Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia
Reactions

Tardozzi Akui Ducati Salah Boyong Rossi, tapi Tidak dengan Marquez

Davide Tardozzi, manajer tim pabrikan Ducati, sadar tugasnya lebih berat ketika menyatukan dua juara dunia MotoGP, Francesco Bagnaia dan Marc Marquez. Jika prestasinya digabungkan, mereka mengumpulkan 11 titel.

Marc Marquez, Gresini Racing, Francesco Bagnaia, Ducati Team

Bagnaia y Márquez se abrazan tras la carrera de Jerez 2024

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Hanya satu garasi di era modern balap motor, yaitu Yamaha pada 2016 dengan Valentino Rossi (9) dan Jorge Lorenzo (5), yang memiliki lebih banyak gelar juara dunia (14). Pada musim 2025, Ducati berpeluang mendekati torehan tersebut dengan selusin gelar.

Menyatukan dua pembalap dengan level seperti ini tidak diragukan lagi akan memberikan dampak yang sangat besar, baik dari segi olahraga, media, maupun komersial. Tapi di sisi lain, akan memicu pertarungan dua ego yang sangat besar.

Terlebih lagi ketika pembalap veteran dan paling sukses datang ke "rumah" pembalap yang lebih muda. Sebuah perjalanan yang berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Yamaha saat Lorenzo bergabung dengan Valentino. Apa yang terjadi setelahnya? Ada pembangunan tembok, kepergian yang gagal ke Ducati, comeback ke Yamaha, dan karier yang berakhir dengan lebih banyak bentrokan di luar lintasan daripada di dalam lintasan.

Orang yang bertanggung jawab mengatur suasana sehari-hari adalah Davide Tardozzi, yang sangat populer di kalangan penggemar karena gesturnya di garasi selama balapan.

"Dengan Valentino kami salah memilih waktu, dengan Marc ini adalah pertaruhan yang sama sekali berbeda, baik dari segi teknis maupun manajemen. Marc tahu betul bahwa dia akan masuk ke halaman Bagnaia, dia masuk pelan-pelan," prediksi Tardozzi dalam sebuah wawancara dengan GPone.

Davide Tardozzi, Team manager de Ducati

Davide Tardozzi, manajer tim Ducati.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Meskipun kedatangan Marquez di Ducati telah ditempatkan pada level yang sama dengan kedatangan Valentino pada 2011 atau Jorge Lorenzo di 2017, Tardozzi tidak melihatnya seperti itu.

"Ini adalah taruhan yang sama sekali berbeda, karena persiapan yang kami lakukan hari ini sebagai pabrikan, motor, manajemen dan arahan teknis. Ini adalah kesalahan yang sebenarnya ketika kami membawa Valentino ke Ducati, kami tidak siap. Ducati tidak siap untuk mengelola Valentino Rossi, hari ini kami lebih dari siap," mantan pembalap itu meyakinkan.

Bagi Tardozzi, salah satu kuncinya adalah Marquez harus mengevaluasi dengan cermat fakta bahwa ia akan datang ke garasi di mana Bagnaia yang berancang-ancang menggapai mahkota ketiga.

"Saya juga ingat bahwa kami memiliki juara dunia dua kali. Saat Anda bisa menangani Bagnaia, saya tak melihat mengapa Anda tak bisa menangani Marquez. Ini bukan berarti Pecco lebih rendah,” ucapnya.

Tardozzi membela gaya Pecco dan mencoba untuk menjelaskan apa yang dia inginkan dalam hal perilaku.

"Bagnaia adalah pembalap yang menunjukkan bahwa dia ingin menang, lalu dia melakukannya dengan cara yang paling sopan dan saya mengacu pada apa yang terjadi di luar lintasan," ia menambahkan.

"Pecco tahu kemampuannya, dia percaya pada dirinya sendiri, dia sangat percaya diri dengan motornya dan juga dengan tim. Anda hanya perlu melihat beberapa balapannya untuk memahaminya".

 

Takut merusak suasana di garasi

Dengan enam tahun pengalaman di Ducati, dua tahun pertama di Pramac, Pecco telah menjadi salah satu pembalap terpenting dalam sejarah pabrikan yang bermarkas di Bologna ini. Marquez yang memasuki kerajaan Pecco harus hormat.

"Marc memasuki taman Pecco Bagnaia. Dia telah membuat pernyataan terhadap Pecco yang menyanjung dan bukan hanya untuk membuat dirinya terlihat baik. Ketika Marc berbicara, dia selalu tahu persis apa yang dia katakan, dia tidak pernah berbicara secara asal,” ungkapnya.

“Ketika dia membuat pernyataan, itu adalah kebenaran dan sering kali pernyataan itu juga memiliki tujuan tertentu. Jadi dia adalah orang yang sangat cerdas dan dia akan sangat berhati-hati ketika berbicara kepada kami.

“Saya yakin ia akan melangkah dengan hati-hati dan mencoba memahami cara kami bekerja. Karena di dalam box yang mengatur adalah Ducati, bukan pembalapnya.

Baca Juga:

"Pecco sering mengulangi bahwa dia berharap untuk menjaga keharmonisan yang ada di garasi, jadi perhatiannya adalah agar tidak ada situasi yang dapat merusak atmosfer yang baik di garasi," jelas Tardozzi 10 hari yang lalu, saat penandatanganan kontrak dengan Marquez diumumkan.

"Ini juga menjadi prioritas kami. Kami tidak berpikir bahwa kehadiran Marc bisa menimbulkan masalah di dalam garasi Ducati. Kami yakin kami mampu mengelola dua juara seperti Marc dan Pecco," adalah kalimat yang ingin mereka tunjukkan di Bologna, yang menempatkan Bagnaia sebagai prioritas Ducati di atas segalanya.

"Tentu saja Marc adalah pembalap dengan gelar terbanyak di grid, tetapi ini tidak mengalihkan perhatian kami dari sang juara dunia. Pecco mendapat kepercayaan penuh dari kami, ia telah memberikan panduan untuk pengembangan motor dalam beberapa tahun terakhir.

“Jadi Pecco adalah prioritas kami. Ia lebih diutamakan daripada yang lain. Jadi kami berpikir untuk memberinya rekan setim yang terbaik.”

Mira: 'POR OREJAS' #104: Pol Espargaró, "¿Es Bagnaia mejor que Binder?"

 

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Pol Espargaro: Siapa pun Tak Berhasil Tiru Acosta
Artikel berikutnya Poncharal Gembira Punya Dua Pembalap Pemenang untuk MotoGP 2025

Top Comments

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia