Transformasi Aprilia Menyongsong Era Keemasan

Podium perdana yang dinikmati Aleix Espargaro dalam MotoGP Inggris, punya arti ganda untuk Aprilia Racing Team Gresini. Mereka berhasil membuat motor tangguh dan harus siap kehilangan hak konsesi.

Transformasi Aprilia Menyongsong Era Keemasan

Bagi pabrikan bermarkas Noale, itu adalah podium pertama di era MotoGP. Namun sejatinya, mereka sudah menempatkan pembalap di tiga besar dalam level premier sejak 1997.

Jauh sebelum Espargaro mengangkat trofi pertama, sudah ada tiga nama yang mempersembahkan peringkat ketiga pada kelas 500cc. Mereka adalah Doriano Romboni (Assen 1997), Tetsuya Harada (Le Castellet dan Donington 1999), serta Jeremy McWilliams (Mugello dan Donington 2000).

Penampilan impresif Aprilia berlanjut hingga MotoGP Aragon pekan ini. Espargaro mencatatkan waktu tercepat kedua selama latihan bebas, tapi melorot ke urutan keenam dalam kualifikasi. Jika mampu meningkatkan kecepatan secara konsisten, bukan tak mungkin podium jadi miliknya lagi.

Espargaro punya peran besar dalam kemajuan RS-GP karena perannya sebagai tulang punggung tim. Pria 32 tahun itu merangkap tugas sebagai pembalap utama sekaligus test driver.

Baca Juga:

Pekerjaannya memang tak mudah, tapi dibandingkan awal merintis jauh lebih sulit. Aprilia Racing berpartisipasi di kelas 500cc mulai 1994, setelah menjalankan proyek untuk kejuaraan jalan raya sejak 1985, dimulai dari kategori 125cc.

Butuh banyak perubahan, dari mesin 250cc, lalu 380cc, 430cc dan 460cc. Direktur balap Jan Witteven memperkenalkan mesin V2 dua silinder.

Inovasi itu berbuah kesuksesan Romboni menapak podium perdana untuk tim dalam GP Belanda 1997. Akhir musim itu, mereka memutuskan mundur karena tak punya solusi untuk kurangnya tenaga kala start. Honda meniru desain mesin Aprilia.

Dengan keyakinan penuh, mereka comeback setelah absen setahun dengan menggandeng Tetsuya Hada. Pembalap Jepang itu menunggangi Aprilia RSW-2 500 dan mempersembahkan dua podium. Mereka mundur lagi dari kompetisi tersebut akhir musim 2000.

Skuad yang pernah diperkuat Valentino Rossi, kembali ke arena pada 2002-2004. Mereka membuat RS Cube, 990cc tiga silinder di Cosworth, Inggris.

Pada 2015, Aprilia berpartisipasi dalam MotoGP dengan mesin V4 1000cc, berbasis mesin RSV4 yang dipakai dalam World Superbike. Melihat hasil kurang maksimal, tim lantas memproduksi mesin yang cocok untuk MotoGP dengan sudut silinder 75 derajat.

Mereka tak mau jadi tim kecundang lagi di grid MotoGP. Jadi mesin baru dengan silinder 90 derajat dibangun tahun lalu, di mana idenya mencomot dari motor Ducati, KTM dan Honda.

Seiring berjalannya waktu, Aprilia mampu memangkas jarak dengan para rival. Dengan raihan Espargaro di MotoGP Inggris, mereka kurang lima poin lagi dari kehilangan hak konsesi. Ini artinya mereka tak leluasa bereksperimen dengan mesin.

Manfaat lain dari pemegang konsesi adalah boleh menggelar uji coba dengan pembalap resmi kapan pun, bahkan di luar jadwal IRTA. Pengoleksi 54 kemenangan pada kelas 125cc dan 250cc masih bisa   memakai sembilan mesin dalam satu musim, sedangkan tim lain hanya tujuh. Jatah wild card sebanyak enam atau dua kali lipat dari tim lain.

Aleix Espargaro, Aprilia Racing Team Gresini

Aleix Espargaro, Aprilia Racing Team Gresini

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Tak peduli bakal kehilangan keistimewaan, Espargaro ingin terus mengembangkan RS-GP sehingga mencapai target juara MotoGP 2023.

“Sangat penting bagi saya bahwa Anda tidak berhenti berkembang. Saya kira masih ada ruang untuk itu. Saya naik podium, sangat bagus, tapi target saya berbeda dan jalan ke sana masih panjang,” ujarnya.

“Podium pertama sangat penting bagi saya, tapi paling fundamental adalah stabilitas, lebih kencang setiap sesi dan trek.

“Tentu sulit menjaga level ini. Seandainya kami bisa melakukannya, kami dapat bertarung untuk juara dunia tahun depan. Jika Anda selalu berduel untuk podium, artinya Anda juga mampu memperjuangkan gelar. Saya pikir kami bisa melanjutkan level ini tahun depan juga.”

Bukan hanya kuda besi yang dimutakhirkan, tapi juga line-up pembalap. Sempat kebingungan merayu Andrea Dovizioso supaya mau jadi pendamping Espargaro, pada akhirnya, mereka mendapat aset lebih baik.

Aprilia pun merekrut Maverick Vinales yang memutuskan hubungan dari Yamaha. Harap maklum kalau ia belum bisa tembus papan tengah dalam beberapa putaran ke depan.

Pasalnya, ia belum mengakrabi RS-GP sepenuhnya. Apalagi karakter motor Yamaha dan Aprilia jauh berbeda. Para penggemar perlu sedikit bersabar untuk melihat kemampuan Vinales sebenarnya.

Maverick Vinales, Aprilia Racing Team Gresini

Maverick Vinales, Aprilia Racing Team Gresini

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Valentino Rossi: Tak Mudah Tentukan Ban untuk MotoGP Aragon

Artikel sebelumnya

Valentino Rossi: Tak Mudah Tentukan Ban untuk MotoGP Aragon

Artikel berikutnya

Kesulitan Dana, Valentino Rossi Pastikan VR46 Tampil di MotoGP 2022

Kesulitan Dana, Valentino Rossi Pastikan VR46 Tampil di MotoGP 2022
Muat komentar