Rossi Ragu Bisa Bangkit di Seri Eropa

Pembalap Petronas SRT Yamaha, Valentino Rossi, sangsi bisa bangkit ketika MotoGP menjelajah sirkuit-sirkuit di Eropa.

Rossi Ragu Bisa Bangkit di Seri Eropa

Bersama tim baru yang minim tekanan dan dibekali YZR-M1, Rossi ternyata belum bisa mendongkrak prestasinya. Sirkuit Losail yang diklaim merupakan salah satu lintasan favoritnya tak juga membantu.

Di MotoGP Qatar, ia start dari urutan keempat dan berakhir delapan tingkat lebih rendah. Lalu pada MotoGP Doha, kondisinya lebih parah lagi.

Rossi mencatatkan hasil kualifikasi terburuk sepanjang kariernya, yakni posisi 21. Ia berusaha semaksimal mungkin memperbaiki kinerjanya, sayangnya gagal finis di zona poin. Juara dunia MotoGP tujuh kali tersebut berakhir di peringkat ke-16.

Putaran selanjutnya di Eropa akan jadi pertimbangan Rossi untuk menentukan masa depannya.

“Saya tidak tahu karena setiap tahun banyak berubah. Bagaimanapun, di Eropa, ada trek bagus untuk saya. Jadi, kami harap ketika kembali ke Eropa, kami lebih kuat,” ujarnya.

Baca Juga:

Pemenang 89 lomba tersebut berharap timnya lebih dini mendeteksi problem dan mencari solusi. Selama di Qatar, mereka terus meraba setelan terbaik sehingga berimbas pada raihan dalam kualifikasi.

“(Dalam balapan) kami temukan beberapa setelan berbeda untuk elektronik di mana saya bisa punya pace lebih konstan. Sayangnya, kami menemukan itu di pagi hari dan posisi saya saat start sangat buruk,” katanya.

“Sekarang lebih sulit karena semua pembalap, semua motor kuat dan berada 10 detik dari kemenangan, Anda di posisi ke-15. Kami harus melihat trek lain mulai dari Portimao. Kami akan mencoba memahami jika kami lebih kompetitif.”

Valentino Rossi, Petronas Yamaha SRT

Valentino Rossi, Petronas Yamaha SRT

Photo by: Gold and Goose / Motorsport Images

Petronas menemui banyak rintangan di Qatar. Bukan hanya Rossi, Franco Morbidelli yang biasanya tangguh dengan motor spek-A, sulit mengimbangi ketangguhan lawan-lawannya dari Ducati dan Yamaha.

Pembalap berdarah Italia-Brasil itu mengeluhkan kesalahan manajemen ban yang dibayar mahal. Sedangkan, motor tidak terlalu bermasalah dengan beberapa perbaikan. Ia keteteran di akhir sehingga jadi rider ke-12 yang lewat garis finis.

“Kami melakukan modifikasi besar-besaran. Kami kembali ke konfigurasi yang serupa dengan awal musim 2020,” Morbidelli mengungkapkan.

“Balapan lebih baik daripada tahun lalu. Saya melawan dan dapat bertarung. Mulai dari posisi ke-10 dan tak punya motor terkencang sangat sulit beradu dengan para pembalap, tapi setidaknya saya punya kesempatan untuk melakukannya.

“Tapi masalah sama dengan awal 2020 muncul, jadi saya kesulitan menjaga kecepatan bagus di akhir. Saya kehabisan ban terlalu cepat.”

dibagikan
komentar
Tikungan 2 Red Bull Ring Takkan Dirombak

Artikel sebelumnya

Tikungan 2 Red Bull Ring Takkan Dirombak

Artikel berikutnya

Pembalap Tes Klaim Rekor Kecepatan Zarco Biasa Saja

Pembalap Tes Klaim Rekor Kecepatan Zarco Biasa Saja
Muat komentar