Rossi: Saya Juara 10 Kali Andai Titel Tak Dicuri pada 2015

Pembalap Petronas SRT, Valentino Rossi, merasa juara dunia MotoGP 2015 telah dicuri darinya. Hal itu sungguh disesalkan karena dia hampir mustahil menyegel titel ke-10 musim ini.

Rossi: Saya Juara 10 Kali Andai Titel Tak Dicuri pada 2015

Bisa merangkai 10 gelar juara balap motor terelit merupakan impian semua rider, termasuk Rossi. Sejauh ini, ia baru mencapai sembilan titel, yakni 7 dari MotoGP, 1 250cc dan 1 125cc.

Meski masih ia menyatakan sanggup memperjuangkan itu, tapi tak bisa dipungkiri usia 42 tahun dan performa motor Yamaha YZR-M1 yang kurang maksimal jadi penghalang terbesar.

Seandainya terhenti di angka sembilan, The Doctor mestinya bisa merasa puas karena tak banyak pembalap yang berkiprah lebih dari 25 tahun dan menaklukkan berbagai rekor. Namun, dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, ia mengungkapkan satu penyesalan terbesar sepanjang kariernya.

“Saya ingin menghapus balapan di Valencia 2006,” ujarnya merujuk kepada insiden yang membuatnya terhempas ke tanah sehingga kalah lima poin dalam perebutan gelar juara dunia dengan Nicky Hayden.

Rossi kehilangan hegemoni sejak 2009 dan terakjhir kali, ia menang lomba pada 2017. Sejak saat itu, ia seolah-olah hanya berpartisipasi dalam kompetisi sekadar menjaga konsistensi. Padahal sebenarnya, jauh di lubuk hati terdalam, pria Italia itu ingin berkuasa lagi di MotoGP.

“Menurut saya, kerugian Anda ketika berhenti melakukan apa yang Anda sangat suka lebih dari apa yang Anda dapat saat berhenti di puncak karier,” ucapnya.

“Lagipula, Anda tidak pernah tahu apakah itu benar-benar sudah berhenti. Pada 2013, saat saya kembali ke Yamaha, semua orang memberi waktu istirahat. Di sisi lain, seandainya gelar juara dunia saya tidak dicuri, pada 2015, saya akan menang lagi dan itu jadi 10, memperpanjang sukses dalam kehidupan olahraga saya jadi enam tahun lagi.

“Tentu saya tidak mau jadi 12 atau 16. Jika saya ingin meninggalkan itu di puncak, saya seharusnya pergi beberapa tahun lalu. Tapi saya masih yakin dan mau mencoba…”

Baca Juga:

Rupanya ia masih kesal dengan manuver Marc Marquez di Sepang yang menyebabkan kans juara dunia MotoGP 2015 tertutup. Kedua pembalap saling kritik bahkan sampai beberapa waktu sesudahnya.

Rossi sempat bingung melihat banyak penggemar MotoGP yang bertanya kenapa masih mau aktif, di usia yang tidak muda lagi.

“Alasan saya sederhana dan itu tampak aneh bagi saya, hanya sedikit yang mengerti, mungkin cara pikir saya yang berbeda. Saya suka bagaimana perasaan, feeling yang mengalir, adrenaline yang datang dari kemenangan, naik podium atau hanya sekadar balapan bagus,” ia menjelaskan.

“Ketika itu terjadi, saya merasa senang selama beberapa hari. Saya menyukai perasaan itu. Saya sadar jika pada akhirnya, waktu yang akan mengalahkan saya. Sayangnya, seperti itu bagi semua orang, tapi saya mencoba dengan seluruh kekuatan untuk mempersulit itu untuk mereka dan itu satu-satunya alasan kenapa saya terus balapan.”

Selalu ada pahit manis dalam sebuah perjalanan. Pemilik Akademi Pembalap VR46 itu menyebut tahun terakhir di 500cc sebagai momen indah.

“Memori terbaik saya pada 2001, karena itu adalah itu terakhir kali kelas 500cc dilombakan. Karena itu, kesempatan terakhir bertarung mati-matian di sana dengan Max Biaggi, sungguh luar biasa,” ia menuturkan.

“Kemudian, pada 2004, dengan kemenangan di Welkom dengan Yamaha. Pada 2008, banyak orang tua yang selesai. Bagaimana pun, kami ganti ban Bridgestone dan saya mengalahkan Casey Stoner.”

Sebagai legenda, Rossi meninggalkan warisan untuk MotoGP, terutama para pembalap muda.

‘Saya merupakan pembalap MotoGP modern pertama. Saya yang pertama dalam segala hal, sehingga jadi pelajaran bagi banyak pembalap hingga hari ini, Saya mulai sangat muda, dan pada usia 20 tahun sudah ada di kelas 500 dan jalur saya diikuti setiap orang. Ada beberapa hal yang saya lakukan ditiru setiap pembalap,” ujarnya.

Valentino Rossi, Petronas Yamaha SRT insiden

Valentino Rossi, Petronas Yamaha SRT insiden

Foto oleh: Dorna

dibagikan
komentar
Kesibukan Baru Guintoli Selain Test Rider Suzuki

Artikel sebelumnya

Kesibukan Baru Guintoli Selain Test Rider Suzuki

Artikel berikutnya

Aki Ajo: Saya Suka Gaya Old School Acosta

Aki Ajo: Saya Suka Gaya Old School Acosta
Muat komentar