Terungkap, Penyebab Dovizioso Frustrasi di Ducati

Dalam wawancara eksklusif dengan Motorsport.com, Kepala Kru Tim Kawasaki Superbike Pere Riba mengungkapkan apa yang membuat Andrea Dovizioso frustrasi di Ducati.

Terungkap, Penyebab Dovizioso Frustrasi di Ducati

Setelah delapan tahun memperkuat tim pabrikan Ducati, Andrea Dovizioso akhirnya meninggalkan skuad asal Borgo Panigale, Italia, tersebut pada akhir MotoGP 2020 lalu. Ketidakcocokan nilai kontrak menjadi alasan kedua pihak saat itu.

Namun, dalam wawancara dengan Motorsport.com, Kepala Kru Kawasaki Racing Team WorldSBK, Pere Riba, tahu benar apa yang terjadi antara Andrea Dovizioso karena pernah menjadi pembalap.

Masalah antara Dovizioso dengan Ducati terjadi di MotoGP 2019. Saat itu, Dovi tidak puas dengan pengembangan yang dilakukan Ducati terhadap Desmosedici GP19.

Padahal, pembalap asal Italia, 34 tahun, itu tidak pernah bosan menyampaikan kepada Ducati bila kelemahan utama Desmosedici GP adalah performa di tikungan.

Tetapi, General Manager Ducati Corse Luigi Dall’Igna memilih jalan lain dalam mengembangkan motor. Ia lebih berkonsentrasi dengan rekaman data ketimbang masukan dari Dovizioso. Puncak ketegangan keduanya pun berakhir pada 2020 lalu.

Pembalap Superbike dari Kawasaki Racing Team, Jonathan Rea (kanan), bersama kepala krunya, Pere Riba.

Pembalap Superbike dari Kawasaki Racing Team, Jonathan Rea (kanan), bersama kepala krunya, Pere Riba.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Sebagai mantan pembalap, kepala kru juara dunia Superbike enam tahun terakhir, Jonathan Rea, Pere Riba jelas tahu apa yang dirasakan Dovizioso. Pria asal Spanyol itu menilai performa naik-turun Dovizioso di MotoGP 2020 tak lepas dari masalahnya dengan Ducati.

“Saya tahu 100 persen masalah ini,” ujar Riba kepada Motorsport.com. “Dovi selalu bagus dalam beberapa tahu sebelumnya. Tapi di 2020 ia sangat tidak konsisten. Ia kecewa dengan Ducati dan mencoba bilang dirinya tidak bisa mendapatkan feel bagus pada motor.”

Riba menjelaskan, Ducati membuat kesalahan karena tidak mau mendengarkan masukan dari pembalap utamanya dan memilih memprioritaskan data. Sebagai catatan, Dovizioso adalah salah satu pembalap sarat pengalaman di MotoGP saat ini.

Turun sejak 2008, Dovi sudah merasakan performa tiga motor, yakni Honda RC212V (2008-2011), Yamaha YZR-M1 (2012), dan tentu saja Ducati Desemosedici GP (sejak 2013). Karenanya, tidak heran bila Dovi paham betul karakter berbagai jenis motor MotoGP.

Baca Juga:

Utamanya Ducati Desmosedici. Ditambah, torehan terbaik Dovi di MotoGP juga diraih di atas Desmosedici GP, runner-up pada 2017, 2018, dan 2019.  

“Ducati seharusnya mengerti dan membantu untuk menolong Dovizioso mengatas masalahnya. Bukan hanya terpaku pada rekaman data saja,” kata Pere Riba.

Karena masukannya tidak ditanggapi, kepercayaan diri Dovizioso pun hancur. Alih-alih bertarung untuk Ducati seperti yang dilakukan Casey Stoner pada 2011 – masih satu-satunya gelar pembalap Ducati di MotoGP – Dovi justru bersaing di papan tengah di banyak balapan.

“Ketika seorang pembalap sangat percaya diri, akan sangat sulit menghentikannya,” ujar Riba. “Di mata saya, Dovi adalah pembalap yang sangat hebat.”

Andrea Dovizioso kini memilih beristirahat setahun untuk mempersiapkan diri kembali ke MotoGP pada 2022. Kabar terakhir menyebut, Dovizioso siap jika Repsol Honda memanggilnya di MotoGP 2021 untuk menggantikan Marc Marquez yang masih cedera.

  

 

 

dibagikan
komentar
Aprilia Ingin Transformasi Besar-besaran di MotoGP 2021

Artikel sebelumnya

Aprilia Ingin Transformasi Besar-besaran di MotoGP 2021

Artikel berikutnya

LCR Perpanjang Komitmen di MotoGP hingga 2026

LCR Perpanjang Komitmen di MotoGP hingga 2026
Muat komentar