Siapa Layak Jadi Kampiun MotoGP 2021?

Ada sejumlah kandidat yang berpeluang merengkuh titel bergengsi di kelas premier musim ini. Mulai dari sang juara dunia bertahan, Joan Mir, hingga pembalap paruh baya, Valentino Rossi.

Siapa Layak Jadi Kampiun MotoGP 2021?

MotoGP 2020 tepat disebut ketidakpastian musim. Bagaimana tidak. Pandemi Covid-19 memaksa Federasi Balap Motor Internasional (FIM) dan promotor Dorna Sports bekerja keras menyusun ulang kalender kejuaraan, sembari menerapkan protokol kesehatan sangat ketat di paddock.

Beberapa seri yang dibatalkan karena pembatasan perjalanan turut menyebabkan FIM-Dorna pusing tujuh keliling. Pasalnya, mereka harus mencari negara yang siap menggelar balapan, namun tetap menjamin kesehatan para pembalap dan tim dari wabah virus corona.

Setelah jadwal direvisi berkali-kali, MotoGP 2020 akhirnya dapat bergulir sesuai rencana. Itupun mundur sampai pertengahan Juli, juga hanya diselenggarakan di Eropa, dengan lima balapan digelar di sirkuit yang sama (Jerez, Red Bull Ring, Misano, Le Mans, Aragon, serta Valencia).

Menariknya, dari total 14 seri sepanjang tahun lalu, tercipta rekor sembilan pemenang berbeda, menyamai musim 2016. Selain itu, tercatat 15 pembalap berbeda naik podium, seorang rookie memenangi balapan, KTM-Tech3 menang perdana, dan tidak ketinggalan gelar pertama untuk Suzuki dalam 20 tahun terakhir.

Baca Juga:

Kini, waktunya membuka lembaran baru. Dengan tes resmi pramusim MotoGP 2021 yang telah berjalan di Sirkuit Internasional Losail, Qatar, setidaknya ada lebih dari 10 pembalap yang memiliki kans menyandang status kampiun. Siapa saja mereka?

Dapat dipahami, bahwa juara dunia bertahan Joan Mir akan dianggap sebagai favorit bagi kebanyakan orang. Spaniard adalah satu-satunya sosok yang mampu menjaga konsistensi pada 2020, juga berkat paket kompetitif GSX-RR.

Berbekal pengalaman lebih, dan tahu bagaimana bisa merebut titel, Mir jelas bakal jadi yang patut diwaspadai untuk 2021, dengan catatan dia dan Suzuki mampu meningkatkan performa.

Juara Dunia MotoGP 2020, Joan Mir, Team Suzuki berpose dengan trofi

Juara Dunia MotoGP 2020, Joan Mir, Team Suzuki berpose dengan trofi

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Berikutnya ada nama Franco Morbidelli. Rasanya tidak ada yang mengira Franky, sapaan akrabnya, berhasil jadi runner-up. Bahkan mengungguli jauh mantan rekan setim Fabio Quartararo, yang justru digadang-gadang bakal juara dunia.

Walau menggunakan M1 berusia satu tahun lebih tua, nyatanya Morbidelli bisa tampil mumpuni ketimbang duo pabrikan Yamaha: Valentino Rossi dan Maverick Vinales. Jadi, tidak salah jika memasukkan namanya dalam daftar calon jawara.

Bergeser ke Alex Rins. Dia juga pantas dijadikan salah sau favorit. Terlepas dari kegagalan finis di Austria dan Prancis, rider Suzuki itu berhasil mengemas empat podium beruntun dalam lima balapan, menunjukkan bahwa pemakai nomor start #42 tersebut punya kecepatan yang perlu diperhitungkan.

Quartararo yang tadi disebutkan turut diwaspadai pula. Memang kinerjanya terbilang sangat mengecewakan pada musim lalu, tetapi kini El Diablo telah memetik banyak pelajaran, terutama untuk meredam emosi saat hasil tak sesuai yang diharapkannya.

Sekarang membela pabrikan Yamaha, Quartararo tentu mengusung semangat dan ambisi baru. Meningkatnya kepercayaan diri juga dapat menambah motivasi dirinya dalam mencetak raihan mengesankan pada tahun perdana bersama skuad Iwata.

Bagaimana dengan rekan setim anyarnya, Maverick Vinales? Satu hal yang pasti, Top Gun harus bekerja keras menerjemahkan kecepatannya saat tes ke balapan. Ya, seolah sudah jadi menu langganan, dia kerap terkencang ketika uji coba, namun kedodoran saat tiba waktunya memperebutkan podium.

Selain itu, Vinales harus sudah mulai mengetahui apa masalah yang menderanya ketika berperforma di bawah ekspektasi. Jika masih saja melontarkan komentar,”Saya tidak tahu apa yang terjadi”, lebih baik lupakan saja mimpi sebagai juara dunia MotoGP 2021.

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing, Maverick Vinales, Yamaha Factory Racing

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing, Maverick Vinales, Yamaha Factory Racing

Foto oleh: Yamaha MotoGP

Beranjak ke Ducati. Tidak lagi mengandalkan pembalap senior, pabrikan Borgo Panigale mengalihkan fokus kepada duo rider belia: Jack Miller dan Francesco Bagnaia. Mungkin tak sedikit yang meragukan kemampuan mereka, tetapi duet keduanya begitu menarik dinanti.

Musim 2020 adalah penampilan terbaik Miller selama berkiprah di kelas premier sejak enam tahun yang lalu. Kendati tidak mencetak kemenangan satu pun, Jackass masih dapat meraup empat podium. Aksinya saat menaklukkan Morbidelli di putaran terakhir Portugal juga menunjukkan levelnya yang telah meningkat.

Sedangkan tandemnya Bagnaia, walau mengalami pasang surut performa, plus dibekap cedera, tetap perlu diakui bahwa dia punya potensi dan talenta. Toh, gelar juara dunia Moto2 2018 sudah cukup membuktikan kapabilitas Pecco.

Kemudian, bergeser ke KTM. Rasanya pantas menunggu gebrakan selanjutnya dari pabrikan Austria ini. Hanya dalam waktu empat tahun, skuad Mattighofen sukses mengacaukan pertarungan barisan depan, yang selama ini dikuasai Honda, Ducati serta Yamaha.

Menurunkan duet pembalap baru: Brad Binder dan Miguel Oliveira, KTM diyakini akan memanfaatkan dengan baik momentum positif yang dimilikinya. Setelah berhasil mencetak tiga kemenangan pada 2020, tentu tak menutup kemungkinan mereka juga membidik titel dunia 2021.

Tak lengkap rasanya jika tidak menyebut Repsol Honda. Cedera patah tulang humerus di lengan kanan boleh saja memaksa Marc Marquez absen semusim penuh. Namun, menengok pencapaian yang terhitung luar biasa dalam delapan tahun terakhir, The Baby Alien masih sangat layak diunggulkan.

Masalahnya, seberapa cepat pembalap Spanyol itu akan cukup fit untuk bersaing memperebutkan podium dan kemenangan, yang bahkan Marquez sendiri tidak tahu jawabannya. Honda pun hanya bisa berharap si pengguna nomor #93 itu kembali ke arena pacuan kuda besi sesegera mungkin.

Marc Marquez, Repsol Honda Team

Marc Marquez, Repsol Honda Team

Foto oleh: Repsol Media

Di sisi lain, pabrikan Jepang kedatangan rider anyar, Pol Espargaro. Lima podium dan peringkat kelima klasemen akhir pada 2020 jelas jadi modal berharga Polyccio dalam mengarungi MotoGP 2021 bersama Honda.

Apakah adik laki-laki Aleix Espargaro itu pantas masuk daftar kandidat juara? Jawabannya, iya. Jika dia mampu menjinakkan RC213V, termasuk mengimbangi agresivitas Marquez, maka terbuka jalan baginya menuju titel bergengsi.

Dan terakhir, jangan lupakan tim-tim satelit. Delapan kemenangan dalam 14 balapan, lima pembalap pada 10 besar klasemen akhir, menjadikan MotoGP 2020 momentum kebangkitan tim-tim satelit.

LCR Honda, Tech3, Petronas SRT, bahkan Avintia Esponsorama Racing adalah skuad yang berpotensi muncul sebagai kuda hitam. Jika pabrikan tak segera memperbaiki kelemahan, maka sangat mungkin tim satelit mengasapi mereka lagi musim ini.

Dari sekian rider satelit, tentunya perhatian utama bakal tertuju pada Rossi. Sebagai pertua di grid, dan sarat pengalaman, The Doctor sudah pasti unggul di atas kertas. Petronas SRT juga bukan tim balap sembarangan.

Satu hal yang perlu dibenahi Rossi, jika masih ingin ikut serta dalam pertarungan kelas premier, adalah mengurangi fokusnya pada hal-hal kecil, serta jangan terlalu sering melakukan evaluasi data agar lebih siap saat balapan.

Valentino Rossi, Petronas Yamaha SRT

Valentino Rossi, Petronas Yamaha SRT

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Kesan Pertama Oliveira bersama Tim Pabrikan KTM Positif

Artikel sebelumnya

Kesan Pertama Oliveira bersama Tim Pabrikan KTM Positif

Artikel berikutnya

Hasil Tes MotoGP Qatar: Yamaha Tercepat, Aprilia Menjanjikan

Hasil Tes MotoGP Qatar: Yamaha Tercepat, Aprilia Menjanjikan
Muat komentar