Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia

Simon: Quartararo Bikin Blunder karena Melewati Batas

Julian Simon menilai dorongan besar untuk mengendarai Yamaha YZR-M1 justru jadi bumerang bagi Fabio Quartararo. Juara bertahan MotoGP itu malah jadi sering celaka.

Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Hingga awal paruh kedua musim ini, Quartararo seolah jadi kandidat juara dunia untuk kedua kalinya. Pembalap Yamaha Factory Racing bahkan memimpin 91 poin atas Francesco Bagnaia di MotoGP Belanda.

Namun, angin mendadak berubah. Misi memetik poin besar menjadi sangat sulit dilakukan. Rider Prancis itu kerap terjatuh dan membuang kans jadi juara.

Sebaliknya, Bagnaia malah kian menjulang dengan perolehan lima kemenangan dalam sembilan seri. Simon yang merupakan analis data Yamaha prihatin dengan jebloknya rapor Quartararo.

“Bagian kedua Kejuaraan Dunia selalu sangat sulit dikelola, terutama untuk pembalap sekelas Quartararo. Dari Yamaha, kami mengharapkan perkembangan seperti hujan di bulan Mei,” katanya kepada DAZN.

“Dia harus berkendara hingga batas dan pada akhirnya, itu yang justru membuatnya melakukan beberapa kesalahan. Untuk ini, kami harus menambahkan bahwa Ducati sangat kuat dan bukan hanya Pecco. Mereka semua di sana dan itu memaksa Anda untuk mengambil risiko.”

Juara dunia 125cc 2009 itu mengapresiasi penampilan luar biasa Quartararo di MotoGP Malaysia. El Diablo memulai dari grid ke-12 dan mampu finis di podium ketiga.

“Di Sepang, Quartararo menunjukkan kalau dia adalah seorang juara dunia,” ucap Simon.

Baca Juga:

Yamaha Factory Racing juga mendapatkan kejutan dari Franco Morbidelli. Pembalap yang dipromosikan dari RNF Racing itu mampu menyelesaikan balapan di urutan ke-10 padahal melakoni double long lap penalty. Rapor ini lebih kedua setelah peringkat ketujuh di Mandalika.

Sayangnya, ia sangat ceroboh menabrak Aleix Espargaro di lap terakhir. Penalti tiga detik membuatnya turun ke P11.

“Franco datang dalam kondisi cedera. Dia pembalap yang sangat analitis. Dia sangat berbeda dari Fabio dan dia selalu mencoba berbagai hal.

“Di Malaysia, kami katakan kepadanya bahwa dia harus keluar dengan motor standar dan jangan menyentuh apa pun. Menjadi fokus dan memberikan versi terbaik darinya,” Simon menandaskan.

Mantan pelatih Maverick Vinales itu juga mengeluhkan elektronik dan paket aerodinamika yang kini seolah sangat dipuja dalam MotoGP.

“Dengan aerodinamika, esensi motor MotoGP seolah hilang. Saya kira titik tengah harus dicapai di mana ini tidak terlalu mempengaruhi, karena setiap kali motor menjadi lebih penting daripada pembalap, maka itu sangat disayangkan,” tuturnya.

“Saya tidak mau mempertanyakan pekerjaan hebat yang dilakukan para insinyur.”

Julian Simon, Yamaha Factory Racing

Julian Simon, Yamaha Factory Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Jarvis Yakin YZR-M1 2023 Bisa Bantu Morbidelli Bangkit
Artikel berikutnya Dua Kali Tes di Jerez, Stefan Bradl Isyaratkan Pembenahan Honda

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia