan beberapa pembaruan.

Kendati begitu, Bastianini sedikit lebih unggul untuk trek, dalam tiga balapan ke depan. Ia mampu podium ketiga di Misano, yang akan kembali menggelar MotoGP dengan tajuk GP Emilia Romagna. Ia juga bagus di Portimao sementara balapan terakhir, Valencia, masih gelap bagi semua rookie.

 

 

dibagikan
komentar
Kejuaraan Balap Dunia yang Diharapkan Bisa Kembali ke Indonesia
Artikel sebelumnya

Kejuaraan Balap Dunia yang Diharapkan Bisa Kembali ke Indonesia

Artikel berikutnya

Francesco Bagnaia: Valentino Rossi Memacu Saya untuk Jadi yang Terbaik

Francesco Bagnaia: Valentino Rossi Memacu Saya untuk Jadi yang Terbaik
Muat komentar