Sebelum Vinales, Beberapa Pembalap GP Juga Pernah Didepak

Resmi sudah Yamaha memecat Maverick Vinales pada Jumat (20/8/2021) siang. Namun, sejumlah pembalap pernah mengalami masalah serupa di masa lalu.

Sebelum Vinales, Beberapa Pembalap GP Juga Pernah Didepak

Pembalap pertama dalam sejarah Kejuaraan Dunia Balap Motor (juga dikenal dengan sebutan Grand Prix/GP) yang didepak sebelum masa kontraknya berakhir adalah John Kocinscki.

Di kelas 250cc (kini Moto2) pada musim 1993, Kocinski mampu tampil impresif pada balapan pertama di Sirkuit Eastern Creek, Australia, dengan finis di podium kedua.

Namun berikutnya, performa pembalap Team Lucky Strike Suzuki itu naik-turun hingga akhirnya kembali impresif pada seri ketujuh di Sirkuit Assen, Belanda.

Setelah memastikan finis di posisi ketiga di atas Suzuki GSV250, Kocinski memberhentkan motornya di sisi lintasan. Pembalap asal Amerika Serikat itu turun dan langsung menggeber-geber Suzuki GSV250 hingga mesinnya meledak.

Alex Barros, Team Lucky Strike Suzuki, berbincang dengan John Kocinski, Cagiva Team Agostini, pemenang lomba kelas 500cc GP Amerika Serikat 1993.

Alex Barros, Team Lucky Strike Suzuki, berbincang dengan John Kocinski, Cagiva Team Agostini, pemenang lomba kelas 500cc GP Amerika Serikat 1993.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Para bos Suzuki di Hamamatsu, Jepang, jelas tidak bisa menoleransi aksi Kocinscki tersebut. Pasalnya, alasan Kocinski melakukan aksi “blayer” tersebut hanya karena tidak puas dengan performa motor.

Suzuki pun memecat Kocinscki tepat setelah GP Belanda atau masih ada tidak ada tujuh seri tersisa. Koncinscki tidak butuh waktu lama karena ia langsung ditarik Cagiva ke kelas 500cc.

Ia pun berhasil memberikan kemenangan pertama Cagiva di kelas tertinggi Kejuaraan Dunia Balap Motor dengan memenangi GP AS di Laguna Seca, seri ke-13.

Musim berikutnya, 1994, Kocinscki berhasil finis di peringkat ketiga kelas 500cc setelah kembali merebut satu kemenangan dan tiga podium ketiga.

Baca Juga:

Kasus pemecatan yang dialami Kocinscki tidak berhenti pada Juni 1993 di Assen. Tiga tahun berselang, ia kembali mengalami masalah yang sama di Kejuaraan Dunia Superbike (WSBK) dan itu terjadi di Sirkuit Sentul, Indonesia.

Setelah memastikan gelar WSBK 1997, Kocinski dan rekan setimnya di Castrol Honda, Aron Slight, siap turun pada seri terakhir di Sentul. Pada Race 1, Kocinscki berhasil melibas Slight pada lap terakhir.

Untuk finis 1-2 di klasemen akhir, sesuai instruksi tim, Slight harus memenangi Race 2. Slight berhasil memimpin atas Kocinscki pada lap-lap awal. Namun, menjelang lap akhir, Kocinscki melibas Slight sehingga hampir terjatuh, untuk memenangi Race 2.

Hasilnya, Slight pun harus puas finis di posisi ketiga. Bisa ditebak, Tim Castrol Honda marah besar dan langsung memecatnya.

Anthony Gobert

Anthony Gobert

Foto oleh: Richard Sloop

Kasus pemecatan lainnya di Grand Prix terjadi pada 1997. Anthony Gobert menjadi pembalap utama Team Lucky Strike Suzuki di kelas 500cc menggantikan Scott Russell.

Setelah tidak turun di tiga balapan awal, pembalap Australia itu mulai berlomba sejak balapan keempat. Sembilan lomba – sampai GP Rep. Ceko (dari total 16 balapan musim tersebut) – Gobert dipecat Suzuki karena tidak lolos tes obat-obatan terlarang.

Karier Gobert kemudian tidak jelas. Pada 1998 dan 1999, ia turun di AMA Superbike bersama Vance & Hines Ducati. Lalu, pada 2000, ia mencoba turun di WSBK mengandalkan Bimota SB8R.

Gobert lantas kembali ke AMA Superbike pada 2001 bersama Yamaha dan 2003 membela Ducati (foto di atas). Di sela-sela itu, ia juga sempat turun di Kejuaraan Superbike Australia dan dua balapan World Supersports pada awal 2006.

Loris Capirossi saat memimpin atas rekan setimnya di Aprilia, Tetsuya Harada, pada lomba kelas 250cc (kini Moto2) GP Inggris 1998 di Sirkuit Donington Park.

Loris Capirossi saat memimpin atas rekan setimnya di Aprilia, Tetsuya Harada, pada lomba kelas 250cc (kini Moto2) GP Inggris 1998 di Sirkuit Donington Park.

Pada 1998, kasus pemecatan pembalap kembali terjadi namun di kelas 250cc. Kala itu menimpa salah satu nama besar, Loris Capirossi. Tetapi, kasus Capirex ini agak menarik.

Setelah merebut gelar juara dunia kelas 250cc, pada akhir musim 1998, Aprilia secara sepihak membatalkan kontrak untuk tahun berikutnya karena terlibat kecelakaan dengan rekan setimnya, Tetsuya Harada. Aprilia menilai Capirex saat itu bertindak tidak sportif.

Masalah ini pun berlanjut ke pengadilan. Hasil sidang memutuskan Loris Capirossi – yang kini menjabat penasihat keselamatan balap di Dorna Sports (promotor MotoGP) – tidak bersalah dan Aprilia harus membayar kompensasi agar masalah selesai.

Romano Fenati saat menjalani sesi latihan bebas Moto3 di Red Bull Ring, Austria, pada 2016 bersama Sky Racing Team VR46.

Romano Fenati saat menjalani sesi latihan bebas Moto3 di Red Bull Ring, Austria, pada 2016 bersama Sky Racing Team VR46.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Kasus pemecatan paling menarik di GP mungkin yang dialami Romano Fenati. Menarik karena pembalap asal Italia tersebut dua kali mengalami pemecatan.

Fenati mengawali Moto3 2016 dengan finis P4 di Qatar. Ia lalu finis P20 di Argentina untuk kemudian merebut kemenangan pertamanya musim itu di Amerika Serikat.

Berikutnya, Fenati finis P7 di Jerez lantas naik podium kedua di Le Mans setelah hanya kalah 0,099 detik dari Brad Binder. Fenati lalu merebut pole di Mugello namun tidak mampu finis saat lomba.

Fenati lantas finis keempat di Catalunya dan Belanda tetapi tidak mampu menuai poin di Jerman – seri kesembilan dari total 18 musim tersebut – karena hanya finis di P18.

Tim Sky Racing VR46 yang dibela Fenati kemudian melarangnya turun di Austria karena tindakan tidak disiplin terhadap Uccio Salucci, salah satu bos tim yang juga sahabat sang pemilik, Valentino Rossi.

Pada 16 Agustus, Tim VR46 memutus kontrak Fenati untuk sisa musim 2016 dan tahun berikutnya. Fenati dinilai bersalah karena masalah dengan sikap dan tingkah laku serta sering tidak mengikuti kebijakan tim.

Pada 2017, Fenati bergabung ke Marinelli Rivacold Snipers Team dan berhasil menorehkan hasil terbaik sepanjang karernya di Grand Prix hingga saat ini: tiga kemenangan dan lima finis podium kedua untuk menjadi runner-up Moto3.

Romano Fenati, Marinelli Rivacold Snipers Team, saat turun di Moto2 Qatar 2018.

Romano Fenati, Marinelli Rivacold Snipers Team, saat turun di Moto2 Qatar 2018.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Torehan tersebut membuatnya promosi ke Moto2 pada 2018 bersama tim yang sama. Namun, lagi-lagi Fenati berulah, tepatnya pada lomba Moto2 San Marino di Sirkuit Misano.

Pada balapan yang berlangsung 9 September 2018 tersebut, Stefano Manzi (Forward Racing Team) tengah berusaha melewati Fenati yang berujung pada terjadi kontak sehingga keduanya keluar trek.

Merasa kesal, saat keduanya kembali berduel di sebuah trek lurus, tangan kiri Fenati berusaha menarik tuas rem depan motor Manzi yang saat itu melesat tak kurang 135 mil/jam (sekira 217,2 km/jam).

Atas aksi ini, FIM pun bereaksi keras. Selain mendiskualifikasi Fenati dari Moto2 San Marino, FIM juga menjatuhkan hukuman larangan dua balapan untuknya. Tim Marinelli pun langsung memutus kontraknya kendati Moto2 2018 saat itu masih menyisakan enam lomba.

Ironisnya, Fenati yang saat itu sebenarnya sudah mendapatkan kontrak dengan Forward Racing MV Agusta untuk Moto2 2019, juga dibatalkan sepihak oleh tim tersebut.

Fenati kemudian turun lagi ke Moto3 pada 2019 dan memperkuat Tim VNE Snipers. Sejak 2020, Romano Fenati memperkuat Sterilgarda Max Racing Team yang dimiliki legenda Italia, Max Biaggi.

Kini, performa Romano Fenati terlihat jauh membaik. Dari 11 lomba Moto3 2021, ia memang belum pernah menang. Namun, performa stabil – termasuk podum kedua di Jerez serta ketiga di Belanda dan Styria – membuatnya Fenati kini berada di P3 klasemen.       

dibagikan
komentar
Cal Crutchlow Resmi Ambil Alih Kursi Maverick Vinales

Artikel sebelumnya

Cal Crutchlow Resmi Ambil Alih Kursi Maverick Vinales

Artikel berikutnya

Aprilia Ingin Maverick Vinales Balapan Musim Ini

Aprilia Ingin Maverick Vinales Balapan Musim Ini
Muat komentar